Pendidikan tentang sejarah bangsa Papua sangat penting diketahui generasi muda

  • Bagikan
Iche Morip, Women Affair Minister, Provisional Government ULMWP - Yas Wenda/wagadei.com

 

Jayapura, (WAGADEI) – Mahasiswa asal Melendik dan Tikoyowa, Kabupaten Lanny Jaya yang sedang mengenyam pendidikan di Jayapura telah membuat sejarah baru. Pasalnya dalam kegiatan penerimaan mahasiswa baru angkatan tahun 2021 pihaknya mengundang seorang narasumber yang tak asing di tanah Papua dengan topik Sejarah Bangsa Papua.

Narasumber tersebut adalah Women Affair Minister, Provisional Government ULMWP, Iche Morip. Ia mengatakan, sebagai mahasiswa harus punya tanggungjawab atas situasi bangsa West Papua sehingga dapat mengerti tujuan rebut Papua oleh negara lain di dunia dengan kepentingan Sumber daya alam (SDA).

Dirinya memberikan apresiasi pada Panitia penerimaan mahasiswa baru Ikatan Keluarga Besar Wilayah Tikoyowa di jayapura telah ciptakan ruang, sehinga dapat salurkan pengetahuan tentang sejarah bangsa Papua . Sebagai Mahasiswa punya tangung jawab atas situasi bangsa kita sehingga dapat mengerti tujuan rebut papua oleh negara lain di dunia dengan kepentingan Sumber daya alam (SDA) di Papua.

“Kesadaran akan sejarah bangsa kita sangatlah penting, terus kembangkan, bekali diri agar kita mengerti tujuan negara diatas tanah Papua,” kata Iche Morip kepada wartawan di Sentani, Sabtu, (18/9/2021).

Ia mengatakan, sambil kuliah sambil berjuang untuk menentukan nasib bangsa Papua sehingga diri sendirilah yang akan merubah menentukan keluar dari kolonialisme, militerisme, fasimisme, rasisme, dan liberalisme di atas tanah Papua.

Selain itu Iche menjelaskan nama OPM pertama organisasi dan perjuangan menuju kemerdekaan Papua Barat oleh Lodwik Mandacan dan kawan-kawannya. Rekayasa New York Agreement tahun 1963, Roma Agreement 1962 dan Pepera 1969, kontrak karya PT Freeport 1967 sebelum PEPERA. Otsus, pemekaran dan operasi-operasi militer di Papua sejak 1961 sampai 2021 sudah 58 tahun bangsa Papua dijaajah dan ditindas.

“Sejarah politik yang dianeksasi 1962. Ketidakadilan, rasisme, fasisme, kapitalisme, militerisme, pelanggaran HAM, diskriminasi semua kejahatan N
Negara harus dihentikan dengan cara berjuang damai dan bermartabat,” ujarnya.

Ia mengaku, setiap kegiatan mahasiswa Papua jarang diminta materi tentang sejarah Papua Merdeka, namun kini kali pertama diberikan kesempatan kepada aktivis Papua Merdeka sampaikan materi tentang sejarah bangsa kita.

“Secara khusus saya apresiasi untuk panitia karena telah membuka ruang untuk sampaikan materi sejarah Papua. Kemudian dapat memahami sejarah Papua dan bagaimana agar tahu kebenaran tentang bangsa Papua,” ucapnya.

Ia menambahkan, mereka sendiri mengetahui konspirasi dilakukan negara merebut Papua terutama Belanda, Amerika dan Indonesia juga negara lain punya investasi di atas tanah Papua. (*)

Penulis: Yas WendaEditor: Aweidabii Bazil
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *