Pria ini pernah menangis dan puasa untuk IPM MEA

Senior dari Ikatan Pelajar Mahasiswa Megaikebo Adauwo (IPM MEA)
Senior dari Ikatan Pelajar Mahasiswa Megaikebo Adauwo (IPM MEA), Frans U. Magai (kiri jaket hitam) bersama senior lainnya - Wagadei/Musa Dumukoto

Nabire (WAGADEI.COM) – Senior dari Ikatan Pelajar Mahasiswa Megaikebo Adauwo (IPM MEA) Distrik Mapia Tengah, Kabupaten Dogiyai di kota studi Nabire, Papua, Frans U. Magai mengaku pernah menangis dan berpuasa selama dua pekan, karena dari wilayah itu belum ada anak muda yang bersekolah.

Kejadian tahun 2000-an itu dikisahkan Frans Magai dalam rapat pembahasan pembangunan pagar dan aula IPM MEA di Kali Semen SP2, Nabire, Selasa (26/4/2022).

“Saya pernah bertanya kepada rekan saya apakah ada orang Megaikebo Adauwo yang sedang menempuh pendidikan di Jayapura? Namun jawabannya tidak ada seorang pun yang ada. Langsung saya naik ke tempat puasa lalu selama dua minggu saya berdoa,” kata Magai dalam pembahasan serba-serbi di Nabire.

Dia mengaku bahwa doa dan puasanya pun kini terjawab, sebab dari wilayah Meepago, terutama dari IPM MEA sudah ada calon-calon generasi muda yang bersekolah dan kelak menjadi pemimpin andal.

Magai merasa bersyukur kepada Allah karena doa dan puasanya satu demi satu terwujud. Kini banyak anak muda dari daerah itu yang bersekolah di beberapa kota studi.

“Saya sangat bersyukur kepada Allah karena hasil puasa saya telah dikabulkan oleh Tuhan, sehingga adik-adik saya sudah bisa bertanggung jawab dalam [menyelesaikan] suatu masalah melalui persatuan organisasi ini,” katanya.

Senior lainnya, Timotius Mote yang juga mantan anggota TNI AD mengaku sangat bangga terhadap IPM MEA yang selalu bergerak dalam bidang kegiatan apa pun.

“Saya ingin sumbang dana besar, tapi saya sudah keluar dari pengusaha,” kata Mote.

Mantan kepala sekolah SD YPPGI (Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Gereja-Gereja Injili) Adauwo, Yosias Boma menceritakan kondisi pendidikan di Megaikebo Adauwo.  

Boma mengatakan, SD YPPGI Adauwo didirikan sejak lama, tetapi hingga kini belum ada perubahan, karena terkendala faktor pembangunan infrastruktur dan ulayat.

“Setelah saya menjabat sebagai kepala sekolah lalu saya sudah pindahkan [sekolah di] tempat lain akhirnya ada banyak yang telah selesai. Hingga kini sudah banyak senior maupun pelajar/mahasiswa,” ujar Boma.

Dia pun berpesan agar pelajar dan mahasiswa yang tergabung dalam IPM MEA berani dan aktif dalam organisasi, serta bergerak di berbagai bidang, untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. []

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.