PHP Dev Cloud Hosting

Surat terbuka kepada Uskup Manokwari-Sorong

  • Bagikan

Dari : Soleman ItlayUmat katolik di Tanah Papua tinggal di kota Jayapura

Gmail: dani.tribesman@gmail.com

 

Ditujukan secara khusus kepada Yang Mulia,

Uskup Manokwari-Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, PR di Sorong, Papua Barat, Indonesia.

 

Salam damai Tuhan, Yang Mulia. Saya ingin menyapa bapa uskup dengan rendah hati dan pikiran yang sejuk. Namun, tetap dengan jiwa raga yang penuh gelisah tak kunjung akhir. Ijinkan saya untuk berjumpa dengan bapa uskup dengan senang hati melalui Surat Terbuka yang amat sederhana ini.

 

Saya amat senang ketika melihat beberapa foto dibawah. Bapa uskup nampak jalan kaki. Lagi-lagi kaki kosong. Sampai kaki kotor kena becek sambil pegang tongkat di tangan. Tanpa mengenal rasa lelah di usia yang boleh dikatakan menuju senja dan dengan sedikit rambut putih yang menunjukkan mahkota emas yang luar biasa.

 

Terimakasih karena bapa uskup memiliki semangat tinggi untuk melayani umat–mengunjungi umat di pedalaman yang membutuhkan Sabda Cinta Tuhan Allah, Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Tapi sekarang saya mau bilang sama bapa uskup satu hal saja. Bahwa umat tidak lagi butuh Firman yang monoton di gedung Gereja. Justru mereka butuh pewartaan Sabda ilahi yang sama secara kontekstual.

 

Bapa Uskup, sebelum bicara lebih lanjut, saya ingin berangkat dari pengalaman saya di Keuskupan Jayapura belum lama ini.

 

Pada 2018 lalu saya pernah bertemu beberapa tokoh katolik di Keuskupan Jayapura. Saat itu kami bicara soal peristiwa kontak senjata di kabupaten Nduga, yang secara mayoritas menjadi basis Gereja Kemah Injil (Kingmi) Papua atau GKIP, yang digembalakan oleh bapak pendeta Benny Giyai.

 

Dimana pada saat itu kelompok TPNPB/OPM dibawah komando Eginaus Kogeya diduga menembak 17 karyawan PT. Askita Karya. Kemudian hingga saat ini menimbulkan ‘Ndugama’ terus menyala, menyala dan menyala–bakal sangat menarik karena menjadi konflik bersenjata yang paling berkepanjangan di Indonesia pada sebuah kabupaten pemekaran Daerah Otonom Baru (DOB) setingkat daerah itu.

 

Saya bertanya kepada beberapa orang yang beragama katolik disini: bisakah tidak, bapa uskup Jayapura bicara soal situasi Nduga ini, terutama nasib dan masa depan umat Allah disana?

 

Bicara dari segi kemanusiaan saja. Bukan politis.

 

Paling tidak mengikuti jejak uskup pendahulunya, Herman Munninghof OFM yang berperan penting dalam operasi militer Mampeduma akibat penyanderaan beberapa peneliti dan jurnalis asing yang melibatkan seorang tokoh nasionalis katolik, Kelik Kwalik pada 1998.

 

Herman Munninghof bertindak sebagai gereja katolik yang universal. Beliau bangun pendekatan persuasif karena di dalamnya ada tokoh gerilyawan nasional yang beragama katolik.

 

Tetapi di lain sisi di bertindak karena solidaritas demi kemanusiaan yang mulia. Apa yang amat melampaui batas segala paham dan agamanya.

 

Nduga pada saat itu dan hingga saat ini memang daerah yang bukan menjadi basis katolik. Tetapi demi keselamatan, dan perdamaian, ia bertindak tanpa memandang buluh diskriminasi pastoral.

 

Saat itu kami diskusi di perumnas dua Waena, kota Jayapura. Dalam pertemuan itu, saya dengar bahwa bapa uskup menolak untuk bicara Nduga. Termasuk hanya untuk menyerukan perdamaian demi keselamatan umat (nyawa) dari masyarakat sipil, anggota TPNPB/OPM dan TNI/Polri yang telah gugur atau yang lain masih hidup hingga saat ini.

 

Alasannya, karena Nduga bukan basis umat katolik di Keuskupan Jayapura. Jadi bapa uskup Jayapura menolak. Ini langsung disampaikan oleh orang-orang dekat dan yang pernah bicara dengan bapa uskup Jayapura perihal konflik berkepanjangan di Ndugama.

 

Bapa uskup, mengapa untuk bicara persoalan perusahaan sawit, bupati Sorong, Jhoni Kamuru dan masyarakat adat di Sorong situ saya harus berangkat dari pengalaman masalah konflik di Mampeduma, masyarakat sipil dan Keuskupan Jayapura sini?

 

Tujuannya sederhana, adalah agar kita tidak pilah-pilihkan masalah, kemanusiaan (nasib dan masa depan umat) berdasarkan suku, agama, ras dan kelas sosial.

 

Tetapi karena kita semua hidup dan berkarya di satu tanah air, negara dan bukan benua yang berbeda-beda, maka kita harus menjadikan suka duka sesama sebagai suka duka bersama. Juga suka duka umat manusia sebagai suka duka gereja katolik di tanah Papua, khususnya Keuskupan Manokwari-Sorong.

 

Saya percaya bapa uskup tidak akan pernah melihat masalah dengan sudut pandang diskriminatif. Seperti yang saya paling sering temukan di tempat lain dalam postur gereja katolik kita yang satu, universal, kudus, apostolik, misionalis, dan papuanis yang minoritas di Papua–Indonesia. Tapi sesungguhnya sebuah raksasa kecil di surga kecil yang jatuh di neraka besar.

 

Hari ini saya terima sebuah surat (lihat di bawah–foto) dari Gereja Kristen Injili (GKI) Di Tanah Papua. Mereka tidak banyak melakukan basa basi, hati-hati, mempertimbangkan baik-baik dan segala macam. Karena masalah sudah jelas dan ada di depan mata GKI Di Tanah Papua.

 

Dalam surat ini mereka secara terus terang mendukung bupati Sorong, Jhoni Kamuru dan masyarakat adat juga anggota jemaat dari GKI Di Tanah Papua di kabupaten Sorong.

 

Kemudian menolak perusahan sawit yang menghilangkan sumber-sumber mata pencaharian hidup jemaat, merusak lingkungan hidup dan ekosistem, juga mengancam nasib dan masa depan anak cucu–pondasi-pondasi GKI–tulang punggung gereja, tanah air dan suku bangsa kita disana.

 

Sungguh surat itu walaupun kertas putih biasa yang berisi tinta yang dilihat tidak terlalu penting, tetapi sangat menyentuh hati, dan jiwa raga anggota jemaat di Sorong. Bahkan menampar umat katolik di Keuskupan Manokwari-Sorong, khususnya di kabupaten Sorong itu.

 

Saya tidak tahu persis. Perkebunan sawit itu masuk di wilayah atau basis gereja katolik Keuskupan Manokwari-Sorong atau tidak. Tetapi saya harap kita tidak melihat dari sudut pandang diskriminatif seperti ini. Saya justru lebih tertarik dan pada kesempatan ini ingin bapa uskup untuk melihat masalah dari segi hak-hak dasar hidup umat yang melekat erat pada aspek kemanusiaan.

 

Bapa uskup, saya yakin kalau umat kalau kehilangan sumber-sumber mata pencaharian hidup, maka bukan mungkin, tapi sudah pasti mereka telah kehilangan harapan dan masa depan. Singkat katanya adalah itu sama halnya dengan kita sudah mati tapi masih hidup.

 

Secara roh kita kehilangan identitas, tempat keramat, mitologi, totem, hutan lindung, air bersih, dan tanah adat. Semangat kita sudah hancur, mati dan tidak bisa diharapkan untuk 500-1000 tahun ke depan. Karena segala sumber kehidupan dan keselamatan umat–kami sudah jatuh di tangan para penguasa, pengusaha dan perusahaan.

 

Saat ini masyarakat adat, termasuk umat katolik di Keuskupan Manokwari-Sorong sedang berjalan sendiri dengan kaki kosong, jalan kaki, keluar masuk hutan dan kantor pemerintah, kepolisian, pengadilan, juga menahan terik matahari, hujan, panas dingin dan lainnya. Hanya untuk membelah hak-hak dasar hidup umat sendiri.

 

Mereka kadang rindu Suara Kenabian dari para uskup di tanah Papua untuk membelah hak-hak dasar hidup umat seperti ini. Tetapi umat semakin kesini semakin tidak percaya dan tidak bisa lagi mengabungkan harapan terhadap pemuka agama yang terkesan diam, memilih jalan tengah, dan “mencari aman” di tengah realitas selama kurang lebih hampir 60-an tahun di Indonesia.

 

Kami kadang ingin buang suara kepada bapa uskup “dorang, tetapi karena kami lihat kadang cuek, malas tahu, tidak peduli dan menjaga wibawa gereja dengan menempuh jalan-jalan yang enak, maka kami diam saja. Kasih tinggal. Tidak mau buang suara. Kadang terlalu kecewa dan malas minta tolong kepada para uskup di tanah Papua.

 

Bapa uskup Manokwari-Sorong yang saya kasihi hari ini tunggu pesan Kitab Suci, Hukum Kanonik, ASG, Ensiklik (Laudato Si) dan Sakramen dikontekstualisasikan–berhermeunetis. Dengan ini saya harap bapa uskup menggeluar Surat Gembala yang mengandung Suara Kenabian dalam Rangkah memberikan dukungan moril kepada penguasa, pengusaha dan perusahaan atau kepada masyarakat adat juga umat katolik pribumi katolik di Keuskupan Manokwari-Sorong.

 

Demikian Surat Terbuka ini saya tulis untuk mempertimbangkan dan tentu saja dengan harapan agar bapa uskup menunjukkan keberpihakan byang sungguh-sungguh kepada umat. Seperti apa yang Yesus Kristus selalu membelah hak-hak dasar hidup bagi orang yang lemah, miskin, terpinggirkan, tersingkirkan, teraniaya dan tertindas.

 

Terimakasih banyak, bapa uskup yang saya kasihi dan cintai. Damai Tuhan menggerakkan hati nurani kita untuk tidak takut berbuat baik dan kenangan yang indah sebelum kita kembali menjadi air yang abadi: “everything is water–Thales of Miletus. Tuhan Yesus Memberkati. Hormat.

 

Jayapura|Kamis, 26 Agustus 2021

 

Tembusan disampaikan kepada Yth:

1. Semua pihak terkait

2. Arsip.

 

Lihat foto-foto di akun Facebook Soleman Itlay

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *