Pastor Katolik asal Toraja di Argapura kirim surat khusus kepada Ketua IKT di Mimika

Kepada Yth

Bapak Ketua IKT dan Sekretaris IKT Kabupaten Mimika

Di

Timika

 

Salama’sitammu lan sanganna Puang Yesu

Bapak Ketua dan Sekretaris IKT Kabupaten Mimika yang terhormat, mohon maaf kalau sekiranya kedatangan surat terbuka ini ke hadapan bapak, mengganggu pikiran.

Kami tidak bermaksud untuk mengganggu ketenangan bapak berdua selaku yang “dituakan” oleh warga Toraja di Kabupaten Mimika. Maksud kedatangan surat terbuka ini hanya sekedar untuk mengingatkan agar bapak berdua sebagai yang “dituakan” oleh orang Toraja di Kabupaten Mimika kiranya dalam melangkah atau memutuskan sesuatu, bisa bijaksana serta mempertimbangkan dengan sangat baik, segala sesuatu sebelum mengeluarkan pernyataan yang mengatasnamakan orang Toraja, karena suka tidak suka, apa yang bapak berdua katakan itu akan berdampak pada semua orang Toraja, tidak hanya di Kabupaten Mimika tapi juga orang Toraja lain yang ada di perantauan tanah Papua, yang kita cintai ini.

Surat terbuka ini datang dari seorang anak Toraja yang sejak tahun 1974 atau ketika baru berumur 5 tahun sudah berada di Tanah Papua, tepatnya di kota Kembang Serui. Saya lahir di Tanah Toraja, tepatnya Penanian Pare Limbu, 54 tahun yang lalu. Saya tidak tahu bapak berdua tahun berapa datang di Papua, tapi kiranya tidaklah salah kalau saya berasumsi bahwa, kami lebih lama berada di Papua.

Kiranya kurang bagus kalau saya tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu, sehingga tidak menimbulkan kesan surat terbuka untuk bapak berdua tidak lebih dari surat kaleng yang tidak punya arti. Nama saya adalah Pastor Paul Tumayang Tangdilintin, OFM. Saya sudah kurang lebih 26 tahun bekerja sebagai seorang Pastor Katolik. Rentang waktu 26 tahun itu antara lain saya melayani di daerah Paniai, Timika, Merauke, Wamena dan Jayapura. Sejak tahun 2014 sampai saat ini, saya menjabat sebagai Pastor Paroki St. Petrus dan Paulus Argapura.

Sejujurnya saya tidak begitu kenal bapak berdua, walaupun saya pernah bertugas sebagai Pastor Paroki di Paroki St. Stefanus Sempan Timika dari Februari 2006 sampai September 2009. Saya hanya dengar bahwa bapak Ketua IKT Kabuapten Mimika adalah seorang pengusaha yang kaya dan sukses. Sedangkan Sekretaris, sunguh-sungguh saya tidak kenal.

Bisa jadi bapak berdua bertanya dalam hati, mengapa saya menulis surat terbuka ini kepada bapak berdua. Apalagi saya seorang yang Pastor yang tidak punya hubungan apa-apa dengan bapak berdua: misalnya pasti bapak berdua bukanlah orang Katolik, tidak ada hubungan keluarga, dan lain-lain. Satu-satunya yang mungkin bisa dikatakan “ada hubungan” adalah karena kita sama-sama Suku Toraja yang merantau di Tanah Papua.

Bapak merantau di Timika dan hanya di Timika dan saya berkeliling Papua melayani sebagai seorang hamba Tuhan.

Justru dalam kapasitas saya sebagai seorang Pastor asal suku Toraja yang sejak kecil merantau di tanah Papua, sudah melayani di pelbagai daerah di Papua entah di pesisir maupun di pegunungan, sungguh memahami serta mengerti situasi dan kondisi real Papua, maka saya terdorong untuk menulis surat terbuka ini kepada bapak berdua.

Keterdorongan saya untuk menulis surat terbuka ini kepada bapak berdua, dilatarbelakangi oleh pernyataan yang dimuat secara terbuka ketika deklarasi Provinsi Papua Tengah dan deklarasi Bupati Mimika, Eltinus Omaleng untuk siap maju sebagai Gubernur Papua Tengah. Pernyataan itu dimuat pada baliho dan dipampang di tempat deklarasi. Bunyi pernyataan itu : “ “IKATAN KELUARGA TORAJA MIMIKA MENDUKUNG PEMEKARAN PROPINSI PAPUA TENGAH YANG BERIBUKOTA DI KABUPATEN MIMIKA”, lalu dibawa tulisan itu terpampang foto Yusuf Rombe Pasarrin sebagai ketua IKT dan Matius Sedan sebagai Sekretaris IKT. Dalam waktu singkat pernyataan dari bapak berdua menjadi viral di berbagai medsos seperti group WA, FB, Instagram dan mendapat respon yang luas, termasuk saudara-saudara kita OAP. Sejauh yang saya ikuti, tidak ada satupun dari respons terhadap pernyataan bapak berdua yang mengatasnamakan orang Toraja yang bernada positif.

Semua respons bernada sangat negatif dan pada akhirnya ikut menyeret semua orang Toraja yang tidak tahu apa-apa.

Oleh karena itu, sebagai seorang hamba Tuhan asal suku Toraja yang sudah puluhan tahun hidup dan berkarya di Tanah Papua, saya merasa terdorong untuk membuat surat terbuka ini, sekedar mengingatkan bapak berdua agar berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan yang mengatasnamakan orang Toraja, demi kepentingan pribadi bapak berdua, yang pada akhirnya menimbulkan reaksi yang sangat negetif seakan-akan semua orang Toraja berperilaku seperti bapak berdua. Untuk untuk saya hendak menyampaikan beberapa hal berikut :

1. Saya hendak bertanya kepada bapak berdua: apakah sebelum membuat pernyataan itu sudah mengumpulkan semua orang Toraja yang ada di Kabupaten Mimika untuk menyampaikan maksud dari bapak berdua yaitu mengeluarkan pernyataan dukungan seperti yang dimuat di baliho itu. Atau kalau mengumpulkan semua orang Toraja di Kabupaten Mimika sulit karena sangat banyak dan luas, maka paling tidak mengumpulkan para ketua-ketua kelompok arisan yang ada di kota Timika. Atau kalau juga masih susah, maka dalam lingkup yang lebih kecil, apakah sudah mengumpulkan semua pengurus-pengurus IKT Kabupaten Mimika untuk membicarakan hal ini.

2. Jika hal ini bapak berdua tidak tempuh, maka penyataan bapak berdua itu sangatlah tendensius dan tidaklah salah kalau saya katakana bahwa sarat dengan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.

3. Sebagai orang yang “dituakan” di Kabupaten Mimika hendaklah bapak berdua peka untuk melihat, membaca serta memahami situasi dan kondisi Papua saat ini, secara khusus soal pro – kontra tentang DOB di kalangan para Saudara OAP. Bapak berdua harus bijaksana, karena pernyataan bapa berdua itu sangat berdampak pada semua orang Toraja bukan hanya di Kabupaten Mimika, secara khusus kota Timika tapi juga di Papua secara umum. Jangan pernah sekali-kali menggunakan organisasi IKT untuk kepentingan pribadi atau menyeretnya ke ranah politik praktis.

4. Jujur harus saya katakan, seandainya saya masih tugas di kota Timika, maka sudah pasti saya akan datang menyampaikan protes keras kepada bapak berdua, seperti yang pernah saya lakukan ketika saya masih bertugas di kota Timika, dan ketua IKT saat itu menggunakan jabatannya sebagai ketua IKT untuk mendukung kandidat calon bupati tententu, karena dia tim sukses dari kandidat tersebut dan seorang pengusaha.

5. Membaca reaksi-reaksi yang bertebaran di dunia medsos yang tidak ada satu pun bernada positif, tapi sangat negative bahkan kemudian menyeret semua orang Toraja seperti: ”waii… Toraja sebelum melangkah koreksi dirimu…. Ada hubungan apa Orang Toraja ingin pemekaran di Papua? Kalau mau pemekaran kenapa tidak pulang ke tanah asalmu dan mendukung pemekaran di tanah asalmu? Papua ini Tanah Torajakah”?.

5. Dan masih lagi lagi reaksi-reaksi sinis lainnya yang bapak sendiri bisa cari di medsos. Bapak berdua orang yang cukup terdidik, maka pasti melek dunia digital. Merujuk pada pernyataan-pernyataan negatif ini, maka saya merumuskan ulang pernyataan-pernyataan ini dengan tidak mengatasnamakan orang Toraja, kami orang Toraja pada umumnya termasuk yang ada di Kabupaten Mimika tidak pernah diajak bicara. Maka Saya rumuskan begini : weh … bapak berdua : ketua dan Sekretaris IKT Kabupaten Mimika, ada urusan apa anda berdua mendukung pemekaran DOB Propinsi Papua Tengah dengan ibu kota Timika dengan mengatasnamakan orang toraja ? Siapa yang beri mandate kepada bapak berdua?

6. Kepada saudara-saudara OAP yang merasa terganggu dengan penyataan pribadi dari ketua dan Sekretaris IKT Kabupaten mimika,saya Pastor Paul. Tumayang Tangdilintin, OFM yang sejak umur 5 tahun sudah di tanah Papua, seluruh proses pendidikan dari dasar sampai jadi pastor semuanya saya tempuh di Papua, saya sangat mengerti dan memahami perasaan saudara-saudara sekalian. Oleh karena itu, saya mohon maaf atas pernyataan dari ketua dan sekretaris IKT Kabupaten Mimika ini. Pernyataan kedua orang ini adalah pernyataan pribadi dan bukan penyataan atau sikap semua orang Toraja yang ada di Kabupaten Mimika, dan Papua pada umumnya. Maka kalau mau marah, silahkan. Saya sangat mengerti dan memahami. Tapi hanya satu permintaan saya sebagai seorang Pastor asal suku Toraja: “Jangan marah atau pukul rata semua orang Toraja, silahkan marah dengan oknum ketua dan sekretaris IKT Kabupaten Mimika yang tidak bijaksana dan peka apalagi memahami situasi dn realitas papua saat ini, karena mungkin punya kepentingan pribadi.

7. Kepada semua orang Toraja yang dituakan di seluruh Papua, sebagai seorang pastor asal suku Toraja saya ingatkan bahwa kita orang Toraja adalah pendatang di tanah papua yang datang merantau untuk mengubah hidup agar lebih baik. Karena itu, kalau mau mengeluarkan sebuah penyataan yang mengatasnamakan orang Toraja, harap dipertimbangkan dengan sangat bijaksana karena akan sangat berdampak kepada semua orang orang Toraja. Pepatah mengatakan: “pikir dahulu perkataan, sesal kemudian tiada berguna”. Jangan pernah menyeret organisasi IKT yang merupakan organisasi social ke ranah politik praktis, karena IKT bukan Organisasi Politik. Silahkan berpolik, tapi itu urusan pribadi. Jangan pernah bahwa nama IKT. Contoh dari Ketua dan Sekretaris IKT Kabupaten Mimika bukanlah contoh yang baik. Jangan ditiru.

Demikianlah surat terbuka saya ini, yang ditujukan kepada ketua dan sekretaris IKT Kabupaten Mimika. Mohon maaf kalau surat terbuka saya ini ini, kurang berkenan dihati. Mohon maaf pula kalau mungkin bahasanya dirasakan cukup keras bahkan mungkin kasar. Mari kita hidup di tanah Papua dengan damai, peka, bijaksana dan menghormati serta menghargai saudara-saudara kita OAP sebagai pemilik sah dari tanah ini. Bahwa kita bisa datang hidup di tanah ini, diterima dengan tangan terbuka oleh Saudara-Saudara kita OAP, kita bisa hidup dan bekerja dengan tenang, bahkan banyak yang sukses, itu adalah suatu berkat dari Allah yang disalurkan melalui saudara-saudara kita OAP. Saudara-saudara kita OAP telah menjadi berkat bagi kita perantau asal Toraja di daerah ini. Karena itu kita jangan sekali-kali menyakiti hari saudara-saudara kita OAP. Jangan pula berusaha untuk merampas hak kesulungan mereka. Masa depan Tanah Papua, biarkanlah Orang Asli Papua sendiri yang menentukan.

Tuhan memberkati kita semua.

 

Argapura, 19 Juni 2022

 

P. Paul Tumayang Tangilintin OFM

Pastoran Katolik Argapura

 

No. HP 08114812224

Editor: Admin
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.