PHP Dev Cloud Hosting

Mahasiswa Intan Jaya di Nabire protes soal dana studi akhir dan pemondokan

  • Bagikan
Saat aksi dikawal Aparat Keamanan - Ist

Sekda: Kami sudah bayarkan 

Nabire, [WAGADEI] – Forum Komunikasi Pelajar dan Mahasiswa Intan Jaya [FKMI] yang sedang mengenyam pendidikan di Kabupaten Nabire, Papua memprotes soal dana akhir studi dan pemondokan untuk dua tahun anggaran, yakni tahun 2020 dan 2021.

Pasalnya hingga kini belum dicairkan kepada pelajar dan mahasiswa Intan Jaya seluruh Indonesia, bukan hanya di kota studi Nabire.

Aksi tersebut dilaksanakan di halaman rumah pribadi Sekretaris Daerah Kabupaten Intan Jaya, Asir Mirip.

Kordinator lapangan aksi pelajar dan mahasiswa Intan Jaya, Yosepa Mujijau mengatakan, pihaknya mendapati informasi bahwa Pemerintah telah mengalokasikan dana namun mahasiswa tidak tahu dan belum pernah mendapatkan selama dua tahun berjalan ini.

“Dan anggarannya berapa yang dialokasikan dan dicairkan kepada mahasiswa dan mahasiswi Intan Jaya setiap kota studi yang ada di seluruh Indonesia,” ujar Yosepa Mujijau kepada wagadei.com melalui selulernya, Kamis, (26/8/2021).

Menurut dia, biasanya pengalaman yang lalu paling lama satu bulan, tetapi untuk dua tahun sudah sangat lama sehingga terjadi molor dalam perkuliahan mahasiswa seperti tertundanya praktek lapangan, yudisium dan wisuda.

“Ini sudah makan paling lama 12 stengah bulan belum dicairkan dana pemodohkan tersebut. Maka kami banyak yang sudah masuk yudisium dan masuk wisuda, dan kebanyakan yang tidak membayar SPP. Jadi di setiap kampus ketentuan tanggal dan bulan pembayaran itu sudah lewat, dan beberapa kali kami aksi berturut-turut,” ungkapnya.

Selain itu, beberapa kali pihaknya telah menyampaikan aspirasi kepada DPRD melalui Komisi C tetapi belum dijawab.
“Itu menpercepat pengangguran SDM di Intan Jaya,” ucapnya.

“Maka itu pemerintah perhatikan kami mahasiswa dengan baik. Dan alokasikan dana dan bagikan semua rata sama kepada mahasiswa Intan Jaya di setiap kota studi masing-masing yang ada di seluruh Indonesia,” katanya tegas.

Perwakilan Sekda Kabupaten Intan Jaya, Papan Palumbang mengakui pihaknya telah cairkan dana sesuai data-data yang dikirimkan melalui badan pengurus ikatan ke tim di setiap kota studi.

“Tetapi yang belum dapat itu mungkin ada yang salah masukkan nama, rekening, dan nomor induk mahasiswa dengan data yang selengkapnya,” kata Palumbang.

Tahun 2020 lalu, kata dia, pihaknya sudah bagikan sebesar Rp 3,4 Milyar ke setiap kota studi melalui tim setiap kota studi masing-masing di seluruh Indonesia.

“Maka mahasiswa yang ada di kota studi Nabire dan di seluruh Indonesia ada yang kirim data dengan kekurangan nama satu huruf dan biodata yang tidak melengkapi, ada yang menyerahkan persyaratan secara langsung ke DPRD dan Bupati maupun menyerahkan melalui badan pengurus ikatan dengan data yang kurang baik. Itu yang mahasiswa kebanyakan yang kurang dapat dana tersebut,” ungkapnya.

Ketua Ikatan Forum Komunikasi Mahasiswa Intan Jaya Kota Studi Nabire Yulianus Zanambani mengatakan, Pemkab Intan Jaya mencairkan dana pemondokan maupun akhir studi kepada pelajar dan mahasiswa Intan Jaya se Indonesia itu harus dicairkan dana dengan tanggal dan bulan yang ditetapkan oleh Pemerintah.

“Harus secara cepat, kami mahasiswa menerima pemondokan itu hanya Rp 5 juta [saja],” katanya.

Zanambani yang juga mahasiswa Uswim semester VIII ini mengatakan, pihaknya meminta tahun 2021 ke atas Pemerintah harus jadikan sebagai beasiswa, jika setelah alokasikan ke setiap tim kota studi masing-masing.

“Semua harus bagi ratakan kepada mahasiswa Intan Jaya yang ada di setiap kota studi di seluruh Indonesia,” ujarnya

Ia meminta setiap tim kota studi masing-masing harus bangun komunikasi antara ketua forum ikatan bersama mahasiswa. [*]

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *