PHP Dev Cloud Hosting

Tuntut rektor terima Maba tidak lulus tes, mahasiswa UNIPA kembali lakukan aksi

  • Bagikan
Solidaritas mahasiswa UNIPA saat lakukan aksi jumpa pers depan gedung BEM Unipa, Senin (30/8/2021) - Ist

Nabire, [WAGADEI] – Puluhan mahasiswa dari Solidaritas Mahasiswa Universitas Negeri Papua (UNIPA) kembali melakukan aksi tuntut rektor dan pihak kampus terima mahasiswa baru (Maba) tidak lulus tes, di depan markas atau gedung Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Senin (30/8/2021), Manokwari, Papua Barat.

Aksi dilakukan berupa jumpa pers. Tujuannya, mempertanyakan hasil surat audensi soal pengakomodiran mahasiswa baru yang sudah diserahkan pada aksi demo pertama 21 Juli 2021 lalu, kepada pihak senat kampus.

Alasannya, karena surat audiensi yang diserahkan untuk harus akomodir sebanyak 39 calon mahasiswa baru yang dinyatakan tidak lulus tes seleksi lokal Unipa itu, terkesan tidak diseriusi oleh pihak kampus hingga sekarang dari sejak diserahkan (bulan Juli lalu).

“Kami lakukan aksi jumpa pers depan markas BEM ini karena sampai sekarang kami belum dapat titik terang dari pihak kampus hasil surat audensi yang kami serahkan dulu pada aksi demo bulan Juli lalu,” kata salah satu senior, Abraham Sakof, kepada wagadei.com, Senin (30/8/2021).

Abraham menyebut aksi pada bulan Juli lalu itu dilakukan menuntut pihak kampus harus menerima Maba yang datang kuliah tetapi dinyatakan tidak lulus tes.

“Aksi pada saat itu, kami mengawal aspira adik-adik kami yang datang mau kuliah. Mereka lewati gunung-gunung, lautan hanya untuk cari masa depan. Namun sayangnya, pihak kampus tidak menerima mereka,” jelasnya.

Abraham mengaku pihaknya tidak tinggal diam. Berbagai upaya pendekatan dan inisiatif sudah dilakukan. Salah satunya bertemu lembaga MRPB.

“Kami dari solidaritas sudah meminta kepada MRPB untuk selesaikan masalah ini, tetapi dari pihak kampus tidak mau merespon,” tuturnya.

Karena, lanjut Abraham, ketua MRPB Maxi Ahoren, melalui media Arfak News edisi (26/07/2021) mengatakan sudah perintahkan Pokja adat dan Pokja agama mengundang pihak rektorat agar duduk mendengarkan keterangan dari pihak rektor. Kemudian akan cari solusi bersama.

Selain ke MRPB, upaya lain yakni membangun komunikasi langsung dengan pihak kampus secara lisan (telepon) dan tertulis (surat).

“Menanggapi surat kami itu, pada 28 Juli 2021 lalu pihak kampus melalui tim komunikasi yang bentuk senat darurat Unipa lakukan pertemuan dan bahas secara virtual. Karena pembahasan belum selesai disepakati untuk bahas lagi dipertemuan kedua. Tetapi sampai sekarang pertemuan kedua itu belum dilakukan. Jadi kami nilai tidak ada niat baik dari pihak kampus untuk selesaikan masalah ini,” sambung Agung Yual, salah satu mahasiswa dikesempatan sama.

Korlap aksi, Agus Nahabial, meminta agar persoalan tidak berlarut-larut hingga mengganggu aktivitas kuliah, pihak komunikasi senat dan rektorat harus segera selesaikan.

“Karena kami sudah berusaha komunikasi supaya lakukan pertemuan dengan kami tapi  tidak pernah ada respon. Padahal, sebenarnya tujuan kami mau cari solusi yang baik bagaimana,” tukasnya.

Diakhir penyampaiannya, ia menegaskan dari Senin hingga Jumat, kedua pihak harus buka ruang untuk menyelesaikan masalah tersebut secara bersama dengan pihaknya. (*)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *