Pemprov Papua diminta tolak terus pembangunan Smelter di Jatim

  • Bagikan
Empat organisasi kemahasiswaan yang tergabung dalam organisasi Cipayung saat menyampaikan aspirasi tolak bangun Smelter di Gresik, Jawa Timur, di halaman kantor DPRP Papua, Kamis (21/10/2021) - Yulianus Magai/Wagadei

Jayapura, (WAGADEI) – Empat organisasi mahasiswi yang tergabung dalam organisasi Cipayung di Jayapura, Papua, meminta pemerintah provinsi Papua, eksekutif dan legislatif, segera dan terus mendesak pemerintah pusat membatalkan pembangunan Smelter PT. Freeport Indonesia di Gresik, Jawa Timur.

Sebaliknya mereka mendesak agar harus dibangun di Papua. Keempat organisasi Cipayung tersebut, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republika Indonesia (PMKRI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).

Desakan ini disampaikan dalam aspirasi aksi demo damai yang dilangsungkan pada hari ini, Kamis (21/10/2021), di kantor DPRP Papua, Jayapura.

“Papua yang punya emas, punya tambang dan punya tanah. Kenapa Smelter dibangun di Jawa sana. Kami minta eksekutif dan legislatif Pemprov Papua harus desak terus  pemerintah pusat batalkan pembangunan Smelter di Jawa sana,” kata Martinus Mabel, ketua PMKRI Papua, dalam aspirasinya.

Papua sangat luas, dikatakan, jika mau dibangun di Papua, Smelter yang dibangun di Jawa, dapat dibangun dimana saja. Sehingga dinilainya tidak hanya sangat aneh, tetapi sudah diluar dari batas kewajaran karena semua jenis tambang yang akan dikelola, utuh milik dan dari Papua.

“Juga, apalagi sekarang orang Papua yang anggur sangat banyak. Lalu, kenapa malah negera tidak mau beri ruang gerak kepada orang Papua untuk maju,” tanyanya.

Ketau PMII, Mahfud juga dalam aspirasinya menyampaikan pihaknya menemukan dibangunnya Smelter di Jawa menunjukkan adanya ketidakadilan negara (ditunjukkan) kepada rakyat papua.

“Maka kami mahasiswa dengan tegas menolak Smelter yang dibangun di Gresik, Jawa Timur,” tegasnya.

Dikesempatan itu, ia juga menyinggung sikap ibu gubernur Jawa Timur yang meminta pemerintah pusat dalam merekrut 4.000 tenaga kerja harus memprioritaskan orang dari Jawa Timur. Menurut dia, sikap itu sesuatu yang tidak terpuji. Telah sangat melukai hati orang Papua, juga orang dari luar Jawa Timur.

“Maka, kembali lagi kami dengan tegas meminta kepada ibu gubernus Jawa Timur dan presiden Republik Indonesia agar segera batalkan pembangunan Smelter di Gresik. Dan segera kembalikan hak orang asli Papua, artinya Smelter harus dibangun di Papua,” tekannya.

Jhon NR Gobai, anggota DPRP, usai mendengar dan menerima aspirasi disampaikan mengatakan karena aspirasi yang disampaikan mewakili suara hati rakyat, pihaknya sebagai wakil rakyat siap melanjutkan ke pimpinan sesuai mekanisme kelembagaan DPRP agar dapat diproses lanjut.

Berikut dua pernyataan sikap organisasi Cipayung:

1. Kami organisasi Cipayung Jayapura minta kepada pemerimtah provinsi Papua dan pemerintah pusat agar segera batalkan pembangunan Smelter di Jawa Timur dan segera bangun di Papua

2. Jika tidak diindakan permintaan kami, maka kami akan melakukan aksi yang lebih besar.

Tuk diketahui, aksi dilakukan sempat dihadangi aparat kepolisian dengan alasan tidak ada surat ijin di depan kantor DPRP. Namun setelah bernegosiasi karena surat ijin sudah dimasukkan di Polresta Kota Jayapura, aparat pun mengijinkan masuk dalam halaman kantor DPRP tuk menyampaikan aspirasi.

Hadangan itu para mahasiswa menilai sebagai bagian dari pembungkaman ruang kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum yang dijamin UU.

banner 120x600
  • Bagikan

Respon (2)

  1. Terima kasih banyak adik2 generasi penerus yg menolak Pembangunan Smelter di Jawa timur sana…
    Dewan adat serta lembaga2 lain di tanah Papua juga harus wajib protes tolak smelter itu…jangan bisu di ditempat sebab, akan bisa terjadi penenton di negerinya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *