Takut ditangkap dan dibunuh, masyarakat Maybrat mengungsi ke hutan

  • Bagikan

Nabire, (WAGADEI) – Puluhan mahasiswa-mahasiswi asal Papua dan Papua Barat yang tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa Manokwari Peduli Maybrat desak Presiden republik Indonesia, Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Kepala Satuan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (Kasat TNI-AD) untuk menghentikan penyisiran di Maybrat, Papua Barat.

 

Bram Sakof, kordinator lapangan (korLap) mahasiswa peduli Maybrat menjelaskan, atas tindakan saling serang antara TNI dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TNPB) di Kampung Aisor, Maybrat, Papua Barat mengakibatkan masyarakat sipil harus melarikan diri ke hutan karena ketakutan hingga saat ini masih berada di hutan.

 

“Beberapa hari lalu akibat insiden pembunuhan terhadap aparat TNI AD oleh OTK yang terjadi di Kampung Kisor, Kabupaten Maybrat mengakibatkan masyarakat sipil dalam hal ini orang tua, anak-anak dan ibu-ibu mengungsikan diri ke hutan karena terjadi penyisiran dari aparat keamanan dan militer di Maybrat,” katanya melalui keterangan persnya, Senin, (13/9/2021).

 

Melihat itu, lanjut dia, pihaknya mendesak Pemerintah RI segera hentikan penyisiran di Maybrat agar orangtua bisa kembali ke rumah mereka.

 

Marthen Sesa, Ketua Sub Ayamaru Raya menjelaskan, pengungsian terus terjadi, masyarakat meninggalkan rumah, kebun, lokasi dan tempat kerja untuk selamatkan diri ke hutan.

 

Pihaknya juga turut desak Pemerintah provinsi Papua Barat, Pemerintah Kabupaten Maybrat, Pemerintah Republik Indonesia dan seluruh lapisan masyarakat untuk memikirkan nasib masyarakat aisor selama pengungsian di hutan.

 

“Masyarakat mengungsi, bapak-bapak, Ibu-ibu, anak-anak semua mengungsi dan pasti mereka kelaparan di hutan. Pemprov Papua Barat, Pemda Maybrat, Pemerintah RI dan semua pihak harus berpikir selamatkan masyarakat aisor dari hutan. Masyarakat harus diamankan ditempat yang nyaman,” katanya tegas.

 

Pihaknya juga menyampaikan turut berdukacita yang sangat mendalam atas gugurnya petugas TNI AD dalam insiden di Kabupaten Maybrat.

 

“Kami solidaritas mahasiswa mahasiswi kota studi Manokwari memohon hentikan penyisiran terhadap masyarakat sipil di Kabupaten Maybrat. Kami solidaritas mahasiswa mahasiswi kota studi manokwari meminta kepada Pangdam Kasuari XVIII agar jangan sewenang wenang mengambil keputusan untuk melakukan operasi militer di bumi Maybrat,” katanya.

 

Sesa meminta kepada pemerintah Maybrat secara tegas untuk membatasi mobilisasi TNI dan POLRI di kabupaten Maybrat.

 

“Kami solidaritas mahasiswa mahasiswi kota studi Manokwari meminta kepada pemerintah kabupaten maybrat memberikan jaminan perlindungan kepada masyarakat sipil di Kabupaten Maybrat dan membuka posko induk pengungsian terhadap masyarakat Kabupaten Maybrat yang hari ini trauma atas insiden yang terjadi,” katanya. (*)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *