Demi kenyamanan daerah, Distrik Tigi Timur akan buat Perdis

  • Bagikan
Suasana pertemuan terkait kestabilan wilayah Tigi Timur - Ist

Deiyai, (WAGADEI) – Distrik Tigi Timur, Kabupaten Deiyai bakal membuat peraturan distrik (Perdis) tentang kenyamanan daerah agar terhindar dari berbagai hal negatif yang menimbulkan kekacauan, amarah dan dendam.

Hal itu terungkap ketika dilakukan pertemuan antara Kepala Distrik Tigi Timur Lukas Doo, Kapolsek Tigi Timur, IPDA Andi Mote bersama 10 kepala kampung, kepala suku, tokoh pemuda, tokoh perempuan, tokoh adat, tokoh agama dan seluruh masyarakat pada Minggu, (11/9/2021).

“Kemarin kami melakukan pertemuan menyangkut Kamtibmas di wilayah Distrik Tigi Timur. Ini untuk hidup sebagai kekeluargaan tanpa ada tindakan kekerasan. Banyak orang seperti mabuk-mabukan masuk sering kacaukan, dan ada lain juga,” kata Lukas Doo melalui selulernya, Senin, (12/9/2021).

10 kampung di Distrik Tigi Timur diantaranya kampung Damabagata, Edagotadi, Watiyai, Kokobaya, Daakebo, Bagumoma, Dagokebo, Ipokeugida, Waitakotu, Pekepa,Udaugida, Idaiyodagi, bagou I, bagou II

Ia mengatakan, sejak distrik hadir di Tigi Timur belum pernah melakukan pertemuan besar-besaran terkait kenyamanan daerah sehingga seluruh komponen menyambut baik atas rencana dibuatnya Persid tersebut.

“Nanti kami akan buat peraturan kampung. Jadi 10 kampung di wilayah Tigi Timur buat peraturan kampung, selanjutnya kami buat peraturan distrik. Pokoknya tentang larangan-larangan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain salah satu pelarangan minuman keras di wilayah Tigi Timur,” ungkapnya.

Kesempatan itu salah satu poin yang disepakati adalah, jika seseorang melakukan mabuk di Waghete, ibukota Kabupaten Deiyai maka tak perlu melakukan pembelaan lagi.

“Kalau seseorang mabuk di Waghete lalu terjadi masalah di sana, maka dia wajib menyelesaikan sendiri di Waghete. Bukan bawah ke Tigi Timur, itu kami tegas tolak. Kami mau hidup aman, dan nyaman,” kata dia.

Selain itu, jika terjadi masalah di salah satu RT, maka RT lain tidak berhak mengambil alih. “RT tersebut yang menyelesaikan sendiri. Kalau sampai tidak mampu maka beralih ke kepala kampung atau Kepala Suku lalu ke Distrik,” ucapnya.

“Segala tindakan yang terjadi di wilayah Tigi Timur harus bertanggungjawab oleh pelaku,” katanya.

Di hadapan 10 kepala kampung, ia mengatakan, setelah pencairan dana desa kepala kampung harus bawah ke balai desa, bukan bagi-bagi di kota atau tempat lain.

“Setelah tiba di balai desa itu barulah berurusan dengan masyarakat yang bersangkutan dan pembagian harus rata sesuai dengan rencana anggaran belanja,” katanya

Tokoh perempuan Distrik Tigi Timur, Naomi Edowai menyatakan sangat mendukung atas keinginan pemerintah distrik maupun 10 kampung. Sebab hal itu salah satunya guna menyelamatkan generasi muda yang kebanyakan meninggal dunia karena mengkonsumsi minuman keras.

“Kami sangat mendukung, bahkan segera buatkan. Jangan terlalu lalu. Kita lihat setiap hari ada mabuk-mabukan, bikin keonaran. Sehingga harapan hidup makin menurun. Juga banyak permasalahan yang mestinya dibuatkan aturan lalu sosialisasi supaya ada perubahan,” ucapnya. (*)

 

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *