Kematian Kesederhanaan di Surga

  • Bagikan
Foto ilustrasi yang menceritakan Sinta kunjungi Eko saat sedang mengupas kelapa muda di belakang rumahnya - Foto: Suanggi Picture

SORE matahari sedang pergi dibalik bukit sebelah barat dari kompleks Uwo, komplek Uwo tidak perna sepi, kecuali subuh; banyak anak muda usia sekolah dasar hingga kuliah berkumpul, bermain handphone [HP], duduk, bercerita baku gara hingga bermain-main selayak makluk hidup, bocah-bocah usia Taman Kanak-Kanak [TK] berlari bermain bola karet disamping jalan. Ada kelompok yang beraktivitas hingga jauh malam, tembus pagi terang, kadang berkelai, saling kejar, saling tinju, saling tantang dengan alat tajam. Komplek Uwo selalu ramai.

Wilayah Uwo lebih banyak suku asli, orang migran hanya empat rumah, empat rumah punya kios, selalu ramai siang bahkan malam depan kios, bocah-bocah duduk menjongkok melipat kaki, genggam smarphone [HP], duduk di atas batangan semen, menunduk, mata meletot dalam layar HP. Empat rumah punya anak berumur  sekolah menengga dan dasar, jarang duduk depan rumah, apalagi dijalan, tidak, kecuali pergi ke Mushola belajar Alquran dan pagi berangkat sekolah.

Tiga mama berjalan pulang memikul hasil jualan setelah berjualan selamah satu sampai lima jam di Pasar, dalam noken elastis, ada ubi, ada singkong dan keladi, dua noken dipundaknya, noken pertama sayur ubi untuk makanan ternak dan bisa juga untuk manusia. Langkah perlahan pulang, memasak sayur dari kebun sendiri, makan ubi dari kebun sendiri; sebagai makanan pokok orang yang hidup diatas gunung dan sagu untuk orang-orang yang hidup di pesisir pantai dan rawa.

“Mama besok jual lagi sudah,” kata Sigo melihat mama-mama membawah pulang jualan. Sigo, pemuda yang dikenal di kompleks dari humorisnya.

“Tidak ada kulkas untuk besok dijual lagi seperti kebanyakan warung di kota-kota, pulang masak saja to,” balas Mama-mama kepada Sigo sembari berjalan memikul.

Bapak-bapak lewat, ada berseragam Pegawai Negeri Sipil [PNS], ada yang berpakean biasa berkaki kosong, dalam nokennya terlihat kertas putih, ada polpen pilot hitam diujung gulunggan kertas. Berjalan pulang kerumah, ada yang menggajak anak mereka untuk pulang saat hari mulai gelap, ada yang hanya lewat, tidak peduli.

Matahari hampir tenggelam, Eko dan Sinta lewat dengan motor tua milik Eko. Sinta gadis yang dikejar semua pemuda di kompleks Uwo tapi Eko berhasil membujuk hati Sinta dengan keserhanaan hidup yang selalu dirumah dan prestasinya di sekolah, Eko selalu ikut bapaknya melaut dan ikut mamanya ke kebung sayur dan ubi.

Sinta, perempuan peranakan Bandung – Jawa Barat, bapaknya asli Papua, Sinta wanita yang cantik, sedikit gemuk berkulit coklat manis, berani, suka bicara banyak, romantis dan menyukai keserhanaa hidup yang positif. Eko, asli anak laki-laki Papua, mamanya dari Sorong bapaknya dari penggunungan Papua, Eko pria hitam manis kurus, pemalu, rajin kerja, rendah hati, pendiam.

Eko dan Sinta satu sekolah tapi bedah ruangan, Sinta di ruang satu, Eko ruang dua, mereka tidak pernah berbicara sebelum Sinta berkenalan dengan Eko waktu Eko juara lomba karya tulis ilmiah pada hari besar Papua. Mereka dua saling kenal tapi tidak begitu dekat. Eko suka Sinta tapi malu, banyak teman laki-laki selalu membicarakanya tentang Sinta, tidak mungkin bagi Eko, tidak pernah berpikir memilikinya.

Eko sudah terima hadiah lombah karya tulis. Besoknya pulang sekolah, di Parkiran motor, Sinta menghampiri Eko yang pertama kalinya mereka saling kenal lebih dekat. Eko sudah melihat Sinta semyum lebar saat Dia menerima hadiah di acara puncak di Sekolah, Eko biasa saja karena mereka saling kenal sejak duduk dibangku menengah pertama [SMP].

“Eko, selamat e, kemarin juara karya ilmiah,” ucap Sinta sambil mengulurkan tanganya kepada Eko, Sinta senyum lebar, matanya bersinar memberikan makna khusus. Eko sudah diatas motor, pulang kerumah, Sinta tiba-tiba berdiri depan motor, menahan Eko.

“Makasih Sinta,” balas Eko mengulurkan tangan, Eko membalas senyum.

“Minta ko nomor WA ka?,” minta Sinta dengan senyum.

“Sa tidak pake WA,” balas Eko dengan senyum kecil.

“Facebook?,” tanya Sinta lagi.

“Tidak juga,” balas Eko

“Truusss ko pake apa saja?,” tanya aneh Sinta, dalam hati Ia berpikir “laki-laki ini tidak ikut perkembangan sekali”.

“Maaf Sinta, sa belum punya HP, kalau Sinta perlu sa, nanti kerumah saja, tau to sa rumah to?,” balas Eko.

“Oh…. Ia sip,” balas Sinta. Mereka pisah, pulang.

Bapak Sinta adalah dosen yang terkenal di seluruh kota. Bapaknya perna jadi menteri selamah satu periode [lima tahun] setelah menjabat sebagai Rektor Universitas. Setelah Sinta besar dan masuk sekolah tinggi, bapaknya sudah turung dari kursi pembantu Presiden [menteri].

Sinta memilih kuliah di daerah walaupun bapaknya minta kuliah luar daerah Papua, akan diurus beasiswa. Sinta menyukai yang sederhana, tidak sombong walaupun bapaknya punya mobil dan motor, Ia hanya menggunakan motor tapi juga kadang jalan kaki bersama teman-temannya pulang pergi sekolah sejak duduk di sekolah dasar.

Sore-sore seperti biasa ramai di komplek Uwo, cahaya senja mengubah; menjadi warna yang sejuk. Kali ini ada yang berbedah, ada orang teriak-teriak lalu diam, bicara banyak tapi tidak jelas, rupanya ada satu kelompok sedang minum minuman keras pinggiran jalan. Beberapa orang tua sedang pulang dari pasar, belanja dan berjualan, aktivitas biasa di komplek Uwo.

Sinta ingin bertemu Eko, ia pergi kerumahnya menggunakan motor Yamaha Mio, jarak rumah mereka hanya dua ratus meter. Sampai di rumah, Eko sedang kupas kelapa di samping rumahnya.

“Eko, sa kelapa satu ka, ” sapa Sinta sembari parkir motor.

“Ada banyak ne,” balas Eko, sedikit kaget kedatangan Sinta ke rumahnya. Sinta duduk di samping Eko, ekspresi Sinta seakan Eko sudah menjadi pacarnya.

“Enak sekali airnya,” ucap Sinta setelah menikmati air kelapa.

“Kenapa ko datang, nanti orang pikiran di kompleks sini lain-lain,” khawatir Eko.

“Kenapa jadi, sa kan hanya bertamu,” balas Sinta dengan sedikit keras suara.

“Io, tapi satu komplek ini semua pria idola sama ko,” balas Eko sedikit takut.

“Eko, kita ke kedai kopi kah, sa mau cerita sesuatu, penting!!,” ajak Sinta kepada Eko pergi duduk di kedai kopi, tempat Sinta sering duduk dengan teman-temanya.

“Apa?, di sini saja, sa lebih suka disi, ini minum kelapa lagi,” tahan Eko, bagi Eko, duduk sampin rumah adalah kebahagiaan yang terbesar. Kebahagiaan Sinta lebih condong pada wajah kedai kopi, tapi Sinta bisa menyesuaikan ruang dan waktu.

“Di kedai kopi saja, kita bisa duduk tenang bercerita to, ko tidak ada uang nanti sa yang bayar?,” balas Sinta.

“Bukan soal uang Sinta, kita harus membangun kebiasaan lokal kita yang sederhana, harus mencintai keserhanaan ini, ini kekuatan kita,” jelas Eko kepada Sinta. Sinta terdiam, tadi berdiri, sekarang duduk kembali di samping Eko, kali ini duduknya dekat sekali.

“Sa paham, mama sebelum meninggal juga selalu bilang kalau Sa harus mencintai orang-orang yang mencintai keserderhana hidup dalam keluarga, harus cinta budaya,” lanjut Sinta menggigat pesan mamanya sebelum dibawah pergi sang waktu.

“Eko, sebenarnya sa suka ko lama, cuman sa bapa mau, sa harus dengan orang-orang besar punya anak jadi sa sabar-sabar. Sekarang sa sudah besar, semua pilihan adalah sa punya hidup,” lanjut Sinta bercerita, serius sambil lihat wajah kering Eko, matanya mengirim pesan yang serius.

“Sa juga tapi Sa malu Sinta,” balas Eko, suaranya pelang.

“Eko, status keluarga apapun tidak ada ukuran, kalau memang pertemuan ini adalah jodoh dari Tuhan, kita akan memulai hidup yang baru, diluar dari orang tua kita, apapun milik orang tua hari ini akan pergi dengan waktu seperti mama yang sudah pergi dengan waktu,” jelas Sinta menguatkan Eko yang agak pesimis, matanya menatap wajah Eko yang menunduk arah tanah.

 

“Ia Sinta, sa paham,” balas Eko sambil mantap wajah Sinta yang manis, rambutnya berhelai diatas pundaknya, wajah wanita yang ia suka sejak lama.

Eko dan Sinta sudah berpacaran, berjanji sembari menikmati kelapa muda disamping rumah Eko, bersama mencintai yang sederhana, Eko dan Sinta dapat duduk dimana saja, dengan siapa saja, tidak memilih bentuk dan karakter apapun keluarga. Hidup bersosial. Eko paham Sinta, Sinta paham Eko, Sinta punya teman-teman kebanyakan hidup dikedai-kedai kopi, Eko harus bantu orang tuanya pergi ke kebun. Mereka selalu saling paham, sama mencintai kesederhanaan hidup dari kecil, tidak kaget dengan sesuatu yang baru karena pengetahuannya cukup.

Satu komplek Uwo alias akom [anak komplek], Sinta baru pindah ke kompleks Uwo setelah bapaknya diangkat menjadi menteri, baru dua tahun mereka satu kompleks Uwo. Bapa Eko dan Mama masih hidup, masih pulang pergi melaut dan berkebun, hidupnya lebih banyak dengan alam, tidak seratus persen uang. Pulang sekolah Eko ikut melaut bersama bapaknya, kadang ikut mamanya pergi berkebun sayur. Eko anak pertama, punya tiga saudara tapi sudah meninggal.

“Eko, Mama tidak mau ko dengan Sinta,” tegas kepada Eko, dirumah, Eko sedang makan malam, bapaknya sedang nontong TV.

“Kenapa mama, kita sudah saling cinta?,” tanya Eko, berhenti makan tiba-tiba, tubuhnya terpukul, Eko mencintai Sinta.

“Pokonya tidak!!, kita dengan mereka bedah agama,” balas mamanya lebih Tegas

“Ini cinta mama, bedah dengan agama,” jelas Eko, wajahnya sudah berubah, makanan belum habis.

“Mama bilang tidak!, pokonya tidak!, besok  Sinta datang sa akan usir dia,” ucap mamanya, lebih tegas, agak bentak. Eko berdiri, cepat masuk kamar tanpa balas.

Pagi, orang-orang di komplek Uwo masih kaku untuk bangun, Eko sudah bangun, duduk diteras rumah, seperti Eko mimpi buruk, kali ini bangun jam lima subuh, duduknya merenung masa depan cinta. Jam tujuh lewat tiga, Eko siap berangkat sekolah, mamanya sudah siapkan teh dan pisang rebus, duduk depan, makan. Mamanya di dapur, sedang siapkan teh untuk bapaknya yang belum bagun. Bunyi motor, Sinta datang menjemput Eko, berangkat ke Sekolah. Mamanya sudah di teras.

“Eh…. Sinta!, Mulai hari ini ko putus dengan sa punya anak, jangan lagi jemput, pacar juga hari ini putus, saya dengan bapaknya tidak setuju!,” tegas mama Eko kepada Sinta yang sudah memarkir motor depan rumah, seperti biasa, kadang Eko jemput Sinta, juga terkadang Sinta jemput Eko. Sangat romantis selamah satu tahun lebih mereka hidup bersama dengan pikiran besar dengan tindakan sederhana, sama-sama mencintai sederhana.

“Makasih mama,” balas Sinta putar motor, matanya melihat Eko lama, Eko tidak berangkat sekolah. Ia berputar arah, pergi berlari kepada pantai, bercerita tentang pedihnya bersama cakrawala diatas laut dan langit yang biru, meminta harapan pada doa-doa, ia mencintai Sinta, Sinta mencintai Eko.

Hanya dua hari mereka tidak berjumpa, hari ketiga, sore-sore, matahari sedang pergi, komplek Uwo ramai dengan anak-anak kompleks, duduk, berdiri, berlari-lari seperti ayam, dua kelompok sedang melingkar sedang bermain game Ludo King, tempat yang berbedah, dalam rumah daun seng, bapak sedang duduk, ada yang berdiri ada yang duduk, semua pegang kertas bertulisan angka dan genggam polpen sedang sibuk. Eko dan Sinta lewat diantara mereka, Hampir semua mata berlari melihat Sinta dan Eko. Mereka bercerita tentang hubungan yang tidak disetujui kedua orang tuanya tapi cinta adalah malas tahu, cinta juga dapat membunuh.

Jam lima lewat tiga menit, Eko dan Sinta duduk di pantai, 100 meter dari komplek Uwo. Duduk di atas batang pohon kelapa yang melintang tidur, matahari sedang perlahan pergi, senja sore buruk dan gelap, seperti isi hati Eko dan Sinta, sesal pada hubungan yang tidak setujui orang tua.  Eko dan Sinta harap pada doa mereka, apapun yang terjadi kita akan selalu bersama. Berjanji dan berjanji.

“Agama tidak bisa memisahkan sa dengan Eko, kenapa semua ini terjadi saat sa sudah cinta Eko ka, ini waktu yang terlambat, sungguh kurang ajar, sa tau Eko; dia mencintai seperti sa cinta dia,” curhat Sinta dalam telepon kepada teman sekolah.

Pulang dari pantai, Sinta memeluk Eko di atas motor Honda Supra lama milik Eko, masuk komplek tetap memuknya. Mereka singgah di kios, depan jalan masuk komplek Uwo.

Sampai di rumah jam jutuh lewat lima menit, Eko langsung masuk kamar, dipaksa mamanya untuk makan malam tapi Eko memeluk bantal dan tidur dalam kamarnya. Pagi tidak bangun. Sinta sampai di rumah, masuk kamar tidak makan, adiknya memaksa untuk makan malam tapi Sinta diam dalam kamar. Pagi tidak bangun. Eko dan Sinta sama-sama tidak bangun pagi, tidur hingga selamanya; mereka dua bertemu didunia yang berbedah; menertawai orang-orang di rumah sedang nangis di samping tubuh yang sudah tanpa jiwa, berbaring kosong.

“Eko kita bahagia di sini,” sinta genggam tangan Eko.

“Ia sayangku, kita bahagia,” balas Eko.

 

*] Ini hanya cerita fiksi ditulis oleh Nomensen Douw, wartawan wagadei.com tinggal di tepian pantai Saireri. Mohon maaf jika ada kesamaan tokoh dan tempat.

 

 

 

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *