Pemuda kini tak boleh korban sejarah yang buruk

  • Bagikan
Narasumber Maiton Gurik saat menyampaikan materi - Yas Wenda/wagadei.com

 

Jayapura, (WAGADEI) – Tokoh pemuda Papua asal Lapago, Maiton Gurik menegaskan, generasi kini otaknya sudah canggih seiring berkembangnya zaman, karena itu pemuda hari ini harus tahu diri atas sejarah Papua dan tidak boleh korban sejarah yang buruk.

“Otsus dikasih oleh Jakarta itu karena orang Papua minta hak politik (merdeka), bukan orang Papua minta sekarang, tapi orang Papua sudah (pernah) merdeka pada tanggal 1 Desember 1961. Hari ini Jakarta kasih Otsus itu sebagai jalan tengah untuk menyelesaikan akar permasalahan Papua, tapi kini tak boleh korban sejarah yang buruk,” kata Maiton Gurik ketika menjadi narasumber saat workshop yang diselenggarakan Komisi Pemuda Gereja Baptis Papua Wilayah Tabi, Senin (27/09/21) di gedung Gereja Baptis Yame Ekspo, Kota Jayapura

Workshop tersebut dengan tema “Bagaimana pandangan pemuda gereja terhadap isu Otsus dan rasisme di tanah Papua”.

Menurut Gurik, rasisme harus dilawan siapapun apalagi pemuda gereja Baptis karena di dalam Kitab Suci Kejadian 1.27 “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia laki-laki dan perempuan”.

“Untuk itu kami sampaikan dalam Pemuda Gereja hari ini harus tahu karena itu adalah sejarah yang cacat hukum yang tidak demokratis yang pernah kita tahu Pepera tahun 1969. Pemuda Gereja mesti harus bersuara minta agar negara luruskan Pepera,” ujarnya.

Ia mengatakan, akar permasalahan pelanggaran HAM, tawarannya Otsus yang dikasih, dampak dari sejarah yang belum diluruskan yakni Papua dan Indonesia.

“Sejarah Pepera 1969 ataupun 17 Agustus kita pernah tahu yaitu Agreement New York tahun 1962, perjanjian yang dilakukan oleh Indonesia, Amerika dan Belanda dengan penuh konspirasi itu perlu kita sampaikan kepada sesama Pemuda Gereja supaya mereka tahu itu adalah adalah sejarah yang cacat,” katanya.

Sejarah yang cacat itu, lanjut dia, perlu diluruskan kembali oleh dua ras yang berbeda.

Ketua Pemuda Baptis Wilayah Tabi, Wilson Wenda mengatakan workshop tersebut tindaklanjuti program kerja pihaknya dari bidang pendidikan dan penalaran.

“Ini karena misi manusia kami sangat perhatin dengan situasi yang terjadi hari ini l, kami paham akar persoalan di Papua adalah masalah harga diri dan menentukan nasib sendiri yaitu merdeka,” katanya.

Pihaknya lakukan itu hal yang tidak bisa diselesaikan oleh hamba Tuhan di atas mimbar. “Maka kami akan bawah dalam diskusi, workshop, kajian-kajian ilmiah, diskusi publik,” ucapnya.

“Juga berhubungan bagimana orbitkan pemuda Gereja menjadi militan dalam Gereja, militan dalam pemerintahan dan juag militan dalam bisnisman dan juga semua instansi yang dengan karakteristik Kristus yang benar,” katanya. (*)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *