Falsafah Dou, Gai, Ekowai dan Ewanai

  • Bagikan

Dalam Habitus Reksa Pastoral-Kontekstual di Keuskupan Timika

Oleh: Siorus Degei

ROTASI dan orientasi kehidupan manusia itu menunjukkan bahwa seiring berkembangnya waktu manusia beserta kosmos juga mengalami perubahan. Perubahan mencakup hampir seluruh dimensi kehidupan manusia. Mulai dari pola pikir, pola merasa, pola kerja, pola bahasa, sistem kepercayaan, dan sistem- sistem pokok kehidupan lainnya. Sama seperti kebudayaan di dunia yang notabenenya memiliki local genius yang teramat kaya akan nilai-nilai positif dalam kehidupan.

Di Papua, khususnya di wilaya Meepago atau Meewodide, tepatnya dalam kearifan lokal suku Mee. Ada sebuah sistem filosofis hidup yang luhur, yaitu Dou-Melihat, Gaii-Berpikir, Ekowai-Bekarya, dan Ewainai-Menjaga. Dalam tulisan ini kita akan melihat bagaimana empat pusaka kehidupan Suku Mee itu nampak secara tidak langsung sebagai spiritual dalam habitus Reksa PastoralKontekstual di Keuskupan Timika secara blak-blakan.

Mengenal Esensi Dan Subtansi Dou, Gaii, Ekowaii, Dan Ewanaii Dalam Perpektif Filosofis

Dalam habitat kulturistik Suku Mee terdapat falsafah dasar yang menjadi pedoman atau panduan hidup yang realistis, yaitu Dou-Look, Gaii-Think, Ekowaii-Action, dan Ewainai-Security. Dou secara harafiah berarti ‘Melihat’ kata melihat ini juga memiliki multi-makna tidak meluluh aktivitas mengamati, memandang, atau aktivitas pencerapan indra penglihatan lainnya. Melainkan Dou ini juga secara sensual bisa berarti Peduli, Peka, terbuka, jujur, integritas, simpati, empati, solidaritas, dan partisipasi aktif. Perwujudannya ialah aksi welas kasih atau belarasa yang bersumber dari dalam lubuk hati dengan semangat cintah kasih sebagai sumbuh action and passion-nya.

Jadi Dou berarti simpatif yang empatif, partisipasi yang solideritatif, dan aktif yang positif, bukan meluluh aktivitas indra pengilhatan semata. Seorang mampu ‘Dou’ dengan baik dan benar, dalam arti ketika ia mampu melihat fenomena alam dan fenomena sosial bukan saja dengan mata jasmani tapi juga dengan mata rohani, bukan saja dengan mata sosial tapi juga mata intelektual, moral, dan spiritual. Di situlah ia akan menjadi aktivis kehidupan yang sejati.

Berikutnya ‘Gaii’ juga memiliki arti harafiah yang multi-makna. Secara general verbal ‘Gaii’ berarti Berpikir, Pertimbangan, Waspada, Permisi, dan masih banyak lagi tergangtung situasi dan kondisi penggunaannya, (Manfred C. Mote, 2013, hlm. 12). Dalam konteks tulisan ini makna yang akan dipetik ialah ‘Gaii’ sebagai sebuah konsep berpikir kontekstual yang filosofis. Ketika seorang mampu ‘Gaii’ secara baik dan benar atau ketika seorang mampu berpikir secara positif dan logis, kritis, analitis, objektif, maka secara tidak langsung akan menjadi konseptor kehidupan banyak orang yang birlian.

Selanjutnya ‘Ekowaii’, secara harafiah berarti Berkarya, Bertindak, Bekerja, Bergerak. Ekowai ialah aplikasi dari hasil Dou dan Gaii di atas, (John Giyai, 2013, 223). Jadi Ekowai itu adalah tahap eksekusi, operasional, atau konkritisasi atas konsep penghayatan dan pemikiran dalam aktivitas Dou dan Gaii. Biasa orang yang kuat dan tekun secara tekun ialah orang yang mampu beer-Ekowai secara baik dan benar.

Terakhir ialah ‘Ewainai’ secara harafiah berarti Menjaga, Merawat, Pasang Badan, Berada di Garda Terdepan. Pada kiat ini apa yang sudah di-Dou, di-Gaii, di-Ekowai dengan baik dan benar dipastikan agar tetap eksis. Memproteksi dan mempromosi nilai-nilai yang mapan dalam formula Dou, Gaii, Ekowai adalah panggilan Ewainai yang hakiki.

Jadi sederhananya Falsafah Dou, Gaii, Ekowai, dan Ewanai merupakan satu paket panduan kehidupan yang etis dan fudamen atau sering dikenal dengan istilah Touye Mana, Kabo Mana, Kabo Gaii-Dimi. Dou, Gaii, Ekowai, dan Ewainai menegaskan seorang pribadi manusia yang otonom dan integral dalam pikiran, hati, kehendak dan tindakan.

Pater Tilemmans Dan Misionaris Lainnya: Para Doubii Yang Ulung

Dalam sejarahnya Pater Herman Tilemmans MSC (13 Juli 1902-23 Agustus 1973) merupakan seorang imam katolik dari Ordo Hati Kudus Yesus juga yang kelak akan menadi Uskup perdana di Keuskupan Merauke. Singkat cerita adalah bahwa Pater Tilemmnas merupakan seorang imam yang menjadi misionaris di wilaya Meepago.

Pada April 1932, pater Tilemans berjumpa dengan seorang pembuh asal suku Mee di Pronggo-Kamoro-Mimika, diantaranya Wgakei Gobai, Ikoko Nokuwo, dan Auki Tekege. Perjumpaan ini menjadi cikal-bakal munculnya Agama Katolik-Roam di wilaya Meewodide. Tepatnya pada 21 Desember 1935 melalukan ekspedisi menuju Modio. Akhirnya pada 25 Desember 1935 rombongan ekspedisi itu sampai di Pegunungan Tiho-Watiha, peter tilemans merayakan natal pertama kali disitu.

Pater Tilemmans menetap beberapa hari sambil mempelajari bahsa dan beberapa kebudayaan masyrakat Mee di Modio. Hingga pada 7 Januari 1936 misa kudus dalam rangka membuka Injil di wilayah Mewodidee dipimpin oleh pater tilemnasa dan diikuti oleh hampir seluruh pemimpin di wilayah Meewo dan Mouwoo. Semua tonowi dan Sonowi hadir dalam acara pembukaan Injil itu. Demikian sepengala kisah Pater Tilemmans dalam Misi Injil di Mewoodide, (Biru Kira, 2018, 63).

Dari sepengal kisah Pater Tilmenas dapat diinisiasikan sebagai seorang “Doubii” yang ulung. Dou berarti ia seorang misionaris yang berhasil menemukan Suku bangsa Mee di tengah hutan belantara dan ketinggian Gunung pencakar langit. Ia melalui tim ekspedsi udara dan alam menemukan suku bangsa Mee yang tadinya hidup terisolasi. Melalui pratek misionaritas tilemmans suku bangsaMee mampi melihat terang.

Jadi dalam perspektif Mee dapat disimpulkan bahwa Pater Tilemmans dan para misisonaris lainnya baik yang bermisi sebelum dia, bersama dia, dan setelah dia, mereka semua dapat dinisiasikan sebagai secara kulitural filosofis sebagai “Doubii Sejati” Hal ini sebagai sebuah bentuk ungkapan apresiasi mendalam terhadap mereka atas jasa dan kerja keras mereka dalam mewartakan Injil Kristus ke seluruh dunia, khususnyaa di Meepagoo.

Alm. Mgr. John Pihlip Saklil “Gayaibii Sejati” Konseptor-Pastoral-Kontekstual di Papua

Alm. Mgr. John Philip Saklil menjadi Uskup keuskupan Timika Uskup pada 18 April 2004 dan wafat pada 3 Agustus 2019, (Bennyamin Magai, 2020, 15). Siapa yang tidak kenal dengan sosok berbulu gembala ini. Uskup John adalah tokoh kehidupan manusia Papua yang besar. Ia amat cerdas bahkan jenius dalam melahirkan pendektaan-pendekatan Pastoral-Kontekstual di Papua yang sangat memenuhi dan menjawabi kebutuhan Pastoral umat. Banyak sekali karya beliau yang tidak akan tenggelam dari lembaran sejarah kegerajaan di Indonesia, dan khussunya di Papua, yakni di Keuskupan Timika. Salah satunya ialah “Gerakan Tungku Api Kehidupan” atau “Tungku Api Keluarga” yang sangat kontekstual dan menjawab sendi-sendi kehidupan pastoral umat, terlebih mereka yang hidup di wilaya-wilaya yang tersolir dan rawan krisis.

Secara cukup lebih rinci semua bentuk keberpihkan Uskup terhadap situasi dan kondisi di Papua dalam aspek Pastoral-kontekstual dapat kita lihat dalam buku “ Gereja Dan Tragedi Kemanusiaan di Keuskupan Timika” yang terbit pada 2017 silam. Dalam buku yang diedit oleh RD. Dominggus Hodo itu dapat kita jumpai, konsep, orasi dan narasi, sikap, tindakan, dan karya pastoral kontekstual dari Uskup John. Pikiran dan hati kita akan terbuka bersamaan ketika kita membaca apa visi-misi bapa uskup John di tanah Papua, (Bennyamin Magai, 2020, 58).

Beliau adalah rasul kehidupan bagi orang asli Papua. Nabi kemanusiaan bagi orang asli Papua. Ia adalah pemikir masa depan bangsa Papua yang hebat. Dan sebernarnya beliau adalah “Wajah Tuhan” yang nyata di Papua. Beliau adalah jawaban Tuhan atas doa-doa para martir kehidupan di tanah Papua yang telah gugur demi menegakan kebnaran, keadilan, dan kedamaian di bumi cendawasi. Maka tidak salah nama “Gayabii” yang disematkan secara adat oleh suku Mee kepda beliau.

Administrator Pater Martin Kuayo “Ekowabii Sejati” Pewaris Estafet Misi Keselamatan di Keuskupan Timika

Berikutnya ialah seorang imam yang sangat taat, tekun, alot, vocal, tenang, dan rajin bekerja keras dalam karya pelayanan imamat. Ketekunan beliau dalam pelayanan juga konsistensinya dalam merealisasikan semua gebrakan Pastoral-Kontekstual dari pendahulunya Mgr. Gayabii Saklil tidak dapat diragukan lagi. Barangkali semua umat di Keuskupan Timika. Terlebih mereka yang pernah menjadi umat penggembalaannya pasti sudah tahu bagaiman kiprah dan passion beliau dalam berpastoral secara kontekstual.

Menurut bapak Yopi Degei, seorang sahabat karib Pater Martin semasa SMP di Moanemani (kini Kab. Dogiyai) beliau menilai bahwa Pater Marten itu memang sudah dari kecil cita-citanya hanya menjadi seorang imam seperti pastor-pastor barat. Beliau juga merupakan seorang koster yang sangat rajin dan tekun. Ia selaluh tinggal bersama para imam belanda, karena hanya dia saja yang terang-terangan menyatakan bahwa mau jadi seorang imam. Maka Pater Martin dekat para misionaris dan mereka juga sangat dekat dengan dia. Ia banyak belajar bagaimana menjadi pastor yang sejati dari para misonaris barat. Sudah sedari kecil, yaitu saat ia menjadi koster dia diajarkan untuk menjadi imam yang sejati. Bagi bapak Degei, temannya Pater merupakan seorang imam yang sederhana, murni, dan taat. Pater martin itu memang seorang imam yang benar-benar imam yang hidup sesuai dengan aturan Gereja yang resmi.

Beliau melanjutkan bahwa biasa di kelas Pater Martin sering iseng-iseng kepada teman-temannya bahwa “tidak apa-apa kalian yang lain kawain, biar anak-anaknya saya berih sakramen baptis, komuni, tobat, perkawinan, dan sakramen lainnya” Bapak Yopi sangat optimis bahwa temannya Pater Marten itu akan menjadi Uskup Timika karena ia sangat layak, karena selam ini ia memang benar-benar jalan dan hidup dalam koridor seorang imam yang sejati, ia tahu aturan gereja bilang apa untuk seorang imam dalam kehidupan imamatnya dan itu pater Martin buktikan dalam karya pelanannya selama ini. Ia tidak berbiaca dan terlibat dalam politik praktis.Tetapi ia hanya mengutamakan pelayanan pastoral yang menyelematkan semua pihak, (Hasil wawancara melalui via-telpon dengan Bapa Yopi Degei, seorang sahabat karib Pastor Martin di SMP YPPK Moanemani-Dogiyai pada Sabtu, 10 Agustus 2021, Pukul 16:30 A.M WIT).

Jadi dari ulasan mengenai siapa sosok pater marun sebagai ekowaibi sejati di atas menunujkan bahwa pater adalah seorang pekerja kerasa yang tekun dan konsisten serta memiliki rekam jejak palayanan imamat yang baik. Bahwa ia merupakan seorang pendegar yang baik dan eksekutor rekasa pastoral kontektual yang terampil. Maka sudah tidak diragukan lagi bahwa apa yang telah diupayakan oleh Alm. Mgr. Gayabii akan terealisasi melalui pater Martin karena memang itu ranah spirtiualnya sebagai “Ekowaibii Sejati” Bahwa sebagi seorang “Gayabii Sejati” bapa uskup John telah meletakkan dasar-dasar konsep Pastoral-Kontekstual di Papua terlebih khusus di Keuskupan Timika salah satunya Gerakan Tungku Api Kehidupan”. Kini tugas pater Martin hanyalah melanjutkan saja, tinggal eksekusi, dan sesuai dengan nama adat yang juga menjadi spirit panggilannya, yakni Ekowaibii. Maka Pater Martin merupakan sosok yang bisa dipertimbangkan untuk mengampuh tugas sebagai uskup Keuskupan Timika.

Para Imam dan Kaum Religius Lainnya Sebagai “Ewainaibii Sejati” Eksistensi Perabadan Gereja

Para Imam dan kaum religius, khsusnya yang asli Papua sebisa mungkin dapat menjadi corong yang paling kurang mendukung semua karya pastoral yang berpihak kepada mereka yang miskin, lemahl, kecil, sakit dan tersingkir. Para klerus ini mempunyai panggilan untuk mewujudkan nyatakan semua reksa pastoral yang telah diradaskan oleh keuskupan.

Dalam konteks aplikasi reksa pastosal-kontekstual di Keuskupan para imam dan kaum religius seyogiayanya memproteksi dan mempromosikan nilai-nilai yang terkandung dalam reksa pastoral keuskupan Timika termavifestasi dalam kehidupan sehari-hari umat. Para imam dan kaum religius bisa menginkulturasikan aspek-aspek pastoral-kontekual kedalam dimensi-dimensi sosio-kultural daerah-derah di mana mereka bertugas, khusus umat periferi di zona diaspora. Bahwa mereka menjadi perisai eksistensi perabadan Gereja.

Penekanan khusus dititikberatkan kepada para imam dan kaum religus pribumi Papua. Imam-imam dan biarawan-biarawati asli Papua. Sebagai pemilik hak ulayat tanah Papua yang ulung kiat menjaga, merawat, melindungi, membinbing, dan memasang badan demi tegaknya keadilan, kebenaran, kedamaian dan keselamatan baik rohani maupun jasmani menjadi sebuah rahmat panggilan yang keliru bila sekali-kali diabaikan, terabaikan atau mengabaikan.

Dengan demikian secara tidak langsung sebenarnya spirit filosofis hidup orang Mee; Dou, Gaii, Ekowai, dan Ewainai sangat kental dalam kehidupan dan perabadan Keuskupan Timika dari awal para misonaris, yakni pater Tilemmans MSC dan kawan-kawan yang terampi tampil sebagai “Doubii Sejati”. Bapa uskup John Pilip Saklil yang melalui kharisma Pastoralnya hadir sebagi pemikir perabadan umat Allah di atas tanah Papua yang kaya akan susu, madu dan emas sebagai “Gayabii Sejati”. Kemudian pater Martin Kuayo yang sangat getol dan vokal meng-goal-kan bola-bola titah Reksa Pastoral Kontekstual dalam dunia real sebagai “Ekowaibii Sejati”. Dan yang terakhir panggilan mendesak bagi para imam dan biarawan-biarawati, khsusnya yang asli Papua untuk menjaga dan memastikan bahwa semua nilai-nilai kehidupan yang baik dan benar dalam Reksa Pastoral Kontekstual menjurus dalam dimensi-dimensi rela kehidupan umat sebagai “Ewainaibii Sejati. Semua terjadi hanya seturut rencan Allah.

*) Penulis Adalah Mahasiswa STFT “Fajar Timur” Abepura-Papua

Referensi

Mote C. Manfred. 2013. Touye. Cermin Papua

Giyai John. 2013. Memahami Papua. Cermin Papua.

Benyamin Magai. 2020. Probelmatika Perdamaian Dan Pastoral Kemanusiaan. Pustaka Larasan.

Hasil Wawancara Melalui Via-Telpon. Sabtu, 12 Oktober 2021.

 

 

 

 

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *