Kisah mama Papua jual hasil kebun di depan DPRD Dogiyai

Mama mama di Dogiyai
Suasana sore hari pada Selasa (14/6/2022) saat mama-mama Papua di Dogiyai menunggu pembeli di depan jalan utara jalan trans Nabire-Paniai. - Wagadei/Yulianus Magai

Sore menjelang malam, Mama Martina Iyai menyiapkan hasil kebunnya untuk dijual ke kota. Udara di ibu kota Kabupaten Dogiyai, Papua, petang itu menusuk kulit. 

Namun Mama Iyai tak sedikit pun menggigil. Ia melawan dingin dengan menyalakan api. Kehangatan menenami Mama Iyai di sekitar tungku apinya. 

Keasyikannya merapikan hasil kebun di sekitar tungku api pada Selasa, 26 April 2022, petang itu, membuat Mama Iyai lupa memasak makan malam. Kacang tanah, ubi, keladi, sayuran dan hasil kebun lainnya masih tertata apik bak gelaran jualan di pasar. 

Butuh empat sampai lima bulan tiap tahun baginya untuk mendapatkan hasil-hasil kebun sebanyak itu. Kelak jualannya dijual di depan kantor DPRD Dogiyai di Moanemani.

Setiap hari dia harus berangkat pada pukul 6 pagi dari kampung halamannya di Kampung Bagode, Distrik Mapia, menuju kantor DPRD Dogiyai di Moanemani.

Perjalanan sejauh 40 kilo dari Kampung Bagode membuatnya harus tiba pada pukul 9 atau pukul 10 pagi waktu Papua, di Moanemani. 

Perjalanan ke pasar tak selalu mulus. Ia harus berjalan kaki melalui Kampung Abaimaida, Dawaikunu, dan Kampung Bomamani Kalikasuari, hingga tiba dua sampai empat jam kemudian di Moanemani.

Kadang-kadang dia menumpangi mobil atau motor. Kadang-kadang juga berjalan kaki.

“Kalau saya dapat mobil di jalan masuk Kampung Magode, Distrik Mapia Kabupaten Dogiyai, kalau penumpang dari Kali Teuw penuh berarti saya tunggu mobil kedua. Jadi, tiba di sini jam 10 pagi,” kata Mama Iyai. 

Berbeda jika dirinya menumpangi motor ke Moanemani. Dia tiba di kota ini lebih cepat.

“Kalau pake motor jam 8 sudah tiba di sini,” kata Mama Iyai dengan bahasa daerah Mee logat Mapia. 

Orang-orang Mee di Mapia berbicara dengan menggunakan dua logat. Sebagian berbahasa Kamuu, sebagian lainnya berbahasa Mapia.

Tentu Mama Iyai tak menumpangi kendaraan secara gratis. Dia harus membayar ongkos mobil seharga Rp 200 ribu.

Jika menumpangi mobil dari Magode ke Moanemani biasanya mama-mama Papua ini membayar Rp 50 ribu per orang. Mereka harus membayar Rp 100 ribu per orang jika menumpangi motor.

“Itu harga tetap. Tidak kurang dan tidak lebih,” ujarnya. 

Jika dihitung-hitung, ongkos pulang-pergi dengan mobil ke Moanemani harus menghabiskan Rp 100 ribu. Begitu pula jika menumpangi motor. Dirinya bersama mama Papua lainnya harus menghabiskan Rp 200 ribu tiap hari pulang-pergi ke pasar. 

“Jadi ukur-ukur dengan hasil jualan yang kami dapat, yang untung hanyalah Rp 25 ribu saja,” ujarnya.

Begitu tiba di depan kantor wakil rakyat Kabupaten Dogiyai pada pukul 9 pagi, Mama Martina Iyai langsung menggelar lapak jualan.

Hasil jualannya setiap hari memang tak menentu. Terkadang hanya mendapatkan Rp 200 ribu sehari. 

Pendapatan sebesar itu tak surutkan semangatnya. Dia tekun menjual hasil kebunnya ini sejak tahun 2008. Dia bahkan dapat membiayai keluarga dan pendidikan anak-anaknya.

Tak hanya itu, sesampai di Moanemani, Mama Iyai harus menunggu hasil-hasil kebun itu laku terjual. Setelah hasil kebun laku terjual, dia harus melanjutkan pekerjaan lainnya, menjual noken.

Menariknya Mama Iyai menjual noken keliling kota. Noken-noken anyamannya tersebut digantungkan di leher. Tanpa lelah ia berkeliling kota. Dia berjalan sambil menjual noken.

“Untuk buat noken bahan yang saya gunakan adalah serat kulit kayu yang diambil dari hutan Papua,” kata Mama Martina Iyai.

Mama Papua lainnya yang menjual hasil kebun di depan kantor DPRD Dogiyai adalah Mama Bunai. Dia berasal dari Kampung Gopouya, Distrik Mapia.

Mama Bunai menjual hasil kebun di depan kantor DPRD Dogiyai karena beberapa alasan. Di sini banyak pembeli meski tak ada anggota dewan yang melirik jualannya.

“Ada banyak orang yang singgah di sini untuk membeli jualan kami. Dari Deiyai dan Paniai menuju Nabire,” ujar Mama Bunai.

Dia bercerita bahwa Pemerintah Kabupaten Dogiyai tidak membangun pasar untuk mama-mama di kawasan itu. Mama-mama Papua hanya menjual hasil-hasil kebunnya di “pasar dadakan” di depan kantor para dewan.

“Kami tetap berjualan di sini biar pun kami tadah hujan dan panas, karena banyak pembeli,” kata Mama Bunai dengan bahasa daerah logat Siriwo.

Meski demikian, dia mengakui bahwa Pemerintah Kabupaten Dogiyai memang sudah membangun pasar untuk mama-mama Papua di Topakpo, Distrik Kamuu. Namun, masyarakat lebih memilih berjualan di pinggir-pinggir jalan, di depan DPRD Dogiyai, di pasar Moanemani, daripada menjual hasil kebunnya di Tapakpo.

Alasannya praktis. Mama-mama Papua berjualan di Moanemani karena lokasi ini sangat strategis. Pembeli bahkan datang dari dua kabupaten, yaitu Kabupaten Deiyai dan Kabupaten Paniai. 

“Mereka (pembeli) singgah di jalan dan mudah untuk beli, maka masyarakat senang sekali untuk berjualan di depan jalan trans Paniai-Nabire,” kata Mama Bunai. 

Anggota DPRD Dogiyai dari fraksi PPP, Mikael Kayame ketika ditemui di kantor DPRD Dogiyai berkata, Pemerintah Kabupaten Dogiyai sudah menyiapkan tempat untuk masyarakat Dogiyai di Topakpo, Distrik Kamuu, agar mereka dapat menjual hasil-hasil kebunnya. Sayangnya masyarakat lebih memilih berjualan di pinggiran jalan, emperan dekat terminal Moanemani dan kantor DPRD Dogiyai.

Menurut dia, kawasan ini dianggap lebih strategis untuk jualan, karena dapat dijangkau pembeli dari Kabupaten Paniai dan Deiyai. DPRD Dogiyai bahkan sudah membuat jalan untuk bisa dilalui pedagang atau pembeli dari Paniai dan Deiyai. Jalan itu berlokasi di belakang Pasar Moanemani, karena mama-mama berjualan di jalan raya.

“Tetapi itu tidak berhasil dan mama-mama masih jualan di depan jalan,” kata Kayame. 

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Dogiyai, Petrus Makai tak pernah berada di kantornya ketika disambangi pewarta Wagadei.com. Pewarta media ini bahkan sudah enam kali menghubunginya, untuk memintai komentar terkait keberadaan mama-mama Papua yang berjualan di sekitar kantor DPRD Dogiyai.

Wagadei bahkan meminta komentar staf beliau di kantornya. Akan tetapi, tak satu pun staf di kantor itu yang membuka mulut. Mereka hanya memberi kabar bahwa beliau tak ada di kantor. 

Upaya Wagadei tak berhenti di situ. Makai kemudian berhasil dihubungi pada Selasa kemarin. Petrus Makai mengatakan bahwa pihaknya telah membentuk pansus (panitia khusus) untuk memindahkan pasar Moanemani ke Pasar Baru Ekemanida Moanemani.

“Dalam waktu dekat, paling lama bulan Agustus kami sudah mulai pindah pasar (depan DPRD Dogiyai) ke Pasar Baru, yakni pasar yang sudah kami sediakan,” kata Makai di ruangan kerjanya, Selasa (14/6/2022).

Dia berdalih betapa susahnya mama-mama Papua diarahkan ke Pasar Baru Ekemanida, karena mereka sudah betah berjualan di sekitar DPRD Dogiyai. Lalu pihaknya mendata keseluruhan mama-mama yang berjualan di situ.

Pertama-tama dinasnya mendata mama-mama yang memiliki KTP. Sebanyak 66 orang memiliki KTP, sedangkan 200 orang lainnya tak memiliki KTP.

“Setelah ada ini (data) sudah ada, kami akan bayar mama-mama berupa uang tunai Rp 3 juta. Itu untuk yang punya KTP dulu. Untuk yang tidak punya KTP kami akan bayar, tetapi setengahnya saja,” ujar Makai, sambil menunjukkan fotokopi KTP milik mama-mama di kantornya.

Setelah itu pihaknya akan lebih fokus, untuk mengawasi pemasaran di Dogiyai. Mama-mama tidak akan menjual hasil-hasil kebunnya di luar Kabupaten Dogiyai. (*)

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.