DIALOG: Penyelesaian Konflik Paling Manusiawi

  • Bagikan

(Sebuah Refleksi Teologis Atas Konflik Pelanggaran HAM di Atas Tanah Papua)

Oleh: Kaleb G Mote

Konflik pelanggaran Hak Asasi Manusia (Selanjutnya akan disebut HAM) di seluruh dunia adalah Tanah Papua. Konflik pelanggaran HAM ini sudah terjadi sejak Negara Kesatuaan Republik Indonesia (Selanjutnya baca NKRI) menginterasikan (Mempersatuakan) bangsa Papua melalui peristiwa PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat) pada tahun 1969 di tanah Papua. Sejumlah konflik pelanggaran HAM yang terjadi di atas tanah Papua, ialah Operasi Militer, Pengekangan Ruang Demokrasi, Penembakan, dan masih banyak sejumlah konflik pelanggaran HAM lainnya. Konflik yang dimaksud diantaranya, seperti peristiwa paniai berdarah pada 08 Desember 2014 silam. “Jelang akhir 2014, tetapnya pada 08 Desember 2014, di Lapangan Enarotali, Kabupaten Paniai aparat keamanan melakukan penembakan kepada masyarakat sipil yang mengorbankan empat orang mudah meninggal dunia”.

Tidak hanya itu, bahwa konflik pelanggaran HAM juga sudah dan sedang terjadi di tempat lain, di atas tanah Papua. Misalnya seperti kasus penembakan di Intan Jaya dan Tolikara “Kasus penembakan warga sipil oleh aparat keamanan kembali terjadi di wilaya yang berselahan dengan kabupaten paniai, yaitu kabupaten Intan jaya disebuah kampung bernama bilogai, pada 17 juli 2015 aparat keamanan menebak seorang warga sipil saat bersamaan dengsn 17 juli 2015 penembakan warga sipil oleh aparat ke amanan terjadi di Kabupaten Torikara”.

Dari sejumlah kasus pelanggaran HAM yang sudah dan sedang terjadi di atas tanah Papua ini, sebenarnya realitas (Kenyataan) di tanah Papua adalah darurat HAM. Orang Asli Papua (Selanjutnya akan disebut OAP) sudah dan sedang terancam punah atas eksistensi (Keberadaan) hidupnya di atas tanah warisan leluhurnya, tanah penuh susuh dan maduh, tanah Papua. Tanah Papua sudah dan sedang menjadi ladang konflik pelanggaran HAM yang subur. Karena, konflik pelanggaran HAM sudah dan sedang terjadi sejak dahulu hingga kini. Ringkasnya, OAP sebagai manusia cipataan Allah yang secitra, segambar dan serupa dengan diri Allah sendiri di atas tanah Papua sudah dan sedang terancam punah secara sistematis dan tersruktrus. Pelan tapi pasti bahwa OAP di atas tanah Papua diambang kepunahan.

Manusia: Representasi Citra Diri Allah Yang Transenden

Sesuai dengan dasar iman kepercayaan bagi semua orang-orang Kristen (Orang-Orang Yang Percaya dan Mengimani Akan Pribadi Yesus Kristus) bahwa pada dasarnya, Manusia adalah ciptaan Allah yang paling luhur dan mulia. Karena Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, Citra-Nya, dan sesuai juga dengan rupa diri-Nya. “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka (KEJ 1:27)”. Allah adalah Sang pencipta dari segala ketiadaan (Creactio Et Nihilo). Artinya bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang paling unggul dari sekitan ciptaan lainnya di bumi ini. Karena hanya pada manusia, Allah telah melengkapi akal budi dan hati nurani.

Manusia adalah representasi (Perwakilan) dari citra diri Allah yang transenden (Allah Yang Tidak Kelihatan) di bumi ini. Artinya, manusia adalah wujud Allah yang kelihatan di bumi ini. Karena, Allah menciptakan makluk dan dengan sepurna dan kelebihan manusia itu masing-masing. Namun, kita perlu ketahui bahwa makluk Allah yang paling sepurna adalah manusia. Oleh karena itu, Allah memberitakan kepada kita untuk memelihara hubungan dalam persekutuan manusia kepada Allah melalui komunikasih atau doa yang lancer dengan Allah dan bukan saling membenci, memusuhi, bertengkar, dan saling menghilangkan nyawa manusia sesame yang lain. Tuhan Allah yang kita imani, mengajarkan, agar kita semua manusia dapat mengutakan saling mengasishi antara satu dengan sesame yang lain. Allah justru mengajarkan, agar semua manusia harus hidup harmonis (Hidup Damai) dengan semua makluk ciptaan Allah lainnya. Sebab, Allah kita adalah Allah yang penuh Damai. Demikian, Allah mengajarkan kepada kita semua sebagai para pengikut-Nya.

Kasih kepada sesame dengan tidak mencemarkan nama baik, tidak membuh. Tetapi, Allah mengajarkan kepada kita untuk saling mengasih, menghargai dan menghormati antara satu dengan sesama yang lainnya, agar semua orang dapat mengalami sukacita, dan kedamaiaan, serta kesejahteraan, dan kebahagiaan, kenyamanaan, kegembiraan, semasa hidup di bumi ini, maupun di akhirat. Inilah yang menjadi landasan (Dasar) dari seluruh ajaran iman Kristiani, yang disampaikan oleh Allah sendiri bagi semua orang beriman di seluruh dunia. Karena, Allah adalah Maha baik dan Maha pengasih dan penyayang bagi semua manisia sebagai ciptaan-Nya.

Akhirnya bahwa manusia dalah ciptaan Allah yang sempurna, karena Allah menghendaki setiap manusia akal budi dan hati nurani di dalam diri setiap manusia. Oleh karena itu, setiap orang dan bangsa mana pun tidak memiliki hak untuk menghilangkan nyawa seseorang secara sewenang-wenang. Sebab, yang mempunyai kehidupan manusia adalah hanya Allah sendiri. Allah menjadi awal (Pencipta) dan sekaligus Allahlah yang menjadi akhir dari seluruh seluh beluk kehidupan manusia. Jika demikian, maka semua orang dipanggil dan diutus untuk terus saling memelihara, menjaga integritas (Keutuhan) atas kehidupan manusia. Hal ini dapat dilakukan dengan tidak saling membunuh, bertengkar, membenci, dan lainnya. Sebaliknya, Allah justru mengajarkan kepada umat-Nya, agar semua manusia dapat hidup harmonis (Damai) di dalam kasih dan damai dari Tuhan Allah sendiri.

Dalam kaitannya dengan ini, untuk menjaga, memelihara atas keutuhan semua manusia di bumi ini pada umumnya dan OAP yang sudah dan sedang menderita di atas tanah Papua ini, kiranya, Gereja Universal (Umum) di seluruh dunia, yang sudah dan sedang menjalankan misi Allah (Karya Keselamatan) atas seluruh ciptaan Allah, termasuk manusia di bumi-Papua ini terus mengangkat dan menyuarakan penderitaan umat Tuhan yang sudah dan sedang menderita. Karena untuk itulah, Gereja dipanggil dan diutus untuk menyelamatkan domba-doma, dari cengkeramaaan maut dan serigala. Gereja secara damai dan terbuka melalui jalan dialog yang digagas oleh almarhum Dr. Neles Kebadabi Tebai, Pr, (Kordinator Jaringan Damai Papua) dapat mendorang dan berupaya menyelesaikan semua konflik penggaran HAM berkepanjangan yang sudah dan sedang terjadi secara subur dan sistematis terhadap OAP di atas tanah Papua. Semua ini dapat dilakukan untuk demi mencapai hidup damai (Bonum Comune) di atas tanah Papua. Dialog jalan penyelesaiaan konflik pelanggaran HAM yang paling manusiawi.

*)Penulis adalah Mahasiswa Universitas Cenderawasih, Jayapura, Papua.

 

 

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *