Mahasiswa Nabire di Jayapura jual pinang untuk bayar listrik

  • Bagikan
mahasiswa nabire
Mahasiswa Nabire ketika berjualan di depan asrama mahasiwa Nabire, Kampkey, Distrik Abepura, Kota jayapura – Wagadei/Yulianus Magai

Jayapura (WAGADEI) – Beberapa mahasiswa asal Kabupaten Nabire, Papua, terpaksa menjual pinang, rokok dan bensin untuk membayar uang listrik yang menunggak sejak beberapa tahun terakhir.

 

“Kalau modalnya ada kami akan jual jualan yang lainnya juga,” kata Yonas Makai, Ketua Asrama Nabire Kampkey,  ketika ditemui saat berjualan di depan asrama, Kamis (7/10/2021).

 

Dia mengatakan, asrama ini merupakan aset Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nabire. Namun Pemkab Nabire tidak memperhatikannya sejak kebakarannya pada tahun 2019.  Pasalnya Pemkab Nabire belum membayar uang listrik di asrama mahasiswa yang berlokasi di kawasan Kampkey, Distrik Abepura, Kota Jayapura ini.

 

Makai bahkan menilai Pemkab Nabire hanya mengumbar janji terhadap penghuni asrama. Sewaktu Isaias Douw menjadi Bupati Nabire, hal yang sama juga pernah disampaikan  terkait asrama ini. Pemkab Nabire pernah berjanji akan membangun asrama yang layak untuk mahasiwa.

 

“Namun sampai saat ini belum ada konfirmasi. Mungkin karena bapak punya masa berlaku jadi bupati belum habis kah atau habis itu kami juga tidak tahu,. Artinya kami masih tunggu janji-janji itu,” katanya.

 

Maka dari itu, Makai dan kawan-kawannya berjualan di depan asrama selama beberapa hari sejak pekan lalu. Dia tak menyebut berapa penghasilan dari penjualan rokok, pinang, dan bensin. Namun demikian, penjualan itu sedikit demi sedikit bisa memenuhi kebutuhan mahasiswa di asrama.

 

“Pada intinya kan bisa bayar uang lampu, agar penghuni asrama Nabire bisa kuliah dengan baik walaupun kendisi asrama yang begitu tak layak dihuni. Semoga saja dengan jualan ini, kami bisa membayar uang lampu (listrik),” katanya.

 

Penghuni asrama lainnya, Yulianus Magai mengatakan, selama ini badan pengurus asrama putra Nabire Kampkey berjuang ekstra keras, untuk melengkapi kebutuhan asrama. Salah satu upaya yang dilakukan adalah berjualan di depan asrama.

 

“Jual rokok, pinang, dan kadang [kami] cari kerja borongan. Itu hal yang luar biasa. Kami buktikan bahwa kami juga bisa tanpa bantuan pemda,” kata Magai.

 

Menurut dia, asrama mahasiswa yang ditempati ini belum layak. Namun mahasiswa tetap bertahan meski Pemkab Nabire belum memberikan bantuan atau merenovasi asrama yang nyaman untuk belajar. (*)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *