Buku seorang bukan guru yang sangat cinta pendidikan dilaunching di Jayapura

  • Bagikan
Mahasiswa dan akademisi berpose usai melaunching buku "Pendidikan Pertama di Suku Wano" bersama penulis Roberthus Yewen, Minggu (7/11/2021) di Jayapura - Yulianus Magai/Wagadei.

Jayapura, (WAGADEI) – Wartawan Cendrawasi Pos (cepos) sekaligus dosen di Universitas Cendrawasih (Uncen) Jayapura, Roberthus Yewen melaunching buku berjudul “Pendidikan Pertama di Suku Wano”, Minggu (7/11/2021), di Kesusteran Maranatha, Perumnas 1, Waena, Kota Jayapura

Buku yang diterbitkannya itu menceritakan dedikasi para guru dan seorang yang bukan guru serta kebiasaan hidup anak-anak murid suku Wano di kampung Wokongdoma, distrik Luwo, kabupaten Punjak Jaya, Papua.

Yewen, dalam acara beda bukunya mengatakan buku diterbitkan tidak terlepas dari cerita para guru yang mendedikasikan sepenuh hidup dan segala ilmu untuk anak-anak generasi penerus Papua di daerah-daerah terpencil, khususnya di kampung Wokongdoma.

Salah satu guru yang diceritakan bernama pak guru Andi. Kata Yewen, pak guru Andi adalah salah satu guru anak mudah Papua yang sangat hebat, yang memilih hidupnya untuk mengajar.

“Dia (pak guru Andi) belum ditetapkan sebagai guru. Tapi karena kepeduliannya untuk pendidikan di Papua sangat tinggi, ia merelakan hidupnya sepenuh hati untuk bergerak mengajar,” ujarnya.

Sedangkan tentang hidup anak-anak Wano yang diceritakan, bagaimana kebiasaan mereka yang mengajarkan cara menghargai, menghormati, membagi cinta, jujur dan tanggung jawab.

“Itu yang anak-anak suku Wano ajarkan kepada kita. Dan itu semua telah terselib abadi dalam buku ini,” bebernya.

Dengan adanya cerita-cerita tersebut, Yewen berharap semoga kehadiran bukunya memberikan semangat dan mengetok pintu hati setiap orang yang peduli dengan pendidikan agar dapat bekerja sungguh-sungguh dan transparan.

Hengky Yeimo, Koordinator Sastra Papua (Kosapa), mengatakan di era yang moderat ini buku tersebut dapat dijadikan sebagai rujukan untuk merefreksikan kembali potret pendidikan di Papua.

“Artinya, pemerintah disini harus punya peran besar untuk sekarang membuat pelayanan pendidikan yang utuh di kampung-kampung. Salah satu caranya, pemerintah bisa kerja sama dengan komunitas-komunitas diluar sekokah yang ada, seperti Gerakan Papua Mengajar (GPM), Cermin dan lainnya untuk melakukan pelayanan pendidikan ,” harapnya.

Yeimo pun mengapresi buku ditulis Yewen. Katanya, sangat menginspirasi karena telah menuliskan kisah seorang guru yang bukan sebagai guru tetapi kecintaan kepada pendidikan sangat luar biasa.

“Karena daerah yang pak guru Andi ajar itu adalah daerah yang sudah disentuh pendidikan lama dari tahun 1960an tetapi terputus. Dan sekarang andi ini telah menjadi penolong pandidikan di sana,” tuturnya.

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *