Haus SDM, Kepala Suku Mapia sampai masyarakat ‘Eba Mukai’ bangun asrama

  • Bagikan

 

Nabire, [WAGADEI] – Guna mencetak sumberdaya manusia [SDM] yang handal, penting juga membangun tempat tinggal. Karena itulah, semua pihak berpadu dalam membangun asrama Rumpun Pelajar dan Mahasiswa Siriwo, Mapia, Piyaiye, Topo dan Wanggar [RPM SIMAPITOWA] di Kabupaten Nabire, Papua.

Pada Kamis siang, [12/8/2021] pada acara penyerahan hadiah pertandingan RPM SIMAPITOWA Cup VI kepada pemenang, Kepala Suku Mapia Pabianus Tebai, intelektual Mapia Viktor Tebai juga selaku pembina RPM SIMAPITOWA cabang Nabire, Yohanes Butu Kepala Distrik Siriwo dan Kuba Magai tokoh masyarakat di wilayah SIMAPITOWA memimpin aksi ‘Eba Mukai’ atau alas tikar sebagai bentuk persatuan untuk meringankan beban berat.

“Kita sudah tahu budaya kita orang Mapia bahwa ‘Akage Mukai’ adalah sebelum pernikahan harus melakukan ‘Akage Mukai’ dahulu agar melengkapi dalam taruh maskawin, inikan jelas di wilayah kita (Mapia). Apa yang kita selesaikan suatu masalah harus kembali kepada budaya orang Mee lebih khususnya di Mapia,” kata Kepala Suku SIMAPITOWA, Pabianus Tebai saat pimpin aksi Eba Mukai.

Ia mengatakan, sekecil apapun yang disumbangkan pihaknya merupakan bentuk kecintaan terhadap generasi penerus bangsa, apalagi soal membangun sebuah asrama yang bakal dihuni dan dijadikan sebagai tempat belajar dan berlatih.

“Apa yang kami taruh di atas Eba (tikar) ini sekalipun seribu rupiah ia berharga. Eba mukai itu nilai yang paling luar biasa. Eba Mukai baru budaya kita orang Mapia,” katanya.

Menurut dia, RPMP SIMAPITOWA Pusat di Jayapura akan ada asrama sehingga pihaknya berkomitmen harus ada juga asrama di Nabire.

“Ini membuat kesatuan kita orang SIMAPITOWA, modal sumbangan ini adalah pondasi kita bersatu,” ucapnya.

Ketua Panitia turnamen RPMP SIMAPITOWA Cup VI, Lukas Petege, menyampaikan banyak terimakasih atas kehadiran orangtua dari kampung demi menyumbangkan seribu rupiah.

Di hadapan mereka, Petege mengaku pihaknya telah meminta bantuan kepada sejumlah seniornya namun tak digubris sehingga satu-satunya solusi adalah melakukan pertandingan bola dan meminta restu dari orang tua.

“Senioritas pernah dengar tetapi jawaban tidak ada, sehingga saya menghadap ke masyarakat orang tua, saya ucap pun pakai bahasa daerah (Mee),” ucap Petege.

Ia mengaku sedih dengan tingkah masa bodoh dari pemerintah yang tak ingin bantu walaupun telah masukkan permohonan bantuan dana.

Kepala Distrik Siriwo, Yohanes Butu mengatakan selama mengadakan pertandingan awal hingga penutupan tidak ada masalah sehingga tidak ada beban bagi semua pihak yang turut mengambil bagian.

“Kami dari intelektual mengucapkan banyak terimakasih dan kembali ke Jayapura dengan aman,” ucapnya.

“Kam 15 Kepala Distrik asli putra daerah di kabupaten Nabire, namun kondisi yang ada sekarang ini adalah kondisi tidak memungkinkan (Covid-19). Apabila adik-adik susah dalam perjuangan kalian, itulah tugas anda hasilnya nanti akan menuai beberapa tahun kemudian,” tuturnya. [*]

Reporter: Musa Dumukoto
Editor: Uka Daida

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *