Sahabat di Garis Waktu

  • Bagikan
Ilustrasi sahabat di waktu kecil - Ist

Dingin masih pagi masih jam 08.00 WP di kampung kecil Uwooweta Idakebo 1997. Pakaian berseragam Merah Putih dari kampung Obaayo, Ipoodi dan Pugatadi ramai-rami dengan nyanyian budaya dalam bahasa (yuu, tegauwa) selalu terdengar dari rumah Epege (gubuk bertungku kayu milik suku Mee).

Tidak semua mereka berseragam, tidak semua lengkap dengan alat belajar seperti buku dan bolpoin dalam Agiya (noken kulit kayu). Sebagai sarapan pagi dalam Agiya otomatis ada Nota (ubi) dan beberapa Yatu (sayur lilin) dan gadibuwaa (markisa). Itu termasuk makanan siang.

Sampai di sekolah, masing-masing telah berbaris depan pintu kelas. Sekitar 50 siswa-siswi SD Inpres Idakebo. Sudah duduk dalam kelas. Ansel dan Manfred teman sejak kecil di kampung Idakebo setelah beranjak besar dari usia bayi, teman sebangku dari kelas satu hingga sekarang kelas tiga.

“Kita dua pulang sudah. Sa mau latihan sepeda, nanti sa beli biskuit,” bisik diam Ancel kepada Manfred dalam kelas. Ibu guru sedang absen.

“Iyo, mana ko uang?,” tanya Manfred.

”Ini,” tunjuk Ansel dari saku jelana merah yang ia pakai, terlihat uang lima ribu, bisa dapat biskuit lima bungkus, satu bungkus harganya Rp 1000.

Kios hanya tiga di kampung Idakebo, wilayah Ibukota distrik dari beberapa kampung terdekat. Kios milik guru SD asal tanah Toraja dan Pak Mantri asal Jawa. Mereka menggabdi dari usia muda hingga tua.

Belum waktu pulang, Manfred dan Ansel sudah pulang, berlari keras di atas perkebunan Nota (ubi), Yatu (sayur), Eto (tebu) dan Nomo (keladi) di balik gedung sekolah setelah waktu istrahat, sampai di kali Dune, tempat warga Idakebo mandi. Ya, airnya bersih dari mata air gunung Goodide. Ansel dan Manfred beristrahat dengan nafas sendak-sendak, duduk bertiduran di atas semak-semak.

“Tadi ada yang lihat ka tidak e,” tanya Ansel.

“Io, ada yang lihat ka tidak e,” tanya lagi Manfred.

”Ado, semoga tidak, ayo jalan sudah,” ucap Ansel ajak pergi setelah beberapa menit berhenti, Ansel tidak sabar berlatih sepeda.

”Sabar, capeh ini,” balas Manfret, masih duduk.

Sampai di rumah, bapa Manfred sedang bersiap untuk pergi dari rumah. Mereka dua bersembunyi di antara pisang samping rumah, menunggu bapaknya keluar. Sinar matahari terpancar diatas kepala, terik siang. Ansel dan Manfred masih bersembunyi dengan sepeda di Kali Dune, menunggu sebentar lagi pulang sekolah dan Ancel berlatih sepeda.

Sinar matahari sedikit panas, sambil menunggu, Ansel dan Manfred mandi-mandi kali Dune, kali yang bersih tanpa sampah pelastik, jerni, tempat yang setiap hari menjadi taman bermain orang-orang Idakebo, tempat mencari udang dan ikan bergizi.

“Teng….teng….teng….teng”

Bunyi bel, tanda pulang sekolah terdengar di telinganya Ansel. Jarak kali Dune dan sekolah 100 meter. Ansel sudah berpakaian setelah mendengar bel pulang, agak cepat. Ansel tidak sabar berlatih sepeda, tapi Manfred masih bermain dengan air Dune, melompat dari kayu dan menyelam cari udang diantara kayu kede (kayu dasar air) dan ata (batang pohon sayur paku).

20 menit bersabar, sampai di sekolah, guru dan siswa sudah pulang, sunyi; Ansel dan Manfred sudah mendorong sepeda hingga di sekolah, Manfred menjadi guru kecil untuk Ansel di halaman sekolah. Melatih Ansel mengemudi sepeda hingga sore.

Sore pukul 15.00 WP, wilayah kampung Idakebo kebanyakan hari yang mendung dan hujan, sinar matahari tidak mampu menembus awan di atas kampung Mogotogoo. Angin kecil berhembus pelang di antara bocah-bocah berkaki kosong berbahasa Mee berlari merampas bola kecil di halaman SD Impres Idakebo, bola tenis jenis kasti di pakai menjadi sepak bola, dua bola dimainkan sekaligus, jumlah pemain tidak terbatas dalam lapangan, aturan hanya outball, handball dan pelanggaran keras.

Ansel dan Manfred sudah berhenti bermain sepeda, bergabung dengan teman-teman sekolah melawan SD YPK (Yayasan Pendidikan Kristen) Idakebo. Bola tenis berlari sebagai sepak bola diantara dua kelompok bocah-bocah kecil mengejar bola, ramai dalam natural kultural, ketika berhasil menjebol gawang; teriak spontan muncul, namanya waita, suara keras merayakan gol-gol dari kaki telanjang. Merayakan kemenangan.

Wilayah yang dikelilingi oleh hijau, Idakebo, sebelum matahari pergi di atas kampung Mogotogo dari mata SD Inpres Idakebo; dingin sudah tiba, dingin mengusir bocah-bocah yang bermain sepak bola, termasuk Ansel dan Manfred.

Jalan berbatu sudah membelah jalan tikus diantara rumput kecil.

Ansel dan Manfred berpisah dari pertigaan setelah pulang bermain sepak bola, sebelah kiri dari tikungan ada Gereja Kingmi Golgota, Gereja bumi orang-orang Mee, berpusat hanya dalam Papua. Besok hari minggu, Ansel dan Manfred bersepakat, bertemu di halaman sekolah setelah pulang Gereja untuk Ansel latihan sepeda lagi. Pulang gereja, Manfred sudah menunggu dengan sepeda milik bapaknya.

“Janji kemaring mana?,” tutur Manfred menahan sepeda setelah Ansel meminta sepeda untuk latihan.

“Tunggu saya beli,” balas Ansel. Berlari ke kios. Membeli biskuit yang Ansel janji kemarin dalam kelas. Ansel Kembali.

“Ini, mari sekarang saya latihan,” minta Ansel sambil Ia memberikan biskuit kepada Manfred.

“Ambil,” balas Manfred sambil mengambil Biskuit.

Ansel sudah bisa mengemudi sendiri, tidak seperti kemarin, harus dipandu oleh Manfred. Manfred duduk makan biskuit, sementara Ansel berlari kesana-kemari dengan sepeda, berkeringat di wajahnya.

Ingus meleleh dan kaki telanjang. Pantatnya masih duduk diatas besi, tidak di atas tempat duduk, kaki masih kecil, belum sampai. Sepeda mountain bike ukuran orang dewasa.

Hampir dua jam Ansel berlatih, terlihat sudah capek, Ansel berhenti dan mereka berdua pergi ke kali Dune untuk mandi. Kali yang belum tersentuh sampah plastik dan kain hasil industri di kota. Panas selalu datang hanya satu sampai tiga jam, waktu matahari diatas kepala, dingin setelah sinar matahari ditutup gumpalan awan tebal. Setelah mandi Ansel dan Manfred pulang ke rumah.

“Tulang pantat sakit gara-gara duduk di atas besi,” tutur Ansel sambil ia memegang tulang pantatnya.

“Itu biasa, saya juga perna bagitu,” balas Manfred dengan santai.

“Iyo ka!,” balas Ansel.

“Iyo, itu ko nanti master bawah sepeda nanti,”jelas Manfred kepada Ansel.

“O…Iyo,” balas Ansel.

Setiap hari selalu ada cerita bersama kali Dune, masa kecil Ansel dan Manfred habis di sana, berlompat, molo ikan dan udang. Sebelum gelap, sudah dingin, pulang kerumah. Duduk dekat tungku api berjemur agar dapat panas. Makan selalu ada, tidak ada lapar untuk sepanjang hari. Seakan semua bertumbuh sendiri dalam lambung Nota (ubi). Malam selalu sejuk, mimpi selalu positif mengikuti pikiran dingin dalam kebudayaan.

Tiba saatnya Ansel dan Manfred harus berpisah, Ansel akan pergi dengan orang tuanya berpindah tugas di kota. Bapa Ansel seorang Gembala Sidang Jemaat dan Mama Manfred kepala sekolah SD Inpres Idakebo. Sore yang terakhir di halaman sekolah, Ansel mengucapkan selamat tinggal sampai jumpa kepada Manfred; teman yang selalu setiap hari bertemu, berteman dalam senyum dalam semangat, Mamfred adalah teman pertama ketika usia harus memilih berteman.

”Kawan terimakasih untuk semua kisah, lebih khususnya saya bisa membawah sepeda dari tanah lahir saya di sini, tumpah darah, ini kebanggaan buat saya, saya tidak lupa, akan saya cerita kepada orang-orang di kota kalau saya bisa membawah sepeda dari kampung, guruku adalah temanku dari kecil,” ucap sedih Ansel kepada Manfred.

“Selamat berangkat kawan, sampai jumpa dalam kisah lain nanti, kita pasti bertumbuh dan kita akan bertemu, jaga diri baik-baik,” balas Manfred. Ansel memeluknya dan pergi.

Ansel dan Manfred berpisah dan esok paginya, Ansel bersama keluarganya berangkat ke Kota. Kisah selanjutnya Ansel di kota bersama teman baru. Ansel di kota bergelut dengan hal-hal bodoh, kadang Ia rindu Manfred untuk bermandi di Kali Dune, bermain sepeda hingga bermain sepek bola.

Bersambung….

Cerita fiksi ini ditulis oleh Nomensen Douw, wartawan wagadei.com, mohon maaf jika ada kesamaan tokoh dan lokasi karena tak bermaksud disengaja.

Penulis: Nomensen DouwEditor: Aweidabii Bazil
banner 120x600
  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *