Opini  

Tanpa Alasan dan Kepastian

Warga sipil Intan Jaya didampingi anggota TNI tandu Mama Agustina Hondau (24) yang ditembak di kampung Mamba pada Selasa, (9/11/2021) - Ist

Lirihnya rintihan sang malam

mengalun di antara rindangnya dahan

Menatap pekatnya langit malam yang kian terlihat suram

Tanpa keindahan gemerlap cahaya bintang dan rembulan

Tergerus derasnya curahan hujan yang telah mencurahkan butiran air mata kesedihan

 

Memapah beratnya beban kepiluan yang tertahan

Tuk menutupi luka dan duka yang merintih dalam tangis kepiluan

 

Biarlah ku terus berjalan di antara rinainya hujan darah

Agar tiada seorangpun yang tahu

Bahwa buliran bening di mataku

Telah mengalirkan derasnya tangisan

Merintih pilu di kegelapan

 

Menanti redahnya hujan yang akan menyelimuti keresahan

Melangkah terarah menelusuri lorong kegelapan

Tuk menjemput asa yang sempat tertinggal di persimpangan

Meramu sendu dalam desah pilunya rintihan

Ketika teringat kala situasi yang tak mendukung, meninggalkanku tanpa alasan kepastian

 

Rintihan dan isak tangisan kian pilu memeluk bathinku

Seakan membelenggu segala rasaku yang kini tertawan di ruang kalbu

Biarlah kunikmati kesedihan bersama lirihnya suara tangisan yang tertahan

Agar air mata darah negeri tak lagi membuat lautan duka terus mengalirkan air mata penyesalan

 

Mencoba belajar lebih memahami arti ketabahan

Tuk mengikhlaskan panas yang membara dengan hati dipenuhi kesabaran

 

Berharap esok hari semua luka akan sirnah tertutupi pelangi yang indah

Penuh dengan berbagai macam aneka warna kehidupan

Yang akan menjadikannya cahaya keabadian penuh dengan keindahan (*)

 

Yabansai, (10/11/2021)

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.