Opini  

Melahirkan Dr. Neles Kebadabi ‘baru’ dari rahim literasi di Papua

Pater Neles Tebai
Pater Dr. Neles Kebadabi Tebai - Wagadei/satuharapan.com

Oleh: Siorus Degei

Tidak dapat dinafikan bahwa pasca kepergian Pater Dr. Neles Kebadabi Tebai konflik di Papua mulai pecah secara marathon. Serupa sebuah rumah yang diporak-porandakan oleh binatang buas dan dijarah oleh pencuri, lantaran rumah tersebut tak berpagar dan tidak memiliki sekuriti.

Pulau Papua juga pasca kepergian Neles mulai merebak konflik-konflik raksasa. Kita sebut saja rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya pada 16 Agustus 2019 yang menyebabkan amukan massa di seluruh Papua. Dua kota besar, yakni Manokwari dan Jayapura menjadi ruang amukan massa yang heboh akibat rasisme di Surabaya.. Syukurlah sebab kasus ini bisa reda, walau proses peradilannya cukup cacat.

Bahkan jauh setelah proses penyelesaiannya, Juru Bicara Nasional KNPB Pusat, Victor Yeimo ditangkap oleh Satgas Nemangkawi yang dituduh sebagai tersangka kasus amuk massa di Jayapura tahun 2019.

Selain itu muncul juga rentetan tragedi kemanusiaan, semisal kasus Maybrat, Kiwirok, Ndugama, Intan Jaya, Yahukimo, Puncak Jaya, dan tragedi-tragedi lainnya. Jika kita berkaca pada pengalaman Papua sebelum meninggalnya Pater Neles, sangat jarang sekali terjadi kasus-kasus besar seperti ini. Sekalipun ada pasti kasus tersebut dapat diusut tuntas oleh lembaga independen, walau selalu nihil ketika sampai di hadapan Kementerian Politik Hukum dan HAM RI, semisal tujuh konflik besar dan pelanggaran HAM berat di Papua, tragedi Wamena 2001, kasus Wasior Juni 2001, peristiwa Wamena April 2003, tragedi Uncen pada Maret 2006, tragedi Paniai Desember 2014, aksi tolak rasis 2019, dan pembunuhan Pdt. Yeremia Zanambani.

Namun begitulah, Pater Neles merupakan pagar bagi kedamaian Papua yang berhasil diruntuhkan oleh kejahatan dan kekerasan. Maka pada tahap seperti inilah, di mana Papua terus bergejolak, kita rindu suara-suara Pater Neles yang selalu mempropagandakan perdamaian di surat-surat kabar, baik lokal, nasional, maupun internasional, dan melalui komentar-komentar di Pax Christi, seminar, diskusi, dan sarana kampanye damai lainnya.

Siapa itu Neles? Ia adalah imam projo Keuskupan Jayapura yang telah menyelesaikan studi doktoralnya dalam bidang Misisologi di Universitas Urbaniana Vatikan-Roma pada 21 Maret 2006 dengan disertasi doktoralnya yang berjudul: “The Reconciling Mission Of the Church in West Papua in the Light of Reconciling et Paenitentiae” atau “Misi Perdamaian Gereja di Papua Barat dalam Terang Pengampunan dan Penitensi”. Dipresentasikan di hadapan tiga penguji: Prof. Gianfrancesco, Prof. Paul Stefan dan Prof. Benedic Canacappally. Pater Neles adalah doktor pertama imam asli Papua dalam Gereja Katolik Roma.

Istilah kata ‘kebadabi’ artinya orang yang membuka jalan atau orang yang merintis jalan. Nama ini berasal dari dan diberikan oleh suku Mee pada perayaan pentahbisan imamatnya di Paroki St. Yohanes Pemandi Waghete, pada tahun 1992.

Menurut Pater Neles sendiri saat ditahbiskan menjadi seorang imam, saat itu tidak ada ayat kitab suci yang menginspirasi dan menjadi moto tahbisan sebagaimana biasanya. Namun nama adat ‘Kebadabi’ yang diberikan oleh keluarga itulah yang menjadi spirit dan moto imamatnya.

Dan memang hal ini sangat nampak dalam kehidupan imamatnya. Ia tercatat sebagai imam pertama dari Papua yang studi di Filipina dan Roma, dan setelah beliau mulai lahir imam-imam Papua lainnya yang berstudi di Filipina, Roma, dan belahan dunia lainnya.

Selain itu spiritualitas nama ‘Kebadabi’ ini pun nampak dalam perjuangannya menciptakan perdamaian di dunia, khususnya antara pihak Jakarta-Papua melalui “dialog damai” demi kepentingan kedua belah pihak dan demi perdamaian semua orang. Walau mengalami dan menggumuli maju-mundurnya perjuangan, akhirnya dialog damai itu hingga hari ini menjadi win-win solution yang bermartabat.  Si Pembuka Jalan ini meninggal di usia 55 tahun di Rumah Sakit St. Carolus Boromeus Jakarta,  Minggu, 14 April 2019, pukul 12: 13 WIB. Ironisnya dialog wasiat Sang Kebadabi itu belum juga terealisasi hingga hari ini.

Selepas kepergian Pater Neles, semua seakan-akan galau dan sulit move on, terlebih orang-orang dekatnya. Sosok serupa Neles dianggap langka dan butuh seleksi alam yang cukup lama, untuk melahirkan sosok-sosok seperti beliau.

Pater Neles merupakan seorang cendekiawan terbaik yang dimiliki oleh Indonesia, khususnya Papua. Dengan bangga dan terhormat beliau dapat disejajarkan dengan tokoh-tokoh nasional, seperti Mgr. Soegijapranata, Romo Mangunwijaya, Romo Nicolaus Driyarkara, Gus Dur, Nurcholis Madjid, dan lain-lain, yang dharma baktinya membumi.

Namun sebenarnya tidak menutup kemungkinan untuk melahirkan Neles-Neles baru. Ada banyak hal bisa dioptimalkan demi melahirkan Neles-Neles baru. Perlu diketahui bahwa untuk menjadi Neles tidak perlu generasi Papua diwajibkan untuk berbondong-bondong masuk seminari dan ditahbiskan menjadi imam.

Namun apa yang menjadi roh atau spirit yang khas Neles itulah, yang mesti dianut oleh setiap pribadi yang menjadi Neles-Neles lain atau alter nelesian, yakni semangat literasinya yang konsisten; membaca, berdiskusi, menulis, dan eksekusi/aplikasi.

Neles sebagai “manusia buku”

Pater Neles bukan hanya “kutu buku” melainkan juga “manusia buku”. Mengapa demikan? Sebab selama hidupnya, khususnya masa-masa studinya di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur Abepura, Papua, Filipina, dan Roma, bahkan selama berkarya di Papua, Pater Neles tidak dapat dilepaskan dari buku.

Buku dan Neles bak sepasang sayap cenderawasih. Sejak mahasiswa ia dikenal sebagai “orang kamar” yaitu sosok yang selalu tekun berada dalam kamar untuk belajar, belajar, dan belajar; membaca dan membedah buku. Bahkan di kamar tidur sejak mahasiswa hingga bertugas di STFT Fajar Timur hampir semuanya terlihat bak lautan buku, Gudang buku-buku ‘emas’.

Di Setiap sudut kamar selalu eksis tumpukan buku/perpus mini, tempat tidur tidak besar, hanya berukuran satu badan, sisanya hanya buku-buku. Tidak heran ia dikenal sebagai intelektual terkemuka dari Papua, sebab seluruh hidupnya ia habiskan bersama buku. Dia adalah “manusia buku” dari Papua.

Neles sebagai “manusia dialog”

Selain giat membaca buku, Pater Neles juga giat berdiskusi. Hal ini sangat terlihat jelas dari upayanya mendorong dialog Jakarta-Papua. Neles merupakan sosok yang menjunjung tinggi nilai-nilai komunikasi, diskursus, dialektika dan musyawarah untuk mufakat.

Neles percaya bahwa tidak ada persoalan atau masalah yang bisa diselesaikan dengan kekerasan dan peperangan, sebab itu hanya akan melahirkan kekerasan-kekerasan baru lagi. Sebaliknya, semua masalah dan persoalan dapat diselesaikan dan dicarikan jalan keluar terbaik secara damai hanya melalui sebuah diskusi atau dialog damai.

Oleh karena itu, sejak 2009 Pater Neles mendirikan Jaringan Damai Papua dan memperjuangkan dialog damai antara pemerintah pusat di Jakarta dengan orang Papua (Jakrta-Papu).

Selain itu Pater Neles juga sering dimintai oleh kalangan luas sebagai pembicara/speakers pada berbagai seminar, diskusi, kuliah, dan sarasehan lintas agama, universitas, keuskupan, ELSHAM, pemerintah, dan lain-lain.

Ia juga vokal dalam komentar-komentar kemanusian dan perdamaian di Asia-Pasifik melalui Pax Christi. Sayangnya dialog ini belum juga terealisasi, seakan tersekam dalam jalan sunyi.

Neles sebagai “manusia pena dan kertas”

Neles juga dikenal sebagai seorang penulis hebat yang aktif dan produktif dengan ide-ide brilian. Apa yang telah ia baca dan diskusikan ia tuangkan dalam tulisan-tulisan, baik itu dalam rupa buku, jurnal ilmiah, dan artikel atau opini, maupun refleksi ilmiah di media cetak dan online, baik lokal, maupun media nasional, bahkan internasional.

Dalam sehari Pater Neles bisa menghasilkan dua sampai tiga tulisan yang di-share ke publik, bahkan berdasarkan kesaksian James Modouw, mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Provinsi Papua, bahwa tulisan-tulisan Pater Neles sering dijumpai di majalah Oxford University. Neles adalah orang yang menjelajahi dunia dari dalam kamar.

Dalam kunjungannya ke STFT Fajar Timur pada Oktober 2019, Uskup Timika alm Mgr. John Philip Saklil sambil melihat makam Pater Neles sempat berceletuk, “Nai, ko cepat sekali pergi, padahal ko tu dari mahasiswa sampai imam tu tra pernah jalan sembarang  bikin kacau, hanya tinggal tadudu dalam kamar saja. Tong yang waktu itu kepala batu bajalan sembarang saja masih hidup dan sehat-sehat saja, sayang nai selamat beristirahat dalam damai Tuhan.” Rupanya kalimat Bapa Tungku Api Kehidupan Bangsa Papua itu pun merupakan kata terakhir kepada Neles sahabatnya.

Kumpulan tulisan Pater Neles yang dimuat dalam surat-surat kabar nasional maupun lokal telah dibukukan oleh Institut Dialog Antar-Imam di Indonesia atau Interfidei sebanyak tiga buku; pertama, Angkat Pena Untuk Dialog Papua: Kumpulan Artikel Opini Tentang Dialog Jakarta-Papua Tahun 2001-2011, terbit 2013; Kedua, Bersama-Sama Mencari Solusi Untuk Papua Damai: Bunga Rampai Dialog Dan Perdamaian Papua Tahun 2013-2017, terbit 2013; dan buku ketiga yang diprakarsai oleh Interfidei sendiri yakni, 100 Orang Indonesia Angkat Pena Demi Dialog Papua, terbit 2013, merupakan salah satu wujud ekspresi orang Indonesia, dari Aceh sampai Papua yang bersolider atas penderitaan panjang orang Papua karena lilitan kekerasan, stigma, dan berbagai bentuk intimidasi yang tidak habis-habisnya hingga kini.

Selain itu, ada juga buku pertama Pater Neles terkait Dialog Jakarta-Papua yang diterbitkan oleh SKPC Jayapura pada 2009, yakni Dialog Jakarta-Papua: Sebuah Perspektif Papua. Buku-buku tersebut tapi juga tulisan-tulisan Neles di berbagai media besar menunjukkan bahwa Neles merupakan seorang penulis cemerlang dari Papua dengan ide brilian yang langka.

Neles sebagai “eksekutor bonum commune

Perjuangan Pater Neles tidak purna hanya dengan menulis buku terkait dialog dan perdamaian di Papua. Namun lebih dari itu, ia juga turut merealisasikan konsep dialog itu dalam realitas kehidupan dengan getol memperjuangkan terselenggaranya dialog damai Jakarta-Papua. Maka langkah-langkah konkret yang ia tempuh ialah mendekati, membuat percaya, menyamakan persepsi terkait dialog, dan mempertemukan pihak-pihak yang menjadi aktor dalam dialog. Ia juga mengadakan sosialisasi, seminar dan diskusi lintasagama, perguruan tinggi, ELSHAM, hingga di tingkat masyarakat akar rumput.

Pendeknya demi mewujudkan “Papua Tanah Damai” Neles menempuh berbagai metode, cara, dan strategi. Puji Tuhan kata dialog sendiri akhirnya keluar dari mulut Presiden SBY, Neles dipilih sebagai mediator dari Papua dan alm. Dr. Muridan Widjojo, peneliti senior dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sekaligus editor buku Papua Road Map (2009) ditunjuk oleh Presiden SBY sebagai mediator dari pihak Jakarta.

Kedua pejuang perdamaian yang langka di Indonesia ini menempuh berbagai cara, guna membujuk pihak-pihak yang menjadi aktor konflik Jakarta-Papua, untuk berdialog bersama secara damai. Namun sangat disayangkan sebelum cita-cita mulia dua “nabi perdamaian” ini terwujud Tuhan lebih dulu memanggil mereka. Alhasil hingga detik ini dialog masih tergantung menjadi wacana dan rencana, sehingga dialog mesti menjadi fokus perjuangan semua pihak demi  “Papua Tanah Damai”.

Jadi, empat kekhasan Pater Neles di atas mau menjawab pertanyaan siapa itu Pater Dr. Neles Kebadabi Tebai? Beliau adalah “manusia buku, manusia dialog damai, manusia pena dan kertas, dan eksekutor bonum commune”. Singkatnya Neles merupakan imam, nabi, dan ‘tonawi‘ perdamaian.

Berikut beberapa upaya agar semangat literasi Neles ini menjadi ‘rahim’ untuk melahirkan Neles-Neles baru di Papua.

Pertama, perlu ada lapak baca, taman baca, barak literasi, dan tempat-tempat baca lainnya di tujuh wilayah adat Papua, mulai dari kampung hingga provinsi, yang diperuntukkan bagi khalayak umum.

Hal ini bisa diperhatikan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua, Kepala Perpustakaan Pemerintah Provinsi Papua dan sejumlah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Syukurlah telah terbentuk Komunitas Sastra Papua atau Kosapa dan Gerakan Papua Mengajar atau GPM yang digagas oleh Agsutinus Kadepa dan kawan-kawan, dan komunitas literasi sipil lainnya.

Komunitas-komunutas semacam ini bisa dijadikan partner pemerintah dan komunitas swasta, dalam menyalakan api literasi di Papua secara utuh, penuh, dan menyeluruh;

Kedua, selain sebagai tempat baca, tempat-tempat itu pun dapat dijadikan sebagai tempat diskusi semacam Indonesia Lawyers Club. Apa yang telah pengunjung baca bisa didiskusikan secara langsung dengan elegan tanpa aturan yang ketat. Singkatnya selain sebagai habitat baca, tempat-tempat itu pun dapat menjadi habitat diskusi;

Ketiga, Pemerintah Provinsi Papua, dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Biro Perpustakaan Daerah, dan komunitas swasta lainnya, bisa menggandeng komunitas Ner Writing  yang digagas oleh seorang penulis muda asli Papua, Nunias Selegani, yang mencita-citakan lahirnya 100 orang penulis muda asli Papua pada 2022. Hal ini bisa ditempuh sebagai peluang untuk melahirkan penulis-penulis hebat sebagaimana Neles;

Keempat, perlu ada ruang di mana ide-ide cemerlang yang telah dituangkan oleh para penulis muda Papua itu direalisasikan dalam kehidupan nyata. Agar kaum muda kita tidak saja dilatih untuk menjadi “manusia buku” “orator andal” dan “penulis brillian” tetapi juga mampu menjadi “eksekutor bonum commune” atau orang yang mewujudkan karsa dalam karya, orang yang menyatakan iman dalam tindakan. Tidak harus PNS, guru, dokter, dosen, dan lainnya yang lazim selama ini, tetapi bagaimana mereka tampil mengharumkan nama Papua dengan talenta yang telah dianugerahkan oleh Tuhan.

Dengan demikian, pertanyaan-pertanyaan reflektif tapi juga kritis, miris dan ironis seperti, adakah sosok-sosok yang menyerupai Pater Neles Tebai di Papua, siapakah sosok Neles Tebai yang lain di Papua dan kita jawab, bahwa sejatinya semua orang adalah Neles bila mulai detik ini empat buah manis dari pohon kehidupan Neles, yakni membaca, berdiskusi, menulis, dan eksekusi/aplikasi dijadikan sebagai habitus baru dalam diri.

Hanya dengan jalan mengikuti teladan hidup Neles saja, sedikit-banyaknya kita mampu menjadi Neles-Neles baru. Tidak harus masuk Katolik, dibaptis, atau menjadi imam untuk menyerupai Neles, cukup semangat literasi yang telah ia tunjukkan itu yang diteruskan, terlebih khusus oleh generasi milenial Papua. (*)

Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur Abepura, Papua

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.