Melawan lupa Ekspo Berdarah, Mahasiswa Eksodus nyalakan ratusan lilin

  • Bagikan
Ratusan lilin dinyalakan sebagai bentuk kepedulian dan mengenang kembali tragedi Ekspo Berdarah 23 September 2019 lalu - Yulianus Magai/wagadei.com

Jayapura, (WAGADEI) – Guna mengenang kembali kasus Ekspo Waena Berdarah yang terjadi 23 September 2019 lalu bahkan mengakibatkan tiga mahasiswa dan satu siswa korban nyawa yakni Remanuk Wesareak, Yery Murib, Ason Mujijau dan Oter Wenda maka sejumlah mahasiswa eksodus yang berada di Jayapura menyalakan lilin pada Kamis, (23/9/2021) di asrama Nimnim Abepura, Kota Jayapura, Papua.

“Hari ini genap 3 tahun atas kepergian keempat kawan kami atas peristiwa Ekspo Berdarah . Maka kami memasang ratusan lilin, tandanya bahwa mereka sudah mati tetap bagi kami mereka adalah pahlawan dan tetap bersama kami. Bukan hanya mereka saja, tetapi semua pejuang Papua Barat yang mati ditembak oleh aparat keamanan tetap bersama kami,” ketua posko umum Yosni Iyowau kepada wagadei.com  usai pemasangan ratusan lilin.

Identitas keempat korban, sebagai berikut; Pertama, Remanuk Wesareak, umur 16 tahun, siswa Kelas XI, SMK Negeri VIII, kondisi tewas (meninggal) dengan luka tikam di bagian leher kanan, dan beberapa sobekan di telapak tangan hingga ke betis tangan bagin kiri.

Korban kedua, Yery Murib, umur 23 tahun, mahasiswa Universitas Sam Ratulangi Manado Jurusan Sosiologi dan Politik (semester akhir). Kondisi tewas (meninggal ) dengan luka tembak di bagian lengan tangan kiri dan dada bagian kiri.

Ketiga, Ason Mujijau, umur 20 tahun, mahasiswa Universitas Negeri Cenderawasih Jayapura jurusan Teknis Elektro semester I, kondisi tewas (meninggal dunia dengan tikaman di bagian pinggan kanan, leher dan perut dan di bagian kaki kiri tertembak patah).

Dan keempat, Oter Wenda, umur 23 tahun mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura, jurusan Pertanian, semester akhir.

Berdasarkan kejadian itu, Iyowau mengatakan, sangat terlihat jelas bahwa pendekatan aparat gabungan TNI Polri sangat anarkis terhadap mahasiwa eksodus korban rasisme 2019.

Karena itu, ia menegaskan, Rektor Uncen Jayapura segera bertanggungjawab penuh atas empat korban kejadian Ekspo – Waena berdarah 23 September 2019.

“Pangdam XVII/Cenderawasih dan Kapolda Papua segera perintahkan tangkap dan adili anggota TNI dan Polri selaku pelanggaran HAM,” ujarnya tegas.

Pihaknya juga mendesak kepada Kapolri RI dan Menkopulhukam segera usut tuntas insiden Ekspo Waena berdarah 23 September 2019 akibat kebijakan militerisme negara Indonesia yang buruk di Papua.

“Komnas HAM RI segera membentuk tim investigasi dan melakukan investigasi hingga penyelesaian perkara pelanggaran HAM atas fakta pelanggaran hak hidup milik Remanus Wesareak, Yery Murib, Ason Mujijau Dan Oter Wenda yang di jamin pada pasal 9 ayat (1), UU Nomor 39 Tahun 1999,” tuturnya.

Pihaknya juga meminta kepada Presiden Joko Widodo segera tarik pasukan organik maupun non organik di seluruh tanah Papua yang selama ini menjadi mesin pembunuh orang asli Papua sekarang juga.

Sekertaris umum maahasiswa Eksodus  Nduga, Osar Gie menambahkan rasisme telah menjadi faktor utama pendorong diskriminasi sosial, segregasi dan kekerasan rasial termasuk genosida terhadap orang Papua.

“Dalam kasus rasisme yang berawal dari Surabaya, Jwa Timur 2019, 57 orang Papua ditangkap dan ditahan di berbagai pejara di Indonesia dalam pandangan Pemerintah Indonesia tahanan tersebut bukan terkait dengan peristiwa politik melaikan pidana,” ujarnya.

Lanjut dia, Pemerintah dan Aparat Keamanan berusaha memisahkan rasisme dengan isu politik Papua aktor dan pelaku pengujar rasis justru di hukum ringan dari pada orang papua yang mendapat diskriminasi rasial di kenakan hukum lebih berat.

“Secara sadar tindakan ini adalah bentuk penegakan hukum yang sangat diakiriminatif dan rasialis perlakuan nya terhadap orang papua,” kata Osar. (*)

 

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *