Indonesia menentang perintah pengadilan rawat Tapol, Koman: Saya memanggil PBB

  • Bagikan
Viktor Yeimo, Jubir KNPB dan PRP Tolak Otsus Jilid II ketika diperiksa Dokter di RSUD Dok II, Jumat (27/8/2021) - Ist

Nabire, [WAGADEI] – Pengacara HAM Internasional, Veronica Koman menyebut negara Indonesia telah menentang pengadilan dalam hal merawat tahanan politik. Hal tersebut ditanggapinya soal perintah Majelis Hakim memerintahkan Viktor Yeimo, tahanan politik, agar dirawat yang dilanggar Kejaksaan Tinggi (Kejati) Papua.

Tidak terima, Koman mengaku dirinya telah memanggil PBB, negara bagian dan diplomat, dan ahli hak asasi manusia (HAM) internasional untuk menuntut pemerintah Indonesia agar segera memastikan Victor Yeimo dirawat di rumah sakit dan menerima perawatan medis yang pantas.

Koman dengan tegas menyebut perintah rawat Pengadilan Negeri Jayapura terhadap pemimpin pro-kemerdekaan Papua Barat, Victor Yeimo, yang ditolak Jaksa sebagai masalah urgensi.

“Jaksa telah sengaja menentang perintah pengadilan ini dan Yeimo masih diisolasi dalam tahanan,” ujar Koman dalam rilisnya dari Sidney, Australia, Senin, [29/8/2021].

Koman menyatakan, Victor Yeimo dalam dua Minggu ini memohon bantuan dari hakim distrik. Viktor mengatakan bahwa dia sangat sakit. Badannya telah turun (setidaknya) sepuluh kilogram, tetapi tidak (pernah) diberi tahu hasil pemeriksaan medis, atau tidak memberikan resep atau obat-obatan.

Lanjut dikatakan, laporan medis tanggal 20 Agustus para jaksa menyerahkan kepada pengacara Yeimo di Jayapura pada 26 Agustus. Dalam laporannya, dokter mengatakan Yeimo harus segera dirawat di rumah sakit.

′′Artinya para jaksa telah menyimpan informasi penting ini dari kami selama seminggu,” ujarnya.

Pada pemeriksaan kesehatan medis kedua atau terakhirnya pada Jumat malam, Victor Yeimo, imbuhnya, memohon untuk menginap di rumah sakit, tetapi diseret keluar oleh polisi para militer bersenjata saat menerima perawatan intravena. Penyangkalan hak Yeimo ini untuk perawatan medis yang memadai, dan isolasi di penjara, jumlah penyiksaan.

“Saya tidak bisa menjelaskan secara detail karena privasi klien saya, tetapi yang bisa saya katakan adalah bahwa kondisi Victor Yeimo sangat buruk sehingga dia bisa mati kapan saja sekarang. Negara mengetahui hal ini dan mencoba membunuhnya dengan menyangkal perawatan medis.”

′′Kami berada di titik di mana bahkan perintah pengadilan tidak berfungsi. Ini berarti bahwa obat lokal untuk Victor Yeimo telah lelah, sehingga intervensi internasional dibenarkan dan diperlukan,” kata Koman.

Lanjutnya, ′′Oleh karena itu, saya memanggil PBB, negara bagian dan diplomat, dan ahli hak asasi manusia internasional untuk menuntut pemerintah Indonesia segera memastikan bahwa Victor Yeimo dirawat di rumah sakit dan menerima perawatan medis yang pantas.”

Ia menyayangkan sangat perlakuan yang diperlihatkan negara terhadap Viktor Yeimo, seorang tahanan politik di rezim Jokowi ini. Menurutnya, Viktor tidak boleh diperlakukan seperti itu sebab presiden Soeharto dulu membiarkan tahanan politiknya mencari bantuan medis termasuk izin ICRC untuk mengunjungi mereka secara rutin.

“Sungguh memalukan Presiden Jokowi jatuh pendek bahkan standar era yang terkenal karena pelecehan hak asasi manusia. Saya meminta semua orang yang bersangkutan untuk bergerak cepat, lakukan apa pun yang Anda bisa sekarang, karena mungkin akan terlambat,” pungkasnya. [*]

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *