Bukan sembah patung, tetapi menghormati Ibu Sang Juru Selamat

  • Bagikan
Perarakan Patung Bunda Maria oleh umat Katolik Paroki St. Antonius Padua Bumi Wonorejo Nabire di Topo, Rabu, (8/9/2021) - Yamoye'AB

 

Nabire, [WAGADEI] – Dalam rangka merayakan pesta kelahiran Santa Perawan Maria, 8 September 2021, umat Paroki St. Antonius Padua Bumi Wonorejo Nabire, Dekenat Teluk Cenderawasih, Keuskupan Timika, Papua melaksanakan pawai patung Bunda Maria.

Perarakan tersebut dimulai dari halaman gereja Katolik St. Antonius Padua Bumi Wonorejo turun ke Kali Bobo, belok di tugu Cenderawasih Oyehe ke jalan Merdeka, selanjutnya dari pertigaan Auri menuju Wonorejo dan arak-arakan ke Stasi Kristus Raja Topo. Perarakan itu sebagai karya keselamatan Allah berawal dari yang sederhana.

Acara tersebut dilanjutkan dengan misa liturgi dan Ekaristi yang dipimpin oleh Pastor Paroki St. Antonius Padua Bumi Wonorejo Nabire P. Benyamin Sugiyatanggu Awii Topiyai Magai, Pr dan Pastor Paroki Kristus Sahabat Kita (KSK) Bukit Meriam Nabire, P. Yohanes Agus Setiyono, SJ.

Pastor Paroki St. Antonius Padua Bumi Wonorejo, P. Benyamin Sugiyatanggu Awii Topiyai Magay, Pr mengatakan, Bunda Maria tidak bisa lepas dari rencana keselamatan Allah. Ketika Allah menyiapkan karya keselamatan-Nya, Bunda Maria diikutsertakan untuk menjadi bagian dari seluruh peristiwa tersebut.

Kadangkala, lanjut Magay, banyak pihak masih salah kaprah bahwa umat Katolik menyembah bahkan mengkultuskan Maria. Sesungguhnya berdoa bersama Bunda Maria bukan berarti menyembahnya, tetapi menghormatinya sebagai ibu Sang Juru selamat.

“Ketika kita berdoa dan menghormati Bunda Maria berarti kita percaya bahwa lewat doanya pun doa-doa kita didengar dan disampaikan kepada Puteranya yakni Tuhan Yesus,” ujar Pater Magay.

Ia menjelaskan, menghormati Bunda Maria karena Tuhan Yesus dilahirkan oleh dia. Yesus hadir untuk umat manusia, mati untuk kita dan membawa keselamatan untuk kita.

“Di balik patung inilah yang kita lihat, Bunda Maria telah melahirkan seorang manusia yang dikandung dari Roh Kudus untuk menebus dosa manusia di dunia,” katanya.

Ia mencontohkan dalam kehidupan sehari-hari, orang yang dicintai meninggal lalu melihat foto seseorang yang meninggal dunia itu lalu menangis tersedu-sedu, padahal itu hanya kertas saja. “Tidak, di balik foto orang meninggal dunia itu menggambarkan pengalaman-pengalaman hidup yang baik, ada kenangan indah, ada nasehat hidup yang baik,” ucapnya.

“Kita (umat Katolik) harus menghormati Bunda Maria karena dia mama bumi, karena dia mama gereja, karena dia mama kita,” ujar dia.

Ia mengaku dalam budaya orang asli Papua menghayati bahwa tanah adalah mama yang memberikan hidup melalui makanan, minuman dan semua yang ada di atas tanah.

“Apapun yang kita pakai adalah hasil dari bumi. Maka Bunda Maria adalah mama bumi,” imbuhnya.

“Mama gereja karena tempat kita menghayati hidup melalui Yesus Kristus yang dilahirkan oleh Bunda Maria. Bunda Maria juga adalah mama kita semua yang selalu hadir untuk mendoakan kita, maupun mama-mama yang melahirkan kita selalu mendoakan kita,” ungkapnya.

Kesempatan itu ia meminta kepada semua pihak makin memahami silsilah keturunan sebagaimana Tuhan Yesus juga memiliki silsilah keturunan yang jelas.

“Tetek saya siapa, nenek saya siapa, bapa saya siapa, mama saya siapa sampai seterusnya. Karena mereka, maka kita bisa hadir di dunia. Karena mereka, maka kita bisa menghayati hidup. Karena mereka, maka kita bisa merasakan kehidupan,” katanya.

 

****

Hiasi Patung Bunda Maria dengan pakaian adat Meepago

Pastor Magai yang ditahbiskan pada 11 Oktober 2020 di Gereja Katolik Kristus Sahabat Kita (KSK) Bukit Meriam Nabire bersama P. Nikolaus Wakei ini mengatakan Tuhan Yesus juga punya silsilah keturunan. Yesus harus lahir seperti manusia. Yesus bukan tiba-tiba turun dari langit, tetapi ia digunakan dengan cara manusia.

Ia lahir secara manusia, dibesarkan secara manusia dan mati untuk menebus dosa umat manusia.

“Maka Patung Bunda Maria dihiasi dengan budaya Papua. Karena ia datang ke sini bawa masuk dalam budaya kita. Dia datang ke sini untuk mau jadi ibu kita apapun situasi dan apapun kondisinya,” kata Magai.

Ketika Hawa sudah jatuh ke dalam dosa, menurut Magay, Allah secara tidak langsung menyiapkan Maria sebagai Hawa baru. Sang Juruselamat akan lahir dari rahimnya. Maria ikut ambil bagian penting dari peristiwa keselamatan.

Sebagai umat beriman ia mengajak, kadangkala hanya semua pihak melihat karya keselamatan Allah dari satu sudut pandang, yakni Yesus sebagai Sang Juruselamat Dunia. Tapi, umat manusia diajak juga untuk melihat secara menyeluruh bahwa karya keselamatan Allah yang melalui Yesus tidak lepas juga dari peran sang ibu.

***

Umat Stasi Kristus Raja Topo beri nama “Inii Idima Kaa Amai”

Saat misa liturgi di Gereja Katolik Stasi Kristus Raja Topo yang dipimpin oleh P. Benyamin Magai dan P. Yohanes Agus Setiyono, SJ dilakukan pemberkatan terhadap patung Bunda Maria, goa Bunda Maria dan umat setempat memberikan nama kepada Bunda Maria yang diantar dengan pawai budaya itu.

Tetua adat Mee asal Mapia setempat yang diberikan tugas dipersilahkan untuk memberikan nama kepada Bunda Maria dalam bahasa Mee berdialek Mapia; “Inii Idima Kaa Amai” yang artinya Bunda Maria Ibu Kita Bersama dilanjutkan dengan Yuu, Nyanyian dan Puji-pujian.

Peristiwa hari ini, 8 September 2020, Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria (Roma 8:28-30; Matius 1:18-23), juga mau mengingatkan bahwa karya keselamatan Allah berawal dari sebuah hal yang sederhana, hal yang tidak diduga-duga, hal yang tidak disangka, tetapi memiliki tanggung jawab dan keterbukaan hati yang luar biasa.

“Lewat Maria, hari ini kita diundang untuk membuka hati dan pikiran kita, memohon rahmat Allah untuk mampu melihat dan menjalani hidup kita dengan cara pandang dan kesiapan hati. Semoga kita mampu meneladani Maria dalam hidup kita sehari-hari,” katanya. (*)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *