Formula “100% Katolik, 100% Indonesia” Melegalkan “Perselingkuhan Gereja Katolik dan NKRI”

  • Bagikan

Gereja Katolik Roma Motomachi | Travel Hakodate

Oleh: Siorus Degei*

 

Jangan kaget, kalua Roma punya dosa di Papua melalui perjanjian Roma 30 September 1962. Kalau ada imam yang bicara tentang Otsus Jilid II dan DOB/Pemekaran di Gedung DPR. Kalua ada imam yang jadi koordinator spiritual PON XX dan memipin KKR menjelang PON XX tanpa mengubris saudara-saudaranya di Maybrat dan Kiwirok. Kalau ada uskup yang mengijinkan hak ulayat masyarakat adat menjadi perusahan Kelapa Sawit dan Tambang. Jangan heran kalua ada pastor tentara dan polisi. Gereja harus sadar bahwa Protestanisme pecah karena Gereja terlaluh intim “Berseingkuh dengan Negara”. Mengapa demikian?

Mgr. Seogijapranata lahir di Surakarta 25 November 1896. Pada tahun 1916 ia masuk Gymnasium Uden, Belanda guna menjadi seorang Jesuit. Di Gymnasium ia banyak melahap pengetahuan bahasa Latin, Filsafat, dan Teologi. Tepat pada 1831 ia ditabihskan menjadi seorang imam Jesuit. Mgr. Soegija dikenal sebagai Uskup Pribumi pertama Indoneisia. Ia diangkat menjadi Uskup Pertama pada 1 Agustus 1940 oleh Paus Pius XII dan dilantik pada 6 November 1940. Selain itu Mgr. Sugija merupakan seorang pahlawan nasional Indonesia. Ia terkenal dengan perjuangan dalam jalur diplomasi. Beliau wafat di Belanda tahun 1963, (https://id.wikipedia.org/wiki/Albertus_Soegijapranata, Rabu, 20-10-2021. Pukul. 11:45 WIT).

Sebagai seorang Jesuit apalagi seorang uskup yang mempunyai jejaring hingga ke hampir penjuru bumi. Mgr. Soegija tampil vokal dan terampil dalam perjuangan kemerdekaan tanah air tercinta Indonesia dengan jalur diplomasi. Pencapaian Mgr. Soegija tersebut sukses ketika ia sanggup membuat mulut Paus mengutarakan nama Indonesia di kancah Internasional, di mana pada 6 Juli 1947 pengakuan Vatikan atas kemerdekaan Indonesia ditandai dengan pembentukan Apostolic Delegate atau Kedutaan Besar Vatikan di Jakarta.

Jadi tanpa peran Mgr. Soegija barangkali hingga hari ini Indonesia masih dijajah oleh Belanda, seandainya Indonesia tanpa Katolik, Indonesia bukanlah Indonesia.  Kemerdekaan sesungguhnya baru terjadi ketika Mgr. Soegija menyurati kekejaman penjajahan Belanda terhadap Indonesia kepada Paus Pius XII di Vatikan pada 18 Januari 1947 dan Paus merespon surat itu dengan amat positif, (https://www.kompas.com/skola/read/2020/12/17/113711569/respons-vatikan-terhadap-kemerdekaan-indonesia, Rabu, 20-10-2021. Pukul. 11:57WIT).

Jika taksir dari dekat berdasarkan kronologi sejarahnya sebenarnya formula “100% Katolik, 100% Indonesia” itu dicetuskan oleh Mgr. Soegija sebagai patriotisme dan nasionalisme-nya sebagai orang katolik Indonesia yang sedang terjajah oleh bangsa Belanda. Kira-kira konsep formula “100% Katolik, 100% Indonesia” ala Mgr. Soegija dilatarbelangkagi oleh perjuangannya sendiri dalam menciptakan kemerdekaan Indonesia, (Ayu Utami, 2012: 48). Mgr. Soegija mau mewujudkan perintah Yesus dalam injil yang berbunyi, Berihkanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berihkan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berihkan kepda Allah, (Mat. 22:21).

Over Dosis Pemaknaan Formula “100% Katolik, 100% Indonesia” Dalam Kehidupan Bergama di Indonesia

Ada beberapa point di bawah ini yang menunjukkan bahwa formula “100% Katolik, 100% Indonesia” itu dapat berbias makna dan mereduksi karakter dan mental bangsa, sehingga menyebabkan “Perselingkuhan Gereja dan Negara” yang miris dan kritis.

Pertama, Keuskupan militer Indonesia atau Ordinariatus Castrensis Indonesia. Disinyalir rupanya Keuskupan tersebut didirikan oleh Mgr. Soegija sebagai wadah pembentukan mental-spirtual para taruna angkatan bersenjata, supaya menjadi seorang Katolik sejati sekalligus seorang militer sejati Indoensia, (https://id.wikipedia.org/wiki/Ordinariat_Militer_Indonesia, Rabu, 20-10-2021. Pukul. 12:02 WIT).

Kedua, Pastor militer. fenomena pastor militer atau pastor tentara merupakan isu menarik lain yang menunjukkan “Perselingkuhan Gereja dengan Negara” apalagi ini isnatansi militer. Sangat maksud akal sekali jika pastor menerapkan pastoral militer, ini kenapa mau terlibat menjadi seorang militer sekaligus imam, (https://id.wikipedia.org/wiki/Yos_Bintoro, Rabu, 20-2021. Pukul 12:05 WIT).

Ketiga, menjadi boneka Negara. Suara kenabian yang terhimpun di Koneferensi Wali Gereja Indoensia (KWI) sepertinya sudah dibeli dengan harta benda yang mahal, mewah, dan megah. Hal ini terbukti dari diamnya Gereja untuk getol, frontal dan vokal menyuarakan kebenaran, keadilan, dan kedamaian di Indonesia, khsusnya isu HAM di Papua.

Ada beberapa penawaran dalam mengembalikan fitrah, marwah, dan eksistensi Gereja Katolik pada posisinya yang sejati tanpa ada intervensi negara, politik, ekonomi, militer, dan lainnya.

Pertama, Keuskupan militer mesti diganti dengan pastoral militer. Kita tidak mau menodai kesucian Agama Katolik dengan unsur-unsur sekularis dan profanitas keduaniaan. Bahwa adanya Keuskupan militer menunjukan bahwa Gereja Katolik Indonesia sangat sekulais dan profanis.

Kedua, Ilegalisasi imam abal-abal. Jika Imam, ya Imam saja, jika militer ya militer, jika politikus, ya politikus saja, mengapa mau dicampur-adukan perkara Dunia dan perkara Surga.  Sebab fokus panggilan akan rancu, mengankat Hosti Kudus atau Mengangkat Senjata.

Ketiga, KWI seyogianya tidak pura-pura buta, tuli, bisu, lumpuh, cacat, dan difabel soal pelanggaraan HAM di Papua. Bahwa sebagian besar dari korban pelanggaraan HAM di Papua adalah Umat Katolik.  Dan saat itu Gereja ada di mana, apakah lantaran terlaluh suci Gereja sudah di Surga? Jika ada orang normal yang berakal budi dan berhati Nurani di KWI meraka pasti buka mulut, tetapi jika tidak, KWI: Kominitas Wanita Idaman NKRI, jadi “perselingkuhan” tetap subur. Mudah-mudahan berkat kehadiran SEKJEND KWI dalam acara pentahbisan imam di Intan Jaya dan Dogiya ada sebuah OASE perdamaian yang bisa berhembus dari KWI ke Papua.

Kelima, Papua Membutuhkan kungjungan Paus Fransiskus. Paus mungkin telah dikenal sebagai bapa perdamaian di dunia, tapi tidak di Papua. Sebab konflik Jakarta-Papua walaupun heboh di kancah PBB Paus masih tutup mata. Paus bisa menjadi St. Fransisku Asis kedua, hanya sampai pada batas Paus mendamaikan tanah Damai, hanya sampai pada batas nama Papua diucapkan oleh Paus. Maka Papua merindukan sosok uskup OAP yang serupa dengan Mgr. Soegijapranata, getol memperjuangan kebenaran, menegakkan keadilan, dan mewujudkan kedamaian sejati.

*)Penulis Adalah Mahasiswa STFT “Fajar Timur”, Abepura, Jayapura, Papua. 

 Referensi:

Utami Ayu. 2012. Soegija 100% Indonesia. PT Gramedia Jakarta.

 

 

 

banner 120x600
  • Bagikan

Respon (2)

  1. Anda ini seorang Frater (calon Imam atau politkus). Jangan hanya menyalahkan KWI serta menstigma begitu saja. Sekrang jika KWI mengambil keputusan seperti apa yang anda pikirkan, dapatkah anda menanggung darah seluruh umat Katolik se-Indonesia. Anda bicara jangan hanya dari satu circle melainkan secara keseluruhan. Ingat saudara zaman dulu beda dengan zaman sekarang cara berpolitiknya berbeda. Jadi, kalau mau jadi Pastor jalanilah sedemikian rupa, bukan sebaliknya berpolitik praktis. Perbaiki hidup spritualnya bkn fisafatinya saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *