Cari Pekerjaan, bukan Cinta

  • Bagikan
Ilustrasi

NAMANYA Dia, wanita asal tanah Jawa, usianya baru masuk 26 tahun, lahir dan besar di kampung, tapi sekarang sudah menjadi kota. Suatu hari yang cerah, Dia duduk di teras rumah kayu jati dan bambu. Dia berpikir, sudahlah bosan hidup di lingkungan remaja di kampungnya pulang pagi, pergi pagi, di kota yang kini telah menjadi ibukota kabupaten yang sudah ramai dengan komunitas anak muda dan tua-tua elit politis.

Orangtuanya memaksa Dia harus bekerja menghasilkan uang sendiri untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Satu tahun mencari kerja di kotanya tapi tidak ketemu, semua lowonggan pekerjaan menerima orang yang memiliki gelar sarjana. Sayang, Dia hanya tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA). Suatu ketika teman kecil yang sudah lama di Papua sedang berlibur, pulang kampung (mudik), setelah Dia curhat, temanya ajak mencari kerja di Papua. Dia setuju dan akan berangkat. Dia harus bekerja menghasilkan uang sendiri. Tinggal satu malam, besok pagi terbang menuju tanah Papua.

“Orang Papua itu kaya gimana ya, saya kok jadi takut ya,” tanya Dia kepada temanya yang sudah lama di Papua sambil bergegas barang di rumah.

“Kaya kitalah, mereka baik. Cuma banyak orang yang suka berlebihan melihat Papua, kita baik mereka pasti baik, sama seperti manusia pada umumnya,” balas temanya.

“Saya bisa jadi PNS?,” tanya Dia yang selalu bermimpi bekerja setara dengan sarjana.

“Bisalah seperti temanku dari Jawa tengah, hanya satu tahun kerja di Diler Motor sekarang sudah jadi PNS,” jelas temanya.

“Oh…. Muda ya, berarti saya juga bisa dong,” balas Dia dengan senyum campur senang dalam hatinya.

“Ia, yang penting nanti sesuaikan dulu dengan pekerjaan baru,” balas temanya.

Sesampainya di Papua, Dia baru bekerja seminggu lebih sebagai karyawan di salah satu counter HP (handphone).

Sore hari yang cerah, langit bersenyum di atas tanah Papua. Dia ingin duduk di taman bunga seperti di Jawa. Mencari taman sekitar kota, tidak ketemu. Dia ketemu hanya bibir pantai dengan beberapa tempat duduk, terbuat dari kayu Matoa dan Besi.

Duduk sendiri mengamati laut yang berbedah dengan laut Jawa (di kampunya). Laut adalah hidup bagi para nelayan, seperti kedua orangtuanya di Jawa, Dia dibesarkan dari orangtua nelayan, berhari-hari di atas lautan biru.

Dia harus berpikir nasibnya tentang perjalanan dari Jawa hingga Papua. Dia santai memandang senja yang begitu indah sembari mencubit makan kacang tanah, milik mama asli Papua dan migran yang dijual di sepanjang pantai, wajah dan sinar matanya memandang laut luas.

Tidak menyangka, saling tatap. Senyum kecil di wajahnya. Dia yang tadi duduk, melihatnya aneh. Dia membalas senyum, tidak memaksa. Membalas senyum.

“Hai,” sapa Eko, datang kepada Dia yang sedang menyendiri. Eko, pria Papua yang tidak miliki pekerjaan walau punya titel Sarjana Ekonomi yang selesai dari kampus ternama di tanah Jawa tengah pada satu tahun yang lalu.

“Ia,” balasnya sembari membalik wajah, berdesir rambut hitamnya di wajah bulat, pucat. Eko senyum lebar.

Dia baru satu minggu di Papua. Eko ingin punya calon istri, tentu pacar dulu. Eko pria ganteng berumur dua puluh tujuh tahun, berjiwa sosial yang masih jomblo setelah pacarnya di Jawa minta putus ketika Ia harus balik Papua. Satu tahun lalu.

“Boleh kita saling kenal,” ucap Eko dengan percaya diri kepada Dia yang sudah duduk.

“Untuk apa?,” tanya Dia. “Kenalan saja dulu,” balasnya Eko tidak sabar. Wajahnya saling tatap.

“Kalau untuk cinta, maaf tidak,” balas Dia yang duduk pada Eko. “Kenapa?,” tanya Eko merasa aneh.

“Aku datang ke daerahmu mencari pekerjaan, bukan untuk cinta,” jelas Dia membuang sinar matanya dari wajah Eko.

“Oke, makasih,” balas Eko dan berhenti, menarik senyum dari wajah Dia, Eko pamit.

“Maaf ya,” minta Dia yang duduk. Eko melangkah dari Dia. “Ah saya salah, seharusnya saya berkenalan dulu, tapi tidak, Dia mencari kerja di Papua, bukan cinta,” pikir Eko.

“Ia, mat sore nona cantik, semoga kamu dapat kerja dan kita bertemu lagi,” balas Eko sambil melangkah pergi.

Eko menghilang dari Dia yang duduk melihat isi di atas laut, menjauh seperti kapal lepas tali dari pelabuhan Samabusa Nabire lepas ke pelabuhan Hollandia Jayapura, Papua.

Eko membalik wajah melihat Dia. Dia menunduk. Dia berpikir. Entahlah. Eko memotret tubuhnya. Mungkin akan berkisah di kota lebih dari kisah biasa. Dia menolak berkenalan, Dia mencari pekerjaan bukan cinta. (*)

Bersambung….

 

Cerita fiksi, mohon maaf jika ada kesamaan nama tokoh, lokasi dan lainnya.

banner 120x600
  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *