Sa bukan ko pu istri lagi

  • Bagikan
Foto Ist

Oleh : Theresia Tekege (Tegey)

 

Sudah, ko tra usah paksa sa lagi untuk sayang ko. Ko terlalu jahat untuk sa cinta. Sekarang ko boleh pergi, Sa yakin jika kita jodoh, cinta akan bawa ko pulang.

*****

Senja di barat pulau Biak sore ini sungguh memanjakan mata. Langit berwarna kemerahan menyihir setiap mata yang menyaksikannya untuk berpose ria. Aku meraih Hp dari dalam tas dan mengirimkan pesan singkat kepada pacarku. Yan namanya.

“Sayang, bisa jemput sa k? Kita pergi foto-foto di pante Bosnik. Senja bagus skali tu.” Sekali klik, pesan langsung terikirim kepada kekasihku.

Tak lama menunggu, Yan balas pesanku.

“Ko siap eee Oliv, sedikit lagi sa smpe.”

Segera sa berlari ke kamar mandi dan setelahnya bersiap diri menunggu Yan Tiba.  Hanya 10 menit berlalu, Yan su sampe depan rumah. Lalu kami segera tancap gas.

Dalam perjalanan menuju pantai bosnik, Yan banyak berbicara.  Dia juga  menjelaskan tentang  Tugu Pepera yang kami temui di tengah kota Biak

“Sayang, ko lihat tugu itu, ko tau dia pu nama to, itu Tugu Pepera,” cerita Yan mulai menjelaskan.

Karena cerita asyik, kami berhenti sebentar. Saya meminta kekasihku untuk bercerita sedikit soal Tugu itu. Dia tahu banyak hal, karena Yn, selain mahasiswa di sekolah tinggi kota Biak, ia juga mengisi setiap harinya dengan membaca, diskusi dan aksi seputar persoalan sosial, politik, ekonomi dan budaya orang Papua di kota ini.

“Kenapa tugu ini pu nama Tugu Pepera? Apakah ini ada kaitannya dengan pelanggaran HAM dimasa lalu?”

Saya sudah mulai membuka diskusi.

Yan menghela nafas. Dia diam beberapa saat, memikirkan bagaimana dia menjelaskan. Lalu, pelan-pelan Ia mulai cerita.

“Sayang, dulu, orang tua kita, termasuk ko pu nene dan tete mungkin, mereka di paksa, dipukuli, bahkan ada yang dibunuh di bawah tugu ini agar leluhur kita mengakui Indonesia sebagai Negaranya. Di tugu ini banyak darah telah tertumpah demi mempertahankan Identitas kita sebagai hitam kulit dan keriting rambut setelah Belanda lepas tangan.”

Yan cerita panjang lebar.  Ternyata ada juga orang-orang terdekat kami yang telah jadi korban. Saya sedih,marah, kesal dengan kelakuan negara ini. Tiba-tiba airmataku sudah tak terbendung lagi. Saya menangis.

“Kenapa aparat setega itu?”

Yang lanjut bercerita.

“Sayang,  ko tau to, tanah kita ini sangat Kaya. Di Timika ada Tembagapura, penghasil emas dan tembaga terbanyak di dunia. Di Merauke minyak, hutan dan Rusa. Di Sorong ada minyak juga. Dimana-mana di tanah kita ini ada mineralnya. Kekayaan alam kita itu adalah salah satu alasan semua pelanggaran HAM. Karena kita melawan saat semua hak atas kekayaan kita ingin kita lindungi.”

Kami bercerita banyak hal. Saya mulai memahami situasi sebenarnya di Papua. Dalam hati, saya menyalahkan Tuhan, kenapa Ia membiarkan orang-orang setegah itu berlaku kasar dan kejam.

Usai Yan banyak bercerita, saya meminta kepada Yan untuk tidak pernah mengkhianati jalan yang Ia pilih sekarang.

“Yan, ko  tetap seperti ini eee. Bersuara terus untuk Tanah kita,” begitu kataku kepada Yan untuk terus mencintai ralan revolusi yang ia pilih. Saya ingin kekasihku seorang pejuang.

Jam menunjukkan pukul 17:30. Kami masih di depan tugu. Senja di Pantai Bosnik semakin menyihirku dan menarikku untuk menikmatinya dari pantai.

Sebelum pergi, saya meminta Yan untuk memotretku. “Supaya saya tidak lupa akan cerita di Tugu ini, perjalanan dan cerita kita hari ini,” kataku.

15 menit setelah melewati bising kota, kami tiba di Pantai Bosnik. Pantai ini sangat indah. Di sebelah barat ada Café. Di sebelah timur ada jalan melintas menuju kota. Di sebelah selatan ada bangunan-bangunan peninggalan Belanda yang masih awet. Di sebelah Utara ada banyak orang bercanda gurau sambil berfoto ria.

Kami mengambil tempat duduk di ujung Cafe yang melatarbelakangi senja. Beberapa foto sudah kami abadikan dalam Hp masing masing.

Kami  duduk lama di Cafe itu, menceritakan banyak tentang kota ini dan berkeliling Papua dalam cerita. Lalu akhirnya berakhir pada cerita tentang masa depan kami.

Sebelum meninggalkan Cafe di pantai ini, Yan merangkulku, ia memegang tanganku. Dengan mesranya ia mengecupkan satu ciuman di keningku. Dalam pelukan mesra, Yan berjanji setia padaku. Bahkan setelah dari rumah, ciumannya itu masih terasa hangat di keningku.

 

“Olive, setelah sa pu kuliah selesai, sa akan Calon DPR di kabupaten, Provinsi atau Pusat.  S Supaya aspirasi yang selama ini sa teriak cape di jalan, bisa sa perjuangkan sendiri ketika berada dalam lembaga perwakilan rakyat itu. Sa harap, dalam susah dan senang, ko harus selalu ada di samping jadi pelengkap.” Kata-katanya ini menyihirku. Membuatku menjadi orang terpenting dalam hidupnya. Dan aku bangga dengan itu.

Saya mengangguk. Tersenyum. Bahagia. Tak lupa saya berjanji untuk selalu bersamanya walau badai datang menghantam samudera cinta kami ke depan.

***

Tujuh tahun berlalu. Kami sudah menikah dan punya anak.

Sebagian elit Papua sibuk pesta pemilu dewan perwakilan rakyat (DPR) dari pusat hingga daerah. Yan meminta restuku untuk calon anggota legislatif. Saya dengan setia mendampingi Yan melalui proses pengurusan berkas, pendaftaran, kampanye hingga tahap pemilihan.

5 Tahun ia menjadi anggota DPR provinsi dan 5 tahun berikutnya Ia mencalonkan diri menjadi anggota DPR RI di Jakarta.

Dalam Janji-janji kampanyenya, Yan berjanji akan menjadi perpanjangan tangan menyampaikan aspirasi rakyat yang selama ini dibungkam. Masyarakat percaya, karena Yan habiskan masa kuliahnya untuk rakyat kecil.

Satu kursi panas Ia dapatkan. Yan sudah dilantik menjadi Anggota DPR RI. Kini masyarakat akan menyaksikan semua janjinya. “Saya berdoa agar suamiku dituntun Tuhan menjadi wakil rakyat yang sesungguhnya.

Tahun pertama berlalu, kota asalnya tak pernah ia kunjungi. Sudah banyak kudengar suara kecewa dari rakyat pemilih. Saya mulai mengingatkan Yan. Tapi bahkan kepadaku ia jarang datang. Semua situasi dengan cepat berubah.

Sejak ke Jakarta dua tahun lalu, kami hanya berhubungan melalui telepon dan media sosial. Tak pernah sekalipun kami bertatap muka. Karena itu, belakangan ini, kuputuskan tidak lagi menggunakan media sosial. Terutama setelah mendengar kabar akan ada pendamping hidup yang lain, yang mungkin lebih baik dariku.

Tahun kedua, Yan terpilih menjadi ketua Pansus Pembahasan Perpanjangan Otsus Papua Jilid II. Kabar ini aku tahu dari cerita orang-orang. Saya bersyukur atas kesempatan ini, akhirnya suamiku dipakai Tuhan menyatakan kuasanya untuk rakyat Papua.

Walau sudah dua tahun kami tak jumpa, mulai kubuka media sosial dan media masa. Kucari tahu kabar suamiku dan bagaimana suamiku bekerja sebagai ketua Pansus. Malam itu dan seterusnya, kuhabiskan waktu tiap malam untuk mendoakannya.

Berhubung jaringan internet kurang baik, dan sakitnya anakku, membuatku lebih banyak di rumah sakit dan bekerja. Setiap kali kuhubungi nomor telepon suamiku, selalu tidak aktif. Pernah aktif dua kali, tapi mungkin karena dengan nada tinggi kujelaskan soal sakitnya anak kami di RSUD Biak, dan ditambah lagi dengan kesibukannya di Pansus, dan juga karena ia kini dengan keluarga baru, maka setelah itu hingga saat ini Hpnya tidak aktif.

Baru beberapa bulan setelahnya, setelah anakku dioperasi dan sembuh, mulai kubuka media sosial, membaca berita, dan kuikuti berita-berita tentang kerja Pansus.

Saya kaget halaman Fesbuk semua keluarga dan teman-temanku dipenuhi cacian, makian, ungkapan sakit hati rakyat yang selama ini mendukung Yan. Mereka yang telah menghantar Yan ke kursi DPR RI itu kini mengekspresikan sikap tidak hormat, marah, kecewa.

Saya jadi tahu masalahnya. Suamiku telah menjadi ketua Pansus yang melanggengkan perpanjangan Otsus Jilid II di Papua. Hingga tahun 2041 nanti.

Tak banyak yang kulakukan setelahnya. Kecewa tentu saja iya. Sangat kecewa. Begitu cepat suamiku yang kukagumi itu berubah.

Saya akhirnya sampai pada satu keputusan: membuat komitmen baru untuk tidak lagi memiliki hubungan dengan orang seperti Yan. Tak sudi saya hidup bersama pengecut sepertinya. Pantas dia mengkhianati saya yang kecil ini, tanah air, tulang-belulang leluhur, kata-kata dan semangatnya saja sudah ia khianati.

Nomor Hpnya kuhapus setelah pesan berikut ini terkirim padanya.

“Yan. Terimakasih ko sudah buat sa bangga karena menikahi saya untuk menemani ko di jalan revolusimu. Mimpi kebebasan itu membuatku seperti ratu yang terhormat. Tapi kini ko su tinggalkan sa. Sa tra sangka ko setegah ini gadai rakyatmu yang ko cinta dulu. Maaf sa harus ingkari janji untuk bersama ko sehidup semati. Mulai saat ini, sa bukan ko pu istri lagi. Titik.”

[]

 

 

banner 120x600
  • Bagikan

Respon (3)

  1. Mantap ulasan cerpen’nya, semua hal yang berkaitan dengan rasa, ada terkandung di dalamnya;
    Ada rasa bahagia, rasa terharu, rasa sedih, dan rasa kecewanya.

    Saya secara pribadi paham, apa makna dari pada ulasan cerpen ini, namun kurangnya itu cuma satu aktor saja (Pengesah) yang dimuat;
    Aktor-aktor (Perumus) yang lain tidak ada kah.??;
    Mungkin setelah ini, diperlengkapi lagi dengan aktor-aktornya yang lain, biar semua jelas terarah, dan makin tambah seruh dalam membacakannya, dengan konsep yang dipakai penulis, sallam.✍️👏

  2. Terlalu naik tangga tinggi…JD mau lihat tangga dasar su tdk terlihat, hanya yang jauh yang terlihat.
    Jika pandang yang jauh dan lupa yang dekat serta yang indah”
    Tak tau jalan tuk kembali.
    Itu lah kehidupan manusiawi.
    Tak perna puass ….dan akhirnya akan tiba penyesalan.
    🤗💓
    Wanita yang setia dan punya prinsip.
    Priaa yang yg berabisi tinggi namun, tak punya prinsip.
    Heheeh….tetap berkarya dalam cerpen nya.🤗

  3. Terlalu naik tangga tinggi…JD mau lihat tangga dasar su tdk terlihat, hanya yang jauh yang terlihat.
    Jika pandang yang jauh dan lupa yang dekat serta yang indah”
    Tak tau jalan tuk kembali.
    Itu lah kehidupan manusiawi.
    Tak perna puass ….dan akhirnya akan tiba penyesalan.
    🤗💓
    Wanita yang setia dan punya prinsip.
    Priaa yang yg berabisi tinggi namun, tak punya prinsip.
    Heheeh….tetap berkarya dalam cerpen nya.🤗

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *