Si bocah “Koteka”: Cerita unik dibalik demo PRP peringati hari rasis di Surabaya

  • Bagikan

Nabire, [WAGADEI] – Puluhan Mahasiswa/i Papua yang tergabung dalam Front Petisi Rakyat [PRP] demo memperingati hari rasis di Surabaya pada 16 Agustus 2021.

Rasis ini awalnya terjadi di asrama mahasiswa Papua Jl. Kalasan No. 10 Surabaya pada 16 Agustus 2019 [dua tahun lalu]. Demonya tepat di depan Polda Jawa Timur, Surabaya.

Dibalik itu ada sebuah cerita unik yang menarik perhatian semua orang [kepolisian maupun Mahasiswa] pada saat aksi peringati hari rasis yang dilakukan mahasiswa di Surabaya pada 16 Agustus 2021 kemarin.

Adalah seorang anak balita berjenis kelamin laki-laki bernama ‘Koteka’. Uniknya adalah umurnya yang masih sangat balita. Pada saat aksi berlangsung, tidak ada rasa takut sama sekali dengan situasi yang terjadi dalam diri si bocah kecil ini, dimana antara mahasiswa dan militer Indonesia saling dorong-mendorong, hingga hampir berujung bentrok.

“Saya memperhatikan dengan baik semua gerak-gerik Koteka mulai dari kami start demo [tidak jauh dari POLDA], kira-kira 700 meter dari tempat mulai aksi ke titik aksi POLDA. Dia beberapa menolak untuk digendong ibunya. Karenanya, sempat dia lari keluar dari garis komando, tapi dengan cepat saya pegang tangannya dan gendong, lalu antar ke ibunya,” cerita Stefan Ukago, salah seorang mahasiswa yang tergabung dalam aksi demo PRP di Surabaya, Kamis [19/0/8/2021] kepada wagadei.com.

Ada dua kata yang si bocah ‘Koteka’ ini ucapkan berulang-ulang pada saat aksi demo berlangsung, yaitu “Papua Merdeka”. Kedua kata itu salah satu dari tiga tuntutan demo disampaikan.

Tiga tuntutan dimaksud:

1. Berikan hak  menentukan nasib sendiri sebagai solusi demokrasi bagi bangsa Papua [Papua merdeka]

2. Bebaskan Viktor Yeimo tanpa syarat [korban rasisme tahun 2019 lalu]

3. Hapuskan rasisme.

Lanjut cerita Stefan, dalam dirinya bertanya; mengapa sampai ibunya (bisa) membawa koteka ke tempat yang notabene berbahaya. Mudah terjadi bentrok antara mahasiswa dan kepolisian?. Entalah…..pasti ada maksud tertentu dari ibunya Koteka.

Menurut Stefan, apa yang dilakukan oleh ibunya patut ditiru. Sikapnya luar biasa. Artinya yang patut ditiru, bukan ikut sertakan anak dalam demo, tetapi bagaimana cara ibunya secara langsung mengajarkan sejarah tentang Papua yang sebenarnya kepada anaknya.

“Karena kita orang asli Papua jarang mengajarkan sejarah Papua yang menyangkut harga diri, yang sebenarnya kepada anak-anak generasi penerus. Seperti saya sendiri, saya tidak pernah dikasih tahu sejarah yang sebenarnya oleh kedua orang tua saya,” tuturnya.

Namun Stefan mengaku tidak kecewa dengan kedua orang tuanya. Prinsipnya, kata dia, karena semua sejarah tentang Papua yang sebenarnya sudah dimemanipulasi secara nyata-nyata oleh negara Indonesia.

“Buktinya, saat saya sekolah pun Indonesia tidak pernah ajarkan sejarah Papua yang benar, yang perna ada dan terjadi. Saya tahu sejarah Papua setelah duduk di bangku kuliah lewat buku-buku tentang sejarah Papua yang saya koleksi,” ungkapnya.

Diakhir cerita Stefan katakan, “Koteka adalah anak yang pintar, ceria dan semangat. Saya yakin dan doakan untuk Koteka, agar suatu saat nanti menjadi orang yang sukses. Bisa membanggakan kedua  orang tua, orang Papua dan orang lain yang ada disekitarnya, amiiin.” [*]

Reporter: Norbertus Douw

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *