Diduga cemarkan nama baik melalui sosmed, berujung saling memaafkan

  • Bagikan
Pihak korban Theodora Magai [kiri] dan pelaku Demianus Bunai [kanan] berdamai dengan saling berjabat tangan di cafe Nggabu Enarotali, Senin, [30/8/2021]. Sebelumnya Sabtu, [28/8/2021] keduanya saling memaafkan di Mapolres Paniai - Foto: Abeth A. You

Paniai, [WAGADEI] – Terlalu bebas berkomentar di sosial media [sosmed], seorang pemuda yang diduga bernama Demianus Bunai, warga Enarotali, Paniai, Papua nyaris dipidanakan khususnya pencemaran nama baik. Namun surat laporan Polisi di Polres Paniai dicabut oleh pihak korban Theodora Magai pada Sabtu, (28/8/2021) hingga berujung pada saling memaafkan dan berjanji tak mengulangi lagi perbuatannya.

Korban pencemaran nama baik, Theodora Magai yang juga sebagai pemilik cafe Nggabu Paniai mengatakan, akun facebook Damianus Waiyaidodo Bunai membagikan link berita https://wagadei.com/2021/04/26/kelola-hasil-alam-perempuan-paniai-buka-cafe-di-enarotali/ yang dipublikasikan pada tanggal 26 April 2021 itu dengan menulis keterangan tambahan “WiFi 6 unit Dinas Kominfo sdh hilang”.

Unggahan di Facebook yang dipersoalkan pihak korban – Ist

“Kebetulan cafe ini saya yang kelola maka saya anggap dia menuduh dan cemarkan nama baik saya, maka saya buat laporan Polisi Nomor 12+K/V/2020/Papua/Res Paniai, tanggal 27 April 2021. Tapi tanggal 28 Agustus 2021 kami kedua pihak menyelesaikan dengan permasalahan ini secara kekeluargaan dan kemudian membuat kesepakatan bersama,” ujar Theodora Magai kepada wagadei.com, Senin, [31/8/2021].

Menurut Theodora Magai sebagai korban pencemaran nama baik melalui sosial media, bersedia mencabut laporan Polisi di ruang Reskrim Polres Paniai.

“Saya kemudian menyelesaikan permasalahan ini dengan secara kekeluargaan dan tidak ada tuntutan atau permasalahan lagi di kemudian hari,” katanya tegas.

Ia menganggap semua permasalahan yang menyangkut kasus yang dipersangkakan oleh pihak kedua sudah selesai secara kekeluargaan.

“Tapi apabila di kemudian hari ada yang melanggar surat pernyataan yang kami buat depan pihak Polisi dan dua orang saksi atau orangtua, maka kami siap proses sesuai dengan hukum yang berlaku,” ujar dia.

Demianus Bunai sebagai pelaku sangat mengucapkan terimakasih kepada pihak pertama karena sudah mencabut laporannya sehingga kasus ini tidak dilanjutkan proses hukum yang berlaku.

“Saya benar-benar menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya. Itu tidak sengaja saya lakukan tanpa melihat kebenaran,” ujar Bunai.

Di depan Polisi dan saksi, ia mengaku sudah berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan yang sama, dan apabila di kemudian hari mengulangi kembali perbuatan tersebut maka ia bersedia diproses hukum sesuai dengan hukum yang berlaku di Negara Republik Indonesia.

“Secara terbuka saya menyampaikan permohonan maaf kepada saudariku Theodora sebagai korban pencemaran nama baik,” ujarnya.

Entah Theodora Magai maupun Demianus Bunai merupakan tenaga honorer di Dinas Kominfo Kabupaten Paniai. Maka, secara tidak langsung keduanya beranggapan bahwa rasa saling menghargai sebagai sesama manusia sehingga saling memaafkan.

Untuk diketahui, perkembangan media sosial memudahkan masyarakat melakukan berbagai aktivitas, termasuk menyampaikan pendapat di muka umum dan bersosialisasi.

Namun, seringkali penyampaian pendapat yang diunggah berujung pengaduan dugaan tindak pidana, khususnya pencemaran nama baik. Oleh karenanya, disarankan agar berhati-hati bermedsos yang merugikan pihak tertentu. [*]

Editor: Aweidabii Bazil
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *