Surat terbuka terkait ” Uskup Orang Asli Papua di Tanah Papua”

  • Bagikan

 

Dari: Yakobus Dumupa

Yang Mulia Sri Paus Fransiskus
Di Vatikan

Bapa suci yang mulia;

Mengawali surat ini, saya berdoa seraya berharap semoga Bapa dalam keadaan yang baik, sehat dan bahagia. Berkat dan rakmat yang berlimpah dari Allah senantiasa menyertai Bapa, sehingga Bapa mampu menjalankan tugas suci sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia dengan baik dan lancar.

Perkenalkan diri saya. Saya, Yakobus Dumupa. Saya merupakan “orang asli Papua” yang beragama Katolik, yang secara geografis berada jauh dari Vatikan, tempat dimana Bapa berada. Saya bertempat tinggal di Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua, Indonesia. Saya anggota umat Katolik pada Paroki St. Maria Immaculata Mowanemani, Dekenat Kamu-Mapia, Keuskupan Timika, Papua.

Sebagai orang Katolik, saya hendak menyampaikan pengaduan dan aspirasi dalam kapasitas sebagai pribadi, sebagai salah satu umat Katolik, lepas dari jabatan saya sebagai Bupati Dogiyai. Pengaduan dan aspirasi yang saya maksud berkaitan dengan “Uskup Orang Asli Papua di Tanah Papua”.

Beberapa waktu terakhir, umat Katolik di Tanah Papua, terutama yang berstatus sebagai “orang asli Papua” mengaspirasikan “Imam Orang Asli Papua diangkat menjadi Uskup di Tanah Papua”, baik di Keuskupan Agung Merauke, Keuskupan Jayapura, Keuskupan Sorong-Manokwari, Keuskupan Agats, dan Keuskupan Timika. Bersamaan dengan berjalannya waktu, keinginan ini terus bertambah, baik jumlah orang yang mendukungnya maupun upaya-upaya perjuangan untuk mewujudkan keinginan tersebut. Belakangan ini suara-suara mengenai ini, baik secara pribadi maupun kolektif sudah mulai terdengar kencang, setelah sebelumnya “tak bersuara”.

Mengapa “orang asli Papua” menghendaki dan mulai bersuara agar “Imam orang asli Papua” diangkat menjadi “Uskup” di Tanah Papua? Ada tiga alasan pokok. Pertama, jika sebelumnya mayoritas imam di Tanah Papua merupakan “orang non-asli Papua”, sekarang sudah banyak imam “orang asli Papua”. Ini berarti, dari aspek ketersediaan sumber daya manusia (orang dan kemampuan), sudah ada imam orang asli Papua yang bisa dianggkat menjadi Uskup di tanah leluhurnya sendiri. Kedua, untuk menghilangkan ketidakpercayaan kebanyakan orang asli Papua terhadap biarawan-biarawati, Uskup, pengurus Gereja Katolik, dan pengurus lembaga-lembaga milik Gereja Katolik yang selama ini dikuasai oleh kelompok orang non-asli Papua, yang dianggap menjalankan “kekuasaan gereja” yang banyak merugikan dan mengorbankan orang asli Papua. Ketiga, Uskup orang asli Papua pasti akan lebih memahami kehidupan di Tanah Papua dan orang asli Papua, sehingga pasti lebih tahu “bagaimana” menggembalakan mereka agar Gereja Katolik di Tanah Papua lebih membumi dan berakar kuat.

Alasan-salan ini saya sampaikan bukan karena membenci orang non-asli Papua, terutama imam dan Uskup orang non-asli Papua (sebab saya paham kita harus hidup saling mengasihi), tetapi semata-mata untuk menghargai harkat dan martabat orang asli Papua di negeri leluhurnya. Jika ini dianggap diskriminatif, maka inilah “diskriminasi positif”, yakni diskriminasi untuk menghargai dan menghormati orang atau kelompok orang yang selama ini tidak berdaya dan termarginal. Diskriminasi seperti ini diperlukan dan diberlakukan dalam rangka untuk menciptakan kesetaraan dan keadilan dalam Gereja Katolik di Tanah Papua. Saya berharap Bapa dan Gereja Katolik jangan melihat diskriminasi seperti ini dari perspektif yang salah.

Sebagai orang Katolik saya percaya, bahwa dengan segala kebijaksanaan yang dianugerahkan oleh ALLAH kepada Bapa, pasti akan mempertimbangkan “kerinduan” dan “alasan” orang asli Papua mengenai “Uskup Orang Asli Papua di Tanah Papua” ini. Bapa adalah kepala gembala yang baik, kepala penerus para rasul yang mewarisi kebijaksanaan TUHAN YESUS, pasti memahami suara domba-domba yang Bapa gembalakan di seluruh dunia, termasuk di Tanah Papua. Semoga Bapa mengangkat “Gembala orang asli Papua untuk menggembalakan domba-dombanya sendiri di tanah leluhurnya”.

Apapun hasilnya nanti, saya percaya suara saya yang mewakili suara-suara orang asli Papua yang beragama Katolik ini, sekalipun tidak didengar oleh Bapa, tetapi telah didengar oleh ALLAH. Sebab surat ini sekaligus sebagai doa kami kepada ALLAH. ALLAH akan memberi hikmat dan kebijaksaan kepada Bapa untuk mengangkat Uskup orang asli Papua di Tanah Papua pada waktunya nanti.

Saya berdoa semoga Allah menganugerahkan kebijaksanaan yang luar biasa, kesehatan yang baik, dan kebahagiaan yang melimpah kepada Bapa. Semoga Bapa tetap menjadi Gembala yang baik bagi semua umat Katolik di seluruh dunia, termasuk kami di Tanah Papua.

Allah memberkati Bapa!

Mowanemani, 18 Agustus 2021

Yakobus Dumupa
(Orang Asli Papua beragama Katolik)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *