Sayang, Pesona Gadis Desa Hancur di Kota

  • Bagikan

 

HARI ini, seperti kebanyakan orang-orang yang sudah memiliki pekerjaan, saya pulang dari tempat liputan ke rumah pukul 19.20 WP. Saat dalam perjalanan pulang, di tengah kemacetan tak sengaja saya melihat sebuah pemandangan unik. Ya mataku langsung tertuju.

Sebuah pemandangan yang bakalan membuat siapapun jadi tersenyum dan juga berpikir kembali karena di dalamnya terselip pesan yang mendalam. Pemandangan yang saya maksud tepat berada di bawah bak mobil pick up, yakni berbentuk sebuah kalimat. Di mana kalimat itu kurang lebih seperti ini: “Gadis Desa Hancur di Kota”.

Ya, kurang lebih seperti itulah kalimat yang tertulis. Ketika membaca tulisan itu, saya dibuat tersenyum. Namun dibalik senyuman itu pula saya sempat berpikir bahwa kalimat itu ada benarnya juga. Nah di sisi lain terdapat pesan yang patut untuk direnungkan, khususnya untuk para bidadari atau gadis-gadis yang sedang atau akan mengadu nasib di kota terutama yang akan mengenyam pendidikan di kota besar.

Meski kalimat yang tertulis seakan mengejek atau sekadar untuk hiburan, tapi tidak ada salahnya untuk direnungkan, mengingat kerasnya kehidupan di kota. Apalagi bagi yang tidak memiliki keahlian khusus namun memaksakan diri untuk mengadu nasib di kota. Lebih-lebih lagi yang tidak sabar dalam menghadapi kejamnya persaingan di kota. Sayangkan, bila ujung-ujungnya terjerumus ke kehidupan yang tidak diharapkan sebelumnya.

Mengenai gadis desa. Bukanlah hal yang baru jika gadis desa terkenal akan kepolosan dan keluguannya. Bahkan mungkin hanya sedikit yang paham dengan ilmu agama dan perkembangan zaman. Lalu, bisakah membentengi diri dari gemerlapnya budaya hedonisme di perkotaan? Mampukah menghindarkan diri dari pergaulan bebas yang sudah semrawut seperti semrawutnya kendaraan di jalanan? Atau bisakah mereka memfilter segala sesuatunya yang didapatkan agar nantinya tak terjerumus ke hal-hal yang tidak di inginkan? Entahlah! Hanya mereka yang mampu menjawabnya.

Lewat tulisan dibawah bak mobil pick up tersebut satu hal yang perlu diingat bahwa tidak ada jaminan yang pasti dan juga garansi akan kelakuannya ketika berada di kota. Karena bisa saja saat mengenal kehidupan di kota, sang gadis kaget dengan gemerlapnya budaya, pergaulan, dan semacamnya sehingga tanpa sadar membuatnya ikut terbuai di dalamnya. Entah sang gadis dulunya sewaktu di desa orangnya lugu, alim, rajin beribadah, penurut dan lain sebagainya.

***

Namanya di bawah umur, berarti mereka yang usianya kini sepantaran keponakan-keponakan saya, berkisar antara 13 – 17 tahun. Belum lewat 18 tahun.

Tak kerja, berarti tak makan. Kalau mau hidup di tanah rantau, ingin beli ini dan itu, suka tidak suka, mau tidak mau, harus dijalani.

Toh hidup di kota besar juga menjadi impian mereka. Berawal dari keterpaksaan menjadi sebuah kewajiban. Lama-kelamaan bisa jadi kewajiban itu bermetaforsa menjadi kenikmatan. Kenikmatan yang membikin ketagihan. Meminjam lagunya almarhum Om Meggy Z. “Terlanjur basah, ya sudah mandi sekalian”.

Kontrak sudah dibuat, perjanjian sudah diikat. Akan dipekerjakan sebagai ini dan itu di daerah yang baru. Terbanglah dengan burung besi, mengangkasa jauh dari kampung halamannya. Boleh jadi itu adalah momen pertama kali naik transportasi udara, sesuatu yang diidam-idamkan. Demi cerahnya sebuah masa depan.

Mengangkat harkat dan martabat keluarga. Jaminan bagi mereka adalah omongan dari orang yang merekrut dan membinanya. Perginya aja naik pesawat, gratis pula. Pasti keren tempat kerjanya. Boleh jadi itu yang ada dibenak mereka. Ditambah iming-iming gaji sekian juta.

Namun apa lacur. Sekian lama bekerja, ada janji di atas ingkar. Mulai dari harapan pembagian yang tak sesuai hingga lokasi bekerja yang jauh panggang daripada api.

Bila bekerja di perusahaan formal, terjadi ketidaksesuaian soal gaji dan lainnya, bisa mengajukan ke bagian HRD. Namun bekerja di bidang jasa hiburan “abu-abu”, kepada siapa harus mengadu.

HRD-nya adalah orang-orang yang menceburkan mereka. Satu-satunya tempat adalah institusi yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Dan itu tak hanya kepolisian, tapi juga kedinasan atau lembaga lain yang berkaitan dengan fungsi itu.

Andai memilih bertahan untuk tak melapor dan mengambil risiko terus bekerja demi kebutuhan hidup, cepat atau lambat, akan terkuak pula.

Syukur -syukur ‘selamat’, di mana pada saat diketemukan, usianya sudah di atas umur. Namun bila terdeteksi lebih awal, sepertinya akan ganti lokasi kerja. Dari kafe remang-remang dan bilik akuarium pindah ke panti rehabilitasi sosial.

Mami dan Papi bagaimana? Migrasi juga. Ruangannya tetap ber AC tapi di ruang sidang pengadilan. Setelah itu menuju lokasi peristirahatan. Hotel prodeo alias lembaga pemasyarakatan. Dan itu sudah terjadi pada Januari 2018 silam.Masing-masing pihak, baik pelaku dan sindikat jaringannya, juga para ‘kupu-kupu ABG malam’ itu berpisah. Yang tertinggal hanyalah penyesalan.

***

Anak Gadis Perempuan dan Harapan Yang Disematkan Keluarga

Saya terkadang miris membaca dan mendengar kisah pilu seperti di atas karena saya adalah anak laki-laki yang punya saudara perempuan. Tidak bisa membayangkan andai itu terjadi pada saudara sedarah serahim. Sebuah keluarga yang punya anak laki-laki dan juga anak perempuan tentulah sedikit berbeda bila orang tua itu hanya memiliki anak -anak yang semuanya laki-laki atau semuanya perempuan. Berbeda di sini mungkin lebih kepada memberi nasihat sebagai didikan.

“Jangan kasar sama adikmu, dia itu perempuan bukan laki-laki,” itu kata Mama saya suatu kali saat saya ribut dengan adik perempuan.

Ternyata memang wanita tak boleh dikasari dengan ucapan dan tindakan. Rapuh dan mudah terluka. Demikian juga pada kesempatan yang lain, saya juga kadang mendengar mitos di dalam keluarga, bahwa anak perempuan itu yang akan merawat orang tua sampai akhir hayatnya.Dan dibilang mitos ataupun bukan, saya meyakini itu hampir sembilan puluh persen benar.

Anak laki-laki setelah dewasa, dia cenderung akan pergi merantau, entah untuk bekerja atau demi tugas pada institusinya, atau mungkin untuk sekolah. Sekalipun tak merantau. cenderung fokus pada pekerjaan dan menjadi sumber keuangan. Sebaliknya, anak perempuan, biarpun telah menikah, cenderung akan terus dekat dan menyediakan waktu untuk orang tua, terlebih bila orang tua sakit.

Dengan pola seperti itu, melepas seorang anak gadis, apalagi gadis bau kencur yang masih labil untuk pergi jauh dari keluarga adalah sebuah keputusan berat bagi orang tua . Tak semudah melepas anak laki-laki. Bermacam tanya dibenak orang tua. Apakah dia akan menjadi lebih baik di tempat yang baru?

Apakah tempat dia bekerja dan kota dimana dia akan berada membuat dia nyaman ataukah membahayakan hidupnya? Kerasan ngga dia di sana. Kuat ngga dia. Itu bila masih ada orang tua atau keluarga yang peduli. Bandingkan dengan remaja wanita tanggung yang berstatus yatim. Apalagi yatim piatu tanpa ayah tanpa ibu.

Pada titik kegalauan inilah, muncul sang perekrut. Menawarkan harapan. Seolah-olah juruselamat ekonomi sekaligus solusi masa depan si gadis polos. Tidak usah kuatir, pekerjaannya menarik dengan gaji sekian. Mungkin begitu bujukannya. Toh nanti bisa dikrimkan juga buat keluarga. Bisa renovasi rumah, bayar utang, tambah – tambah biaya sekolah si adik, dan lain sebagainya. Terdengar manis ditelinga, membikin angan-angan si gadis melayang. Terbayang sinetron-sinetron yang dilihat TV. Betapa enak hidup di sana. Akhirnya di iyakan dan si gadis terperangkap karena rayuan.

***

Pemerintah dan Lintas Sektoral dimana Saat Sindikat Trafficking Menebar Jerat

“Setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan atau turut serta melakukan eksploitasi secara ekonomi dan atau seksual terhadap anak. Yang dimaksud dengan ‘dieksploitasi secara seksual’ adalah segala bentuk pemanfaatan organ butuh lain dari anak untuk mendapatkan keuntungan, termasuk tetapi tidak terbatas pada semua kegiatan pelacuran dan pencabulan,” tutur Cupsanto,Direktur Rehabilitasi Anak Kementerian Sosial di lansir dari sebuah situs berita online pada pertengahan tahun lalu. Beliau mengutip Undang -Undang nomor 35 tahun 2014 mengenai perlindungan anak dan ibu.

Berangkat dari pernyataan di atas ada hal yang bikin miris dan sedkit geregetan. Dimana peran pemerintah dan lintas sektoralnya kala sindikat trafficking menjebak anak -anak gadis dibawah umur. Mengapa gadis desa sudah hancur di kota baru di urus. Di urus disini maksudnya adalah ditindak oleh kepolisian, satpol PP, lalu dinas sosial membawa dan menempatkan mereka di rumah rehabilitasi. Kemudian Komisi Perlindungan Anak Indonesia mulai berbicara di media bahwa ada penindakkan terhadap sindikat trafficking.

Kemudian pelakunya disidang oleh pengadilan negeri yang berada di bawah naungan kemenkuham. Selanjutnya dinas pendidikan mulai bertanya -tanya dan menyalahkan orang tua dan keluarga korban. Harusnya itu si anak sekolah, kenapa di relakan untuk pergi bekerja dan menjadi ini dan itu. Semua punya hak bicara kala beritanya sudah terpampang nyata cetar membahana di media, entah media lokal atau media nasional. Satu pertanyaan, lha selama ini dimana?

Kita tak usah berbicara dengan mengacu kepada undang -undang ini atau undang-undang itu. Karena anak gadis di bawah umur dan juga orang tuanya, tak paham dengan pasal-pasalnya.Tapi bila kita berpikir secara sederhana, secara logis, mengapa sindikat bisa berkeliaran dan menjebak mangsa padahal mangsa itu ada di dalam wilayah kita. Anak gadis desa yang polos itu dan keluarganya adalah warga kita. Masih satu RT, masih satu RW, masih dalam satu kelurahan, kok kita ngga tahu dia bisa kerja seperti itu.

Bila anak gadis itu, tak meneruskan sekolahnya, mengapa ketua RT nya, ketua RW nya, Pak Camat dan Pak Kades, tak mendatangi orang tuanya dan memberi saran agar sang anak baiknya melanjutkan pendidikan sampai tamat di usia 18 tahun. Bukankah warga di kampung atau di desa jauh lebih saling kenal dan lebih dekat dibanding warga di kota.

Bila investasi dari luar belum banyak, apalagi yang bisa olah oleh daerah sebagai daya tarik bagi investor luar? Masa semua harus jadi PNS, padahal masuk tes nya aja susah. Itupun lebih banyak orangnya daripada kursinya. Makanya saya kadang pas ke instansi PNS, ngga senang lihat ada PNS main domino atau ngobrol di kantin (di luar jam istirahat) karena nembusnya saja susah.

Begitu juga LSM atau lembaga yang mengatasnamakan perlindungan anak dibawah umur. Berbicara ketika sudah terjadi korban. Apa LSM atau lembaga ini bekerja sama dengan pihak sekolah dan mendata berapa warga yang seharusnya sekolah tapi tak sekolah? Mengapa tak mendatangi keluarga yang memiliki anak -anak seperti itu bersama ketua RT dan ketua RW nya atau kepala desanya?

Bukankah hal-hal seperti itu berpotensi mencegah dan membatasi ruang gerak sindikat. Atau mengapa LSM -LSM ini tidak menyediakan wadah kreatifitas sendiri untuk membekali si anak gadis dibawah umur ini dengan keahlian yang berguna sebagai bekal dia di perantauan,

Nampaknya pemerintah tak harus lebih fokus di hilir. Lebih baik memikirkan bagaimana pencegahan dan penanganan di hulu. Akar trafficking khususnya perdagangan wanita usia belia untuk dijadikan wanita penghibur tidak ada yang tidak bisa diantisipasi. Dengan menganalisa faktor-faktor penyebabnya dan koordinasi lintas sektoral, paling tidak dapat meminilisasi potensinya.

Peran pemuka agama di level bawah juga diperlukan. Tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap pemuka agana masih tinggi. Lihat saja tayangan ceramah di media sosial seperti You Tube dan lainnya Berapa banyak yang nonton dan comments.Belum lagi tayangan di TV. Di kalangan agama lain juga umat masih percaya dalam tanda kutip pada ajaran dan nasihat sang pemimpin.

Mengapa para pemuka agama ini tidak dilibatkan untuk memberi pencerahan dalam rangka meminimalisasi potensi traffiking di warga lokal yang merupakan jemaahnya. Bukankah itu sudah satu paket dengan jabatan dan fungsi sosialnya di masyarakat.

Kita tunggu saja langkah-langkah antisipatifnya. [*]

 

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *