Opini  

Diskursus Terkait Kerusakan Lingkungan Hidup Papua

Marius Goo, S.S., M.Fil, Dosen STK Touye Paapa Deiyai - Yamoye'AB/wagadei.com

Oleh: Marius Goo, S.S., M.Fil

KEPADA Tuhan Pencipta alam Papua izinkan kami menyampaikan realitas kehancuran tanah Papua. Bahwa, terlihat semua manusia di Papua, baik orang pribumi maupun orang pendatang melihat dan sekaligus mengukur tanah Papua dari nilai ekonomis (untung-ruginya) saja. Di samping setiap orang Papua menebang kayu (pohon) untuk tungku api di rumah (khusus rumah yang bertungku api).

Faktor-faktor penyebab lingkungan alam Papua dirusakan, yakni:

Pertama, memenuhi kebutuhan rumah tanggal, untuk pengambilan kayu bakar. Terlihat orang Papua tidak peka, yakni tidak hanya mengambil kayu bakar yang sudah kering, namun sering mengambil atau membabat pohon-pohon kecil yang masih mau tumbuh dan berkembang. Orang Papua yang berrumah tungku api tidak sadar bahwa kayu api dibutuhkan diwaktu mendatang pula. Di sini perlu digaris bawahi dan diingatkan kepada orang Papua, jika mengambil kayu bakar, jangan memotong atau menghabiskan pohon-pohon kasih di samping yang masih mau tumbuh, demi masa depan anak cucu.

Kedua, pembakaran hutan. Di Papua terlihat sekaligus dialami bahwa krisis lingkungan hidup akibat pembakaran hutan dialami di mana-mana. Pembakaran hutan dilakukan terlebih kaum mudah yang belum memiliki kesadaran ekologis. Pembakaran hutan selalu membawa dampak buruk bagi seluruh ekosistem yang hidup di sana, termasuk mengganggu kehidupan manusia. Di sini pun, kepada mereka yang sering membakar hutan maupun rawah dengan korek api untuk segera berhenti membakarnya demi menyambut manusia masa depan secara penuh tanggung jawab dan terhormat. Menghormati kehidupan anak cucu masa depan hanya dengan menerimanya dalam keutuhan lingkungan hidup yang terpelihara keperawanannya.

Ketiga, pembabatan hutan secara liar (ilegal logging). Bahwa pembabatan hutan Papua terjadi di mana-mana. Yang selalu membabat hutan Papua adalah para pemodal (perusahaan-perusahaan). Misalnya perusahaan kayu (para kuli bangunan). Hanya mengambil satu pohon, pohon kecil di samping diratakan, dipotong tanpa memperhitungkan kebutuhannya di masa depan. Selain itu, perusahan kelapa sawit. Melalui perusahan kelapa sawit hampir di seluruh tanah Papua tidak sedikit hutan Papua yang dibongkar tanpa ampun. Kaum pemodal Sawit demi uang merusak alam (lingkungan hidup) Papua secara kasar dan tak bertanggung jawab dan dihancurkan hampir ratusan bahkan ribuan hektar tanah. Hampir ratusan perusahan Sawit Sadang beroperasi di Papua baik yang berbadan hukum, maupun yang tidak berbadan hukum.

Keempat, pengambilan material, mineral dan tambang emas. Perusahaan tambang emas, pengambilan materi dan mineral juga telah merusak alam Papua. Perusahan ini mengeruk isi bumi Papua sambil menyebarkan limbah tailing, yang pada akhirnya mengkerdilkan pertumbuhan habitat di sekitarnya. Penggalian emas, tembaga, nikel, minyak bumi, dan lainnya, memperlambat, sekaligus menghambat kehidupan dan pertumbuhan ekosistem. Perusahaan membawa mimpi buruk atau dampak buruk bagi lingkungan hidup yang pada akhirnya kehidupan manusia pun menjadi penuh tanda tanya. Antara kenyamanan dan kegelisahan, antara keutuhan dan kerusakan antara kesegaran dan kepenatan.

Akibat buruk dari perusakan lingkungan hidup
Dengan merusak alam, tidak sedikit dampak atau akibat buruk yang dialami:

Pertama, untuk kaum pemodal. Di sini dengan penuh keyakinan dan kesadaran, kami orang Papua yang memiliki hubungan “antopomorfisme”, sekaligus “imanensi” mau mengatakan kepada kaum pemodal (perusahaan-perusahaan) yang beroperasi di lapangan hutan Papua, yang Sadang merusak alam Papua tanpa kenal kesakralan, perawatan dan keutuhan ciptaan Tuhan selamat menanggung dosa yang tak terampuni, untukmu dan untuk anak cucumu. Di juga secara bertanggung jawab kami pemilik hak Ulayat mengutuk kamu, para pemilik alam Papua, bersama leluhur Papua juga Allah bangsa Papua mengutuk keras perlakuan anda yang merusak alam Papua hanya demi duit semata. Kami tanggungkan penderitaan bangsa Papua dipindakmu, anda selamat memikulnya.

Kedua, untuk orang Papua sebagai pemilik hak Ulayat. Bahwa kini orang Papua sedang bermimpi buruk. Orang Papua telah kehilangan masa depan yang gemilang. Di samping tanah dijual, sebagian tanah dirampas, diambil alih dengan dalil kepentingan pemerintahan (negara). Orang Papua telah kehilangan segalanya: hutannya, tanahnya, masa depannya. Akibat buruk orang Papua masa depan adalah mereka tidak memiliki tanah, lingkungan hidup yang utuh dan alami. Orang Papua masa depan tidak akan menghidup udara segara, melainkan udara berlimbah, udara kotor yang penuh dengan asap perusahaan.

Mereka akan kepanasan karena tidak akan berteduh di bawah pohon. Intinya, dengan perusakan dan pembabatan hutan secara tak bertanggung jawab, telah membuka penderitaan bagi rakyat bangsa Papua.
Ketiga, untuk ekosistemnya. Bahwa perusakan lingkungan hidup telah merusak ekosistem yang ada di dalamnya. Semua ekosistem telah kehilangan habitatnya. Ekosistem yang berlindung di bawah Pohon, di dalam pohon, di dedaunan kehilangan tempat tinggal dan tempat mencari makan-minum. Karena itu, dengan kerusakan lingkungan alam, musnah pula kehidupan mereka.

Tindakan penyelamatan

Melihat realitas ini, orang Papua maupun orang pendatang tidak dapat berpangku tangan, namun mesti ada jalan keluar yang diambil:

Pertama, perlu adanya rekonsiliasi. Orang Papua yang telah mempraktekan tindakan perusakan lingkungan hidup baik secara langsung (membakar atau membabat hutan) maupun tidak langsung (mengambil uang perusahaan, menjual tanah) untuk segera melakukan tindakan pengakuan, penyesalan dan pertobatan. Bertobat atas tindakan melukai alam dan membangun niat untuk tidak menjual lagi, atau tidak merusak lagi.

Kedua, melakukan sosialisasi penyelamatan lingkungan hidup. Orang Papua membuka panggung-panggung bebas, ruang-ruang akademisi dalam memperdebatkan upaya penyelamatan lingkungan hidup. Menyelamatkan lingkungan hidup, mempertahankan keutuhan lingkungan hidup harus menjadi “kesadaran dan tindakan bersama”. Kekompakan dan salidaritas orang Papua untuk menyelamatkan hutan Papua yang adalah “paru-paru dunia” sangatlah penting dan mendesak. Karena itu, semua dan setiap orang memiliki tanggung jawab untuk mengingatkan sesama yang lain, agar tidak merusak alam.

Ketiga, mengambil tindakan konkrit penyelamatan lingkungan hidup. Untuk menyelamatkan lingkungan hidup Papua, harus ada tindakan konkrit yang tersistem, terstruktur dan terorganisir. Bahwa tindakan penyelamatan lingkungan alam Papua harus menjadi tindak bersama semua komponen dan lapisan masyarakat. Sebab manusia hidup tidak bisa hanya dengan tenologi canggih, melainkan juga dengan lingkungan alam yang alami dan utuh.

Untuk itu, tindakan konkrit yang perlu dilakukan selanjutnya,
1. Membangun sebuah gerakan tidak menjual tanah.

2. Membangun gerakan tidak merusak lingkungan alam.

3. Membangun gerakan tidak izin buka perusahaan.

4. Membangun gerakan tungku api kehidupan.

Gerakan “Tungku Api Kehidupan” sebagai Solusi Penyelamatan Lingkungan
Gerakan “Tungku Api Kehidupan” dicangkan Gereja Kontekstual Papua yang diprakarsai Keuskupan Timika, di bawah pimpinan almarhum Uskup Jhon Philip Saklil. Beberapa isi pesan terpenting yang terkandung di dalam Gerakan “Tungku Api Kehidupan” ialah, gerakan tidak menjual tanah. Tidak menjual tanah dengan konsekuensi “mengolah tanah”. Yakni, setiap orang Papua wajib kerja: mengolah dusunnya masing-masing. Setiap manusia Papua ada di dusunnya membuat rumah pribadi, membuat kebun, membuat pagar dan kandang ternak.

Gerakan Tungku Api Kehidupan dimaknai oleh Gereja Dekenat Paniai, yang kemudian terpecah menjadi dua dengan Dekenat Tigi melalui “Odaa-Owadaa”. Odaa Owaada merupakan ajaran leluhur orang Mee, hidup dalam kesempurnaan dan keutuhan di tengah ketersediaan sumber-sumber makanan. Penemuan identitas Ke-Mee-an, di mana manusia menemukan dirinya bersama, alam, lelutuhur dan Tuhannya.

Karena itu, orang Papua harus dan wajib memandang tanah Papua dalam konteks odaa-owadaa. Bahwa tanah Papua adalah “Tungku Api Kehidupan”, atau tungku api keluarga. Di mana hanya melalui dan dengan tanah manusia Papua memperoleh makan dan minum. Alam telah menyediakan makanan dan minuman. Tanpa alam, manusia Papua tidak berarti. Dalam usaha penemuan jati diri kePapuaan, sekali lagi: berhenti merusak alam Papua sebagai “tungku api kehidupan” dan sekaligus semua orang Papua mempunyai tanggung jawab untuk menjaga, merawat, memelihara dan mengolah demi kehidupan manusia Papua kini dan anak cucu masa depan.

*) Penulis adalah Dosen STK Touye Paapa Deiyai, Keuskupan Timika

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.