Relevansi Krisis Kemanusiaan Papua dalam Pandangan Jean Paul Sartre, Nausea

  • Bagikan
Marius Goo

Oleh: Marius Goo

Jean Paul Sartre menegaskan bahwa krisis makna manusia akan terjadi ababila ia tidak menemukan lagi satu motivasi atau satu arti yang masih membuatnya melihat pijar cahaya harapan. Krisis ini persis terjadi bila orang sampai ke titik jenih bersama, yang disebutnya “nausea”. Nausea merupakan keadaan kering kerontang. Nausea terjadi drastis manakala seperti salah satu mempelai pengantin dikabarkan tewas kecelakaan lalu lintas, di mana semua suasana: hiasan, bunga-bunga akan hancur teronggok, apabila manusia-manusia jatuh lemas karena makna yang mau dicapai tidak terjadi.

Keadaan “nausea” inilah keadaan krisis keringnya, tidak ditemui lagi motivasi dan makna pendorong hidup. Nausea Sartre merupakan nausea dasyat, stragis dan menggoncang basis eksistensi. Yang dialami manusia kecil-kecil dan banyak adalah “nausea” kecil yang berwajah jenuh, loyo, acuh dan sorot mata suram karena frustrasi, kecewa lantaran terjadi jurang antara ideal (cita-cita) dengan realitas yang kejam.

Krisis Eksistensi Manusia Papua di hadapan Kerusakan Alam

Krisis ekologi sangat parah terjadi di tanah Papua. Alam Papua dipandang sekaligus didekati hanya dari sudut pandang ekonomis, sebatas untung ruginya saja. Tanah dijual-belikan, batu dijual-belikan, pohon dan rotan pun diuangkan semuanya.

Tanah Papua hampir di semua tempat telah dibuka kebun kelapa sawit. Dengan membuka perusahan kelapa sawit tidak sedikit habitat yang dihancurkan. Termasuk perusahaan raksasa berkelas PT. Freeport Timika yang telah merusak lingkungan alam.

Kerusakan lingkungan alam membuat aksistensi manusia Papua menuai krisis. Krisis kemanusiaan Papua tidak seperti yang didefinisikan Sartre dengan ”nausea” karena tidak dirasakan dampaknya secara langusung, namun sangat berbahaya dan berpotensi merusakan eksistensi manusia Papua. Di mana manusia Papua kehilangan habitat, sebagaimana dalam bahasa Pastoral Keuskupan Timika, “kerusakan Tungku Api Kehidupan”, atau Dapur kehidupan yang mengolah dan memberikan makanan kepada manusia.

Krisis Eksistensi Manusia Papua di hadapan Keamanan

Kemanusiaan Papua di hadapan keamanan Indonesia (militer) terlihat tidak bernilai. Pandangan Sartre “nausea” persis dialami manusia Papua di sini, di hadapan militer. Perasaan kecewa campur frustrasi dan depresi menghantui manusia Papua. Rasa-rasa manusia Papua putus asa dan kehilangan masa depan.

Dalam banyak kesempatan rakyat Papua menyerukan “demiliterisasi” di tanah Papua. Mereka meminta agar militer “organik maupun non organik” harus diterik dari Papua. Dalam bahasa Natalis Pigai mantan KomNas HAM RI, bahwa di Papua terjadi “Securitisasi” secara berlebih, di mana melaluinya tercipta di hati rakyat Papua suatu “phobia”. Hingga kini, rakyat Papua tidak hanya takut pada militer, tetapi juga membencinya. Bagi rakyat Papua, militer identik dengan “pembunuh”, sebab melalui video, bahkan secara lansung menyaksikan peristiwa penembakan di mana-mana, akhir-akhir ini di Intan Jaya dan Pegunungan Bintang.

Krisis Eksistensi Manusia Papua di hadapan Negara

Manusia Papua dalam kehidupan bernegara merasa bukan bagian dari Negara Indonesia. Apa pun alasan, rakyat Papua hingga kini tidak merasa bahwa mereka adalah warga negara Indonesia. Orang Papua merasakan krisis kemanusiaan yang sangat dasyat dalam Negara. Orang Papua merasa Negara tidak peduli pada kemanusiaan Papua, sebaliknya hanya menginginkan kekayaan alam Papua: dalam bahasa P. DR. Nelles Kebadaby Tebay Pr, “demi emas, masnya dikorbankan”.

Ada pun alasan orang Papua mengalami krisis kemanusiaan di dalam pemerintahan RI:

Pertama, pemerintah Pusat membohongi rakyat Papua. Pemerintah telah lama membohongi rakyat Papua. Aneka bentuk kebohongan disampaikan kepada rakyat Papua demi mempertahankan NKRI harga mati. Bahkan kebohongan itu dibarengi dengan kejahatan kemanusiaan.

Kedua, terjadi pembiaran terhadap rakyat Papua. Hingga kini dari semua propinsi di Indonesia, Propinsi dengan indeks kemiskinan tertinggi adalah Papua. Di era Otsus, rakyat Papua menjadi yang termiskin di Indonesia. Kemiskinan itu menyebabkan kelaparan dan kematian.

Ketiga, terjadi kekerasan negara terhadap rakyat Papua. Negara melalui keamanan atau militer telah melancarkan kejahatan kemanusiaan. Demi mengejar, memburu dan menghabiskan rakyat Papua, negara menyetujui dan mengesahkan undang-undang terorisme. Negara memberikan steriotip untuk mengejar dan menghabiskan rakyat Papua dengan labelisasi dan stigma yang tidak sesuai fakta.

Krisis eksistensi manusia Papua makin menuai absurditas, hampir menjadi jelas untuk kepunahan ras Melanesia-Papua. Alam Papua yang menyimpan aneka misteri dihancurkan secara lansung dan tidak langsung, secara halus maupun kasar. Di depan mata, alam Papua dirampas dan diambil alih oleh orang-orang bukan pemilik. Rakyat Papua hidup di tanah Papua seperti orang asing. Segala sesuatu dikuasai oleh orang pendatang, mulai dari pemerintah hingga kuli bangungan dan cleaning sevice. Orang Papua makin disingkirkan dan suaranya dibungkam.

Bagi rakyat Papua, yang masih tersisa diharapkan tidak patah semangat, tidak cepat putus asa dan putus harapan. Pecaya pada harapan dan cita-cita yang akan bersinar, bagaikan sang bintang kejora di saat malam kelam. Apa pun krisis, percaya pada diri dan perjuangan. Berdirikari dan mandiri di tanah sendiri menghadapi aneka pergolakan.

*) Penulis adalah Dosen STK “Touye Paapaa”, Deiyai

 

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *