Polisi sempat tangkap 10 siswa SMA/SMK di Nabire, LBH Papua: Itu tidak sesuai prosedur hukum

Jayapura, [WAGADEI] – Sebanyak 10 siswa kelas tiga SMA/SMK di kabupaten Nabire, Papua, saat merayakan hasil kelulusan pada 3 Juni 2022 sempat ditangkap oleh pihak kepolisian setempat. Mereka ditangkap akibat mencoret baju bercorak bendera bintang kejora (BK).

Penangkapan ini dinilai tidak sesuai prosedur hukum oleh direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua, Emanuel Gobai. Menurutnya, penangkapan dilakukan harusnya disertai surat penangkapan.

“Penangkapan dan interogasi terhadap 10 siswa SMA/SMK oleh Polres Nabire selama 15 jam itu, tidak sesuai prosedur hukum. Kenapa? Karena tidak ada surat penangkapan ataupun surat permintaan klarifikasi oleh pihak kepolisian sebelum siswa-siswa ini ditangkap,” tutur Gobai saat dihubungi media ini via seluler, Sabtu (4/6/2021).

Gobai menegaskan, tindakan polisi untuk menangkap, menanyai, menginterogasi seseorang itu ada dasar hukumnya yang termuat dalam undang-undang No.8 tahun 1981.

LBH Papua juga turut menanyakan apa dasar hukum yang melarang seseorang mencoret motif bintang kejora.

“Didalam peraturan pemerintah No.77 tahun 2007 tentang lambang negara itu tidak pernah menyebutkan benda-benda yang bermotif bintang kejora, kecuali bendera bintang kejora. Baju itu kan benda, sebenarnya itu sah-sah saja siswa mengekpresikan kelulusannya dengan mencoret baju bermotif BK,” tegasnya.

Berdasarkan peraturan pemerintah No.77 tahun 2007, kata Gobai, membuktikan kepolisian di Nabire melakukan tindakan yang ilegal terhadap 10 siswa SMA/SMK tersebut.

Che Belanda Edowai, Salah satu siswa yang sempat ditangkap dan diinterogasi menjelaskan, saat ditangkap, mereka tidak menerima surat penangkapan ataupun surat pemanggilan klarifikasi dari pihak kepolisian.

“Kami ditangkap di depan gerbang sekolah SMKN 2 Nabire pukul 18:30. Saat di tangkap, kami tidak ditunjukkan surat penangkapan oleh kepolisian,” akuinya.

Ia juga menjelaskan, ia bersama sembilan teman lainnya ditangkap dan dibawa ke Polres Nabire lalu diinterogasi selama 15 jam.

” Kami di tangkap jam 18:30 tadi malam. Saya orang terakhir yang bebas pukul 10:00 pagi. Sementara 6 lainnya dibebaskan jam 08:00 dan 09:00 pagi tadi,” tuturnya.

Siswa-siswi yang sempat ditangkap dan dimintai keterangan diantaranya, Yanto Edowai, Otto Boma, Che Belanda Edowai, Aten Adii, Yohanes Woruu dan lima teman lainnya.

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.