Intan Jaya menangis, Jakarta stop menari dibalik luka rakyat kecil

  • Bagikan
Ilustrasi masyarakat Intan Jaya - Ist

 

Nabire, [WAGADEI] – Tokoh pemuda Intan Jaya, Papua, Yulian Sondegau menegaskan saat ini keberadaan warga setempat bisa dikatakan sedang ‘menangis’. Karena itu, PT. Aneka Tambang [Antam] Tbk yang merencanakan beroperasi di Blok B Wabu segera berhenti.

“Lihatlah, Intan Jaya sedang menangis. Saya sangat mendukung sikap masyarakat Intan Jaya menolak dengan tegas PT tersebut pada 31 Agustus 2021 lalu,” ujar Yulian Sondegau, Jumat, (3/9/2021).

Penolakan masyarakat itu, kata dia, Pemerintah mestinya mendengar penolakan tersebut, pasti ada hal yang tidak beres dibalik itu.

Ia menyatakan, masyarakat Intan Jaya minta cabut surat izin usaha merupakan suatu kewajaran sehingga tidak bisa ditolak dari pemerintah pusat, provinsi maupun pemerintah daerah.

“Selama ini Pemerintah Indonesia menari-nari di atas penderitaan masyarakat Intan Jaya yang berlarut-larut. Negara tidak bisa menghapus air mata yang berkepanjangannya,” katanya.

Ia menegaskan, segera hentikan Perusahaan apapun masuk diwilayah Intan Jaya jika kehidupan manusiannya tak perdulikan.

Salah satu warga pengungsiaan, Napila Kogoya menyatakan pihaknya menangis bukan karena tak ada perusahaan tetapi pihaknya menangis karena darurat kemanusiaan. Pemerintah Indonesia kapan menghapus air mata kami masyarakat Intan Jaya.

“Kami melihat contoh perusahan GBY yang pernah masuk di Sugapa pada tahun 1967 beroperasi sampai tahun 2002 itu hutan dan gunung menjadi botak, dan air dan sungai kena kimia habis tidak pernah ada reboisasi,” katanya tegas.

Ia menambah, cukuplah masyarakat yang hancur, jangan kasih hancurkan hutan kami dan Jakarta stop menari dibalik luka kami. [*]

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *