Relevansi Pemikiran “Neles Tebai” Tentang “Dialog Damai” Dalam Kurikulum Pendidikan Karakter di Papua

  • Bagikan

Pastor. NelesKebadabi Tebai, Pr

Oleh: Siorus Degei*

Siapa yang tidak kenal dengan P.Neles Kebadabi Tebai? Sebagian besar dari antara kita barangkali sudah sangat mengenalnya. Dan kita pun memiliki persepsi yang beraneka ragam tentang Sosok Neles Tebai. Ada yang mengenalnya sebagai Imam yang humoris dan murah senyuman, sebagai pejuang perdamaian melalui dialog damai, ada yang mengenalnya sebagai dosen dan bapa, sebagai intelektual hebat, penulis birlian, dan lain sebagainya. Pendeknya, pandangan kita terhadap sosok Neles Tebai beraneka ragam itu sesuai subejktivitas dan objektivitas kita. Namun kita semua setuju bahwa Neles Tebai merupakan seorang yang sangat inspiratif, (https://id.wikipedia.org/wiki/Neles_Tebay, Senin, 25-10-2021, Pukul. 20:40 WIT).

Teramat langka untuk menemukan sosok-sosok seperti Pater Neles ini. Memang ada banyak imam, intelektual, aktivis HAM, penulis, dan pembawa damai seperti Pater Neles. Namun, yang memiliki konsistensi dan Passion dalam perjuangan menciptakan perdamaian seperti beliau masih membutuhkan waktu yang teramat lama. Tetapi bukan berarti hal itu mustahil, Neles-Neles baru dapat dicetak di Republik ini, khususnya di Papua. Tidak perluh seorang menjadi imam atau intelektual untuk menjadi Neles Tebai, tetapi cukup bahwa ia memahami, menghayati, mendamali, menggumuli, dan mengamali spiritual kedamaian yang terpancar dari sosok Neles Tebai itu. Bagaimana caranya?

Salah satu langka yang paling sederhana ialah mengabadikan pemikiran-pemikiran Neles Tebai dalam iklim, habitus, dan ekosistem kurikulum pendidikan karakter di Indonesia, khususnya. Dengan begini pelan tapi pasti akan muncul Neles-Neles Tebai yang baru, sehingga untuk menjadi Neles Tebai seorang tidak perluh menjadi Katolik, menjadi Imam dan orang hebat seperti beliau. Neles Tebai bukan milik Gereja Katolik, mililk Keuskupan Jayapura, milik STFT “Fajar Timur”, milik Suku Mee, milik marga Tebai, milik Papua. Singkatnya Neles bukan milik oknum atau komunitas tertentu, tetapi Neles adalah milik semua orang dan semua komunitas tanpa batas apa pun. Hal sangat jelas sebab selama hidupnya Neles Tebai tampil secara universal demi kebaikan universal.

Maka untuk menjadi Neles-Neles baru paling kurang spiritualitas kedamaian dan konsistensi misinya menjadi bagian dari semangat dan spirit kita. Hal ini bisa dicapai melaui beragam cara, salah satu caranya melalui sarana-sarana tranfer ilmu seperti Keluaraga, Agama, Pendidikan baik formal maupun nonformal. Perluh ada sebuah Pendidikan karakter yang berkaca dari pemikiran Neles Tebai, khsusnya Dialog Damai sebagai Etika Sosial.

Yang mesti diketahui ialah bahwa pemikiran Neles Tebai soal dialog damai itu bukan sebuah metode yang hanya relevansi untuk memediasi konflii Jakarta-Papua (Tebai, 2009:1). Arti dan makna Dialog damai yang dipromosikan oleh Neles ini multi-makan, multi-fungsi, dan multi-manfaat. Dialog ini sangat relevan dalam keseluruhan dimensi kehindupan manusia. Sehingg pemikiran birlian dari putra terbaik bangsa dan Negara seperti ini mesti di abadikan, terutama di Papua. Jangan sampai karena Dialog Damai sering dikonotasikan sebagai gerakan Papua Merdeka sehingga dengan begitu pemikiran tersebut menjadi tabu dan hilang bersama Neles di liang kubur. Tetapi sebaliknya, dialog damai tersebut adalah sebuah tawaran pengetahuan yang amat mahal, kaya, dan luhur.

Ada bebrapa hal yang bisa menjadi perhatian bersama untuk mengabadikan pemikiran Neles Tebai dalam kurikulum pendidikan krakter di Indoneisa-Papua sebagai sebuah Etika Sosial Baru, yaitu; pertama, biografi Neles Tebai mesti dikenal, terutama spiritualisnya. Bukan berarti kita mau mengultiskan sosok Neles Tebai. Tetapi, sebagimana biasanya bahwa sebelum mempelajari seorang tokoh, maka paling kurang profil biografsi dari sosok tersebut mesti dikenal. Karena sering kali pemikiran sosok tersebut dipengarhi juga oleh kepribadiannya dan sejarah hidupnya. Objektivitas seorang tokoh selaluh koheren dengan subjektivitasnya. Perluh ada buku, monument, dan flim tentang Neles Tebai sebagai tokoh perdamaian Papua. Barangkali tokoh-tokoh seperti; Tom Wanggai, Nicolais Jouwe, Tehys Eluai, Agus A. Alua, RD. Nato Gobai, Aronld Upp, dan tokoh-tokoh ternama lainnya juga mendapakan perhatian yang sama. Hal perluh sebab belangankan ini banyak sekali generasi milenial kita yang sedang mengalmi krisis identitas kebangsaan, sehingga mengabadikan tokoh-tokoh putra-putri terbaik Papua.

Kedua, mengoleksi pemikiran Neles. Semua karya yang pernah dibuat oleh Neles berupa buku, artikel, opini, komentar, seminar, diskusi, dialog, video documenter, baik di media lokal, nasional, dan Internasional perluh dicari, digali, dikumpulkan sebagai sumber primer dalam kurikulum pendidikan karakter, yakni Dialog Damai sebgai etika sosial baru (the new society etics).

Ketiga. Dialog Damai sebagai Etika Sosial. Sasaran utama penerapan kurikulum ini ialah, pendidikan di PAUD dan TK. Di jenjang ini anak-anak mulai diajarkan untuk bagaiman berkomunikasi secara sopan, membudayakan salam damai dan maaf dalam interaksi. Di jenjang SD, Dialog bisa diajarkan sebagai sebuah kebudayaan dalam etika komunikasi, interaksi, dan relasi. Di jenjang SMP anak-anak mulai diajarkan untuk memecahkan masalah-masalah sederhana yang sering terjadi di lungkungan Sekolah baik itu konflik siswa-siswa, siswa-guru, guru-guru, guru-siswa. Di jenjang SMA anak-anak didik mulai diarahkan ke luar sekolah untuk membedah isu-isu lokal yang terjadi di lingkugan masyarakat, baik masalah sosial, ekonmi, politik, budaya, dan religi lalu dicari solusi alternatifnya. Di jenjang perguruan tinggi para mahasiswa mulai dianjurkan untuk membedah masalah-masalah yang lebih luas seputar isu-isu nasioanal dan global.

Perluh ada Jaringan Damai Kampus (JDK) yang berfokus pada isu-isu aktual. JDK ini dengan konsep Dialog Damai Neles Tebai bisa menjadi instansi oto-kritik yang militan. Perluh ditambahkan bahwa konsep Dialog Damai Neles Tebai itu selain diwujudkan secara lansung melalui kiat Dialog/diskusi, tapi juga dalam kiat literasi (tulis-menulis) dan ini bisa dimulai pada jenjang SMP-Perguruan Tinggi, (Tebai, 2012: V). Dengan demikian, sebenarnya bangsa ini tidak kekurangan stok orang hebat sehingga penyerapan pemikiran-pemikiran asing yang kadang-kadang kontra dengan kebudayaan kita menjadi habitus intelektualitas kita yang tak terelakkan.

*)Penulis adalah Mahasiswa STFT “Fajar Timur” Abepura-Papua.

Editor.   : E.K.Tebai

Referensi:

Tebai, Neles. 2009. Dialog Jakarta-Papua. SKP Jayapura.

Tebai, Neles. 2012. Angkat Pena Demi Dialog Papua. Interfidei. Yogyakarta.

 

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *