Nasib Anak Tiri Papua

  • Bagikan
Fransiskus Tsolme
Fransiskus Tsolme, mahasiswa STFT Fajar Timur Abepura, Papua - Wagadei/Dok. penulis

Nasibmu anak negeri cendrawasih
Yang dianaktirikan
Hidupmu seakan tak terlindungi dan
dijarah militerisasi negara

Kulitmu seakan jahat
Dan rambutmu seakan kasar,
Kini kau terabai, dihunus pedang-pedang  serakah negara hanya demi Rumahmu
Anak tiri Papua.

Mulai menginjak usia tua
Pada negara ini namun tragis hidupmu tak lagi dihargai bagai nasib anak tiri, berulang ulang nasibmu dipermainkan.

Kenangan indah  macam apa?
Kesucian rumahmu disobek-sobek perlahan hingga tak mengenal tangisan kemanusiaan terabai sirna nasibmu anak tiri Papua

Tangisan manusia yang membara tak terhingga, jeritan hati kian tertahan
Dan terus lahir darah nasib rakyat Papua seakan makhluk buruan.

Nasibmu kini bagai perantau dikejar dan dibunuh tanpa pendekatan manusia juga hati sebagai makhluk Tuhan yang disebut berwajah Allah.

Ruang dan jalan pergerakan di rumahmu tak lagi bebas
Suara keadilan dan kebenaran hanyalah polusi dan tergantung pada mulut senjata api.

Kajian tak lagi dengar
Suara-suara rakyat lemah
Semerbak pemimpin daerah
Telah lama dipermainkan demi
Lembar lembaran dalam saku
Hidupmu yang telah lama ditirikan.

Wajahmu tak terbaca
Pada cerminan hukum negara
Seakan hitam keadaanmu anarkis dan terpantul menuai jalan pecahan beling.

Nasibmu anak tiri Papua
Tak lagi dihargai, nasibmu diukur demi perut negara
Digara-gara hingga lahirkan darah.

Selama emas di Timika, sekarang Intan Jaya dan Papua kandungan harta karunmu habis kau dan suara emas hanyalah ukuran bedil oleh elite negara kau hanyalah nasib anak tiri.

Semerbak hukum detail genosida yang tak berkesudahan hitam dan keriting rambutmu nasib anak Papua sirna tak lagi tertolong.

Hitam keadaanmu
Telah lama diadu domba
Tanah Papua dengan emas
Hidupmu hanyalah Anak Tiri belaka.

Sadarkah bapa pemimpin
Seakan jati dirimu dihunus
Jeritan tangisan aliran darah beradu kedalaman Sungai Mamberamo berwarna darah.

Nasibmu anak tiri Papua
Trikora dan kepentingannya telah lahir untuk basmi segala kehidupan seakan mati menembus mautnya jiwa.

Nasibmu anak tiri Papua
Kau selalu terbuka memberi hati yang tak dihargai kapan sengaja hidup bertahan dalam janji palsu negara yang suka gara dengan hukumnya demi Rumahmu.

Karya:
Fransiskus Tsolme, mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur Abepura, Jayapura, Papua

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *