Mayat Model Papua di Apartemen Jakarta

  • Bagikan
Ilustrasi Orpa, Pabuta dan Leo - Nomen Design/wagadei.com

ORPA, baru saja memenangan kontes Puteri 2015. Tapi sebelumnya, ia sudah berkenalan atau jadian dengan Pabuta, pria yang memiliki pekerjaan tetap di Jakarta seperti usaha hotel, restoran dan ruko. Pabuta, pria peranakan Papua – Bandung, mamanya asal Bandung dan Bapaknya dari Sentani, Papua, nenek dari mamanya orang Tionghoa yang kaya di wilayah DKI Jakarta. Pabuta kehilangan Mamanya di usia empat tahun dan kehilangan Bapaknya di usia lima tahun. Pabuta besar dengan neneknya di Jakarta hingga dewasa. Orpa dan Pabuta pertama kali berkenalan melalui media sosial (medsos) yakni aplikasi Instagram (IG) pada pertengahan tahun 2019. Setelah Orpa dan Pabuta saling kenal, Pabuta sering mengajak Orpa makan di restoran miliknya yang berlokasi di Jakarta Pusat.

Pertama kali Pabuta ajak Orpa, mereka hanya makan lalu pulang. Pabuta mengantar Orpa di Apartemen Kalibata. Sampai di Apartemen, Orpa memantau dinding medsosnya Pabuta, Orpa penasan karena Pabuta selalu menjemput Orpa dengan modil BMW i8. Orpa ketemu beberapa foto bersama dengan teman laki-laki namanya Leo dan Pabuta di sebuah restoran dan di lapangan basket; Leo, pria asli Ambon, tapi kelahiran Biak, Papua. Leo pernah menjadi pacarnya Orpa, sekarang tidak dan menjadi teman dekat.

“Leo di mana? Saya perlu sama kau?,” tanya Orpa melalui DM Instagram setelah Orpa memantau media sosial Pabuta selama 30 menit lamanya.

“Saya di McDonald Sarina,” jawab Leo singkat.

“Saya datang, tunggu ya,” balas Orpa. Dua menit berlalu, Orpa sudah dalam taksi online, Grab. Perjalanan dalam taksi, Orpa terus memantau semua media sosial Pabuta, Orpa juga ketemu foto Pabuta kebanyakan di luar negeri dan beberapa mobil mewah dan motor. Orpa semakin penasaran. Masuk McDonald’s Leo tidak ada. Orpa menelpon Leo.

“Kamu di mana, saya sudah di McDonald’s?,” tanya Orpa.

“Saya di penginapan, hotel Ibis, kamu ke sini saja,” ajak Leo.

“Okey,” balas Orpa sambil ia keluar dari McDonald’s.

“Lante 13 kamar nomor 444,” balas Leo.

Belum lima menit, bunyi bel pintu, Leo membuka pintu. Orpa duduk di kursi samping tempat tidur, Leo duduk di ranjang. Sama-sama menonton TV.

“Mandi dulu ya,” ucap Leo sambil berjalan ke kamar mandi.

“Silahkan,” singkat Orpa sambil ia memeriksa handphone-nya dalam tas.

Leo mengoles sabun seluruh tubuh. Senjata V Leo membengkak, entahlah pikir Leo. Selesai. Handuk putih di tubuh, menutup wajah senjata V yang membengkak dari pikiran, hanya kolor hitam di bungkus handuk putih. Leo pria asli Ambon, lahir dan besar di pulau Biak, rumahnya di kompleks Amroben itu sudah lima tahun di Jakarta. Ya, dia merantau setelah orang tuanya kembali dari Biak ke kampung Ambon. Hanya satu tahun di Ambon setelah tamat Sekolah Menengah Atas (SMA) di Biak. Leo bekerja di stasiun TV terbesar di Indonesia, Kompas TV namanya sambil menyelesaikan kuliah karena dua tahun tunda karena kekurangan biaya. Dan kini ia sudah satu tahun lebih bekerja.

Belum mengenakan baju, Leo duduk di tempat ranjang. Beberapa menit kemudian Leo berdiri mengunci pintu lebih baik lagi. Leo kembali, berdiri depan tempat Orpa duduk, Leo menarik tangan Orpa naik di atas ranjang.

“Leo saya tidak suka, cukup! Leo, saya ketemu kamu untuk bertanya, tidak untuk berbuat begini,” jelas Orpa berusaha melepas tangan Leo.

“Ia, mari baring-baring dulu,” balas Leo. Leo berhasil menidurkan Orpa di atas ranjang. Tangannya sudah gerak.

“Tunggu Leo, saya tanya dulu,” balas Orpa tergesa-gesa membuang pelukan Leo.

“Tunggu sebentar,” balas Leo, Orpa terdiam dalam sentuhan Leo bagian intim. Orpa dalam lemah, berpasrah, tiba-tiba Orpa mengiginkan seperti Leo, terjadi beberapa gaya, hampir setengah jam, Orpa berkeringat basah, sama juga dengan Leo. Ya selesai sudah. Orpa dan Leo berbaring lemah. 30 menit lebih berbaring.

“Leo, kamu hanya teman, kenapa kamu selalu ada keinginan sama saya,” tanya Orpa di balik, berbaring menyamping membelakangi Leo.

“Sudahlah Orpa, kamu itu cantik, wajahmu menarik. Mau tanya apa?,” talas Leo dalam berbaring, Leo genggam handphone, Orpa juga, sama-sama masih di atas ranjang.

“Kenal Pabuta?, dia baikkah?,” tanya Orpa.

“Orpa mau jadian dengan Pabuta?,” tnya Leo.

“Kita baru kenal (berkenalan), kemarin baru jalan-jalan. Diia ajak makan di Senayan, restauran elit,” jelas Orpa menceritakan pertemuanya.

“Pabuta teman saya. Dia baik dan banyak uang, punya banyak usaha, warisan dari neneknya orang Tionghoa, wanita kaya. Dia orang Papua dari Sentani, mamanya orang Bandung, Jawa Barat,” cerita Leo, menjelaskan tentang Pabuta sejauh ia kenal.

Leo kenal Pabuta pertama di lapangan Basket ball Senayan. Leo diajak Pabuta, bermain dari timnya di IBL 2014, mereka menjadi teman selama di Jakarta.

“Trus apa lagi?!,” balas Orpa sambil bangun dari ranjang, sedikit gemas campur senang, Orpa merasa bahagia bisa berkenalan dengan Pabuta, pria Papua yang kaya di Jakarta.

“Dia cerdas juga, S2 di Universitas Indonesia program studi Manajemen Bussiness. Dia hidup di lingkungan pesantren waktu kecil, pisah dengan orang di Papua umur lima tahun. Dia selalu merindukan bapaknya di Papua, tapi neneknya selalu melarang, neneknya sudah lansia (lanjut usia), sekarang umur 92 tahun. Mamanya gantung diri karena ulah mamanya. Dia cinta Papua dan dia bangga sekali menjadi orang Papua. Ada satu kasus, waktu kami sparing Basket di Jakarta Timur, satu pemain dari tim lawan rasis kepada teman kami dari Papua, asal gunung, Pabuta langsung hajar pelaku rasis sampai dia mempolisikan, sekarang di penjara. Pabuta bayar polisi agar pelaku rasis dihukum sesuai peraturan perundang-undangan di Indonesia,” cerita Leo kepada Orpa.

Sambil asyik cerita, Smartphonenya Orpa bunyi chat WhatsApp. Ternyata dari Pabuta, begini bunyinya; “Orpa lagi di mana, yuk kita makan”. Orpa langsung tunjukkan ke Leo, Orpa gegas untuk pergi bertemu Pabuta.

“Di McDonald Sarinah, ketemu di mana?,” balas Orpa sambil ia gegas mandi. Masuk kamar mandi.

“Tunggu di sana, saya jemput,” balas Pabuta.

Di atas ranjang, Orpa dan Leo banyak diam setelahnya selain Orpa bertanya tentang Pabuta. Satu jam lebih. Bunyi air di kamar mandi terdengar keluar, Orpa sudah mandi, Orpa meminta shampoo miliknya dalam tas, karena lupa bawah masuk ke kamar mandi. Leo mengantar. Leo masih telanjang, hanya handuk di badan. Leo masuk dalam kamar mandi membawah shampoo sekalian mandi, Leo dan Orpa mandi sama-sama. Kamar mandi menjadi ranjang, dogy style, basah di badan, seperti orang bertepuk tangan, suara kecil dari Orpa.

“Leo cepat, saya harus pergi, ah..ah..ah, “Orpa, matanya menikmati ejakulasi, Leo semakin cepat dengan suara balasan singkat.

“Ia…. Sedikit lagi sayang”. Air krang masih menyala, tidak lama lagi sudah mengakhiri pertunjukkan terakhir itu. Leo masih mandi, Orpa sudah keluar dan pergi. Tiga kali panggilan tak terjawab dari Pabuta; bunyi WA, kamu di mana Orpa? Di bagian mana?. Orpa tak membalas, ia bergegas keluar, hanya 20 meter antara Hotel Ibis dan McDonald. Pabuta sudah melihat Orpa keluar dari Hotel dari depan McDonald.

“Saya ketemu teman di sebelah, maaf lama,” sahut Orpa setelah masuk dalam mobil Jeep hitam milik Pabuta.

“Oh…. Ia tidak papa,” balas Pabuta, senyum.

Mobil Jeep melaju arah Senayang Jakarta, tentunya menuju ke restauran milik Pabuta. Sambil makan Orpa dan Pabuta bercerita. Pabuta bercerita tentang semua bisnis neneknya hingga mamanya orang Jawa Barat yang mencintai Papua karena bapaknya. Pabuta lanjut bercerita tentang bapaknya yang sudah lama tidak pernah bertemu sejak lima tahun, bercerita hingga bola matanya berair. Bersedih.

Pabuta bercerita nangis cucur kata-kata dari bapaknya. “Jangan pernah lupa Tanah Papua, pelajari tentang Papua dan ingat sejarahnya, apapun yang terjadi, kau adalah Orang Papua berkulit hitam dari Negeri Cendrawasih,” pesan bapaknya Pabuta waktu masih bocah lima tahun di samping danau Sentani.

Sudah satu tahun Pabuta dan Orpa bersama, sudah jadian menjadi suami istri, akan menikah. Mereka berdua sering berlibur keluar Negeri tapi Orpa masih tinggal di Apartemen Kalibata, Pabuta kadang bermain ke Apartemennya. Setelah sekian lama, Pabuta tahu kalau Orpa pernah berpacaran dengan Leo.

Pabuta sedang keluar Negeri, Orpa sedang syuting iklan di Jakarta Timur. Sudah satu minggu Pabuta di luar di Filipina. Setiap kali Pabuta dan Orpa bersama, Pabuta selalu cerita tentang Papua dan masalahnya, Pabuta cinta Papua, Orpa selalu hanya mendengarkan.

“Orpa besok ketemu, persiapan menjadi narasumber di Kompas TV,” kata Leo kepada Orpa melalui sambungan telepon.

“Yang benar Leo, serius?,” balas Orpa sedikit kaget campur senang.

“Iya benar, ketemu sudah kita bicarakan, saya tunggu di McDonald,” balas Leo.

“Okey, tapi jangan bilang di Hotel Ibis lagi, saya sudah dengan Pabuta,” balas Orpa.

“Saya tunggu, cepat,” ingkat Leo. Sudah menunggu di McDonald tapi ia bergerak ke Hotel Ibis, tempat biasa Leo dan Orpa tidur.

Orpa sampai di McDonald, membuka handphone, ada pesan dari Leo.

“Saya di sebelah tempat biasa, kamar 1023,” bunyi wastapp.

“Oke tapi jangan aneh-aneh Leo,” balas Orpa sambil ia berjalan masuk Hotel.

Bunyi pintu, Leo sudah menunggu depan pintu, Leo langsung menyambut Orpa dalam pelukan, langsung mencium nafsu di bibir hingga leher. Orpa tak menolak, ia ikut melepas tas depan pintu, memeluk Leo dengan keras, Orpa juga rindu sebagian dari tubuh Leo, Leo melepas seluruh pakaian Orpa, sudah bersama tanpa busana, depan pintu sampin toilet dengan gaya berdiri. 20 menit lamanya, ya selesai sudah, mimpi Leo terwujud. Duduk dan mereka dua diskusi, besok malam Orpa diundang jadi narasumber Kompas TV, bicara tentang Papua.

30 menit diskusi Orpa pamit pulang untuk persiapan besok, sampai di pintu Leo menahan Orpa, menarik hingga di atas ranjang, Orpa tak menolak, berbaring lemah menikmati lagi sentuhan Leo bagian intim, napas sendak-sendak tanda asiknya dunia hasrat. Leo telah selesaikan. Perempuan lembut cantik, berambut Mie Goreng itu keluar dari kamar 1023. Di lorong, lantai 10 ada dua orang klinik service sedang memperbaiki lampu. Mereka melihat Orpa keluar dengan cepat dari kamar. Rambutnya berhamburan di wajah. Dengan cepat menuju tangga lift.

“Leo kenapa kamu selalu begitu sama saya, padahal saya sudah punya Pabuta,” DM Orpa ke Leo dari dalam taksi Grab.

“Maaf Orpa, setiap lihat kamu, saya selalu bergairah, kamu juga pasti sama seperti saya,” balas Leo sambil menonton TV di kamar hotel.

“Kok tahu?,” balas Orpa dengan stiker emoji senyum.

“Kkkhhhmmm, saya tahu kamu menikmati,” balas Leo.

Pabuta di Filipina, dua hari lagi akan balik ke Jakarta. Pabuta sudah bayar tim untuk awasi ruang gerak Orpa, ada Cyber dari Kepolisian dan Telkomsel. Semua hasil komunikasi Leo dan Orpa sudah dikrim oleh tim yang ia bayar. Orpa sudah menelpon Pabuta buka Kompas TV pukul 21.00 WIB, bahwa ia akan berbicara tentang Papua. Tentunya berkaitan dengan isu Politik Papua saat ini dan sejarahnya. Acara sudah mulai, Orpa berdebat dengan seorang non Papua yang bicara tentang Papua dari pandangan hukum, Orpa membantah dengan tegas, katanya Orpa lebih tahu karena Dia orang Papua. Pabuta tutup TV sebelum acara usai, Pabuta marah kepada Orpa.

Dua hari setelahnya, media sosial ramai dengan perdebatan Orpa dengan wanita non Papua. Banyak orang Papua mengecam perspektif Orpa tentang Papua. Pabuta marah lapis malu, Orpa menelpon namun Pabuta tidak pernah merespon. Beberapa teman Pabuta yang tinggal di Papua mengirim pesan ke Pabuta; “Kawan ko pacar kenapa di Kompas TV?, kawan pacar modelmu bagus ya?, kawan kamu ajar pacarmu tentang Papua baik, jangan jual Papua di Jakarta”.

Pabuta tidak punya kata-kata lagi untuk membalas semua itu. Ia hanya merenung malu dan marah kepada pacarnya Orpa. Pabuta tidak jadi berangkat ke Jakarta. Ia lebih memilih tinggal lama di Filipina. Pabuta putus komunitas dengan Orpa semenjak ia melihat semua komunikasi Orpa dan Leo, tambah lagi Orpa dan Papua di Kompas TV. Satu minggu lebih putus.

Dua minggu berlalu, Pabuta masih di Filipina. Hari selasa, manajemen Apartemen menginformasikan di media bahwa pihaknya telah menemukan mayat menggantungkan diri di kamar nomor 12, lantai 18. Media online dan TV ramai dengan berita kematian sosok wanita gantung diri di Apartemen itu.

“Model asal Papua, dengan identitas bernama Orpa, berjenis kelas perempuan gantung diri di kamar Apartemen Jakarta,” suara berita di saluran Metro TV.

“Model asal Papua bunuh diri di kamar Apartemen,” suara berita TV di saluran TVOne.

Nasibmu kini Orpa, selesai sudah mimpi besar masa depanmu akibat ulahmu sendiri. (*)

 

Cerita fiksi ini ditulis oleh Nomensen Douw, wartawan wagadei.com, tinggal di tepian teluk Saireri. Mohon maaf jika ada kesamaan tokoh, lokasi dan waktu yang sama.

banner 120x600
  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *