Sial, Mama-mama Papua mengaku PB PON XX tidak pernah beli Noken

  • Bagikan
Mama Nelly Yeimo (kiri) kordinator pedagang Noken Meepago di Jayapura di taman Imbi, tempat jualan Noken - Yulianus Magai/wagadei.com

Jayapura, (WAGADEI) – Mama-mama Papua berasal dari wilayah adat Meepago yang berdomisili di Jayapura maupun yang datang dari Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai, dan Intan Jaya menggunakan kapal laut untuk berjualan nokan dan aksesoris lainnya di Jayapura dalam pesta Pekan Olahraga Nasional (PON) XX 2021 justru menelan pil pahit.

Pasalnya, semua dagangan mereka tak laku atau tidak dibeli oleh Panitia Besar PON selama pertandingan berlangsung.

Hal itu diungkapkan Mama Nelly Yeimo koordinator pedagang noken Meepago di Jayapura bahwa produk lokal sama sekali tak disentuh oleh PB PON, padahal PON XX 2021 di Papua bagi semua kalangan merupakan pesta besar.

“Namun, kami rasa rugi. Tidak ada yang dibeli oleh PB PON. Kenapa PB PON XX 2021 sama sekali  tidak membeli noken rajutan kami mama-mama Papua, lalu datangkan dari luar dengan sistem kontrak. Kenapa tidak dikontrak noken milik Mama-mama Papua. Kami Sangat menyesal sekali,” ujar mama Nelly Yeimo kepada wagadei.com saat temui di taman Imbi, Jayapura Kota, Rabu, (6/10/2021) tempat mama-mama pusatkan jualan Noken  selam PON XX 2921 berlangsung.

Yeimo menegaskan, jika PB PON adalah orang asli Papua (OAP) maka hargai jasa mama-mama Papua yang telah menetaskan keringat untuk merajut dan memelihara Noken. Maka diharapkan agar bisa habiskan noken rajutan mama-mama Papua.

“Harusnya PB PON bisa jadikan hadiah buat para atlet yang datang dari luar Papua, karena sementara ini masih belum terlambat,” ujarnya.

Ia menegaskan, pihaknya merasa ditinggalkan oleh PB PON XX 2021. Pasalnya PB PON hanya siapkan tempat di  stadion itu hanya tiga Mama Papua. “Kami merasa dipinggirkan. Jadi kami buat panitia kecil supaya semua mama-mama yang ada di Jayapura maupun yang datang dari wilayah Meepago bisa berjualan,” katanya.

“Kemudian kami buat surat permohonan masukan ke PB PON tertanggal 16 Juli 2021. Namun tak ada respon dari PB PON, maka saya bersama Sekertaris Mama Papua wilayah Meepago sepekat masukan surat ini ke beberapa lembaga yang ada, salah satunya MRP melalui Wakil Ketua II, Debora Mote,” jelasnya.

Selang waktu tiga hari, lanjut dia, Wakil Ketua II MRP menelepon Walikota Jayapura, keesokan harinya orang nomor satu di Kota Jayapura mengunjungi mereka.

“Kemudian tiga hari, Pak Walikota bilang ketemu jam 12 siang melalui ibu wakil ketua II MRP, lalu kami datangi ke sana. Beliau (Walikota) bilang mama-mama tidak boleh jualan di depan toko, nanti saya akan berikan tempat untuk mama-mama bisa jualan di taman Imbi.  Ya akhirnya pak Mano (Walikota) merasa bahwa kami mama-mama ini hadir juga untuk suksekan PON ini,” ungkapnya.

Ia mengatakan, pihaknya didukung oleh drg. Aloysius Giyai, Debora Mote, dan Walikota Jayapura, Dr. Benhur Tommy Mano serta diberikan bantuan uang sebesar Rp 40 juta oleh Bupati Paniai Meki Nawipa.

“Bapak Bupati Paniai berikan kami uang Rp 40 juta terimakasih banyak. Kami sudah bagi, semua orang yang ada di sekitar taman Imbi. Ya, termasuk penjual pentolan kami kasih satu orang Rp 100 ribu,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengunjung di tempat jualan cukup banyak, hanya saja wajah PB PON yang tidak belanja hasil rajutan tangan mama-mama Papua itu. (*)

 

 

 

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *