Gereja Papua sama seperti Timur Leste Dulu

  • Bagikan
Ilustrasi gedung gereja di Papua, di halaman gereja menaikkan bendera Merah Putih - Foto: Diambil di Facebook

 

Oleh: Made Supriatma

Tulisan ini merupakan tanggapan aksi Persekutuan Gereja-Gereja di Tanah Papua (PGGP) dan persekutuan Gereja-Gereja Se-Kota Jayapura (PGGS), yang dikoordinir oleh bapa uskup Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar OFM pada Senin, 15 Mei 2019.

Aksi itu bertajuk membelah NKRI dan Pancasila. Tapi dengan dalil lain adalah membelah Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, mantan gubernur DKI Jakarta yang menurut Front Pembela Islam (FPI) menista agama mereka.

Mereka membelah agama, bahkan Tuhan atas nama kasus Ahok yang sedang diproses hukum di pengadilan agama Jakarta. Sedangkan pada waktu itu di Papua tetap berduka, karena 4 pelajar di Paniai tertembak pada Desember 2014.

Situasi terkini pada waktu itu adalah evakuasi korban operasi militer di wilayah Banti, areal Freeport Indonesia di Mimika yang diakibatkan oleh kontak senjata. Dimana di dalamnya melibatkan TPNPB/OPM dan TNI/POLRI.

Orang Papua, sangat sedih. Karena pemuka agama berani menyuarakan persoalan yang ada di Jakarta yang sangat jauh. Bahkan Ahok yang tidak ada di sini. Sangat menarik, karena mereka tidak berani angkat masalah–membersihkan selumbar balok yang ada di dalam mata sendiri.

Made melihat pendekatan gereja katolik dan lainnyan di Papua ini, secara umum dilakukan seperti apa yang dulu para pemuka agam di timur Leste pada masa kekuasaan dan pendudukan dari Indonesia–sebelum merdeka.

***
Gereja Papua: Sama seperti di Timor Leste dulu, gereja-gereja (baik Katolik maupun Protestan) sangat peduli dengan NKRI. Itulah sebabnya, karena kasus Ahok, mereka seperti cacing kepanasan. Mereka mau menjadi penyelamat NKRI dan Pancasila.

Hanya saja ada kontras yang amat tajam disini. Cacing mereka merasa nyaman dan tenteram justru ketika umat mereka dibunuh dan disiksa.

Saya ingat sekitar dua tahun lalu, beberapa seminarian Fransiskan dan suster-suster turun ke jalan untuk menyerukan penghentian pembunuhan dan penyiksaan terhadap anak-anak muda Papua. Bapa Uskup langsung merasa jubahnya terbakar. Kabarnya para frater dan suster ini kena damprat.

Selama beberapa hari ini, saya membaca para intelektual Papua menyuarakan kegelisahan mereka. Kawan-kawan saya mempertanyakan mobilisasi dukungan untuk Ahok ini. Salah satunya merumuskan dengan sangat baik:

“Tapi manakah lilin yang sama untuk Arnold Ap, Theys Eluay, Kelly Kwalik, Yawan Wayeni, Filep Jees Karma-Linus Hiluka-Steven Itlay, dkk yg dipenjara sewenang-wenang, Marthen Tabu, Melkianus Awom, Mako Tabuni, Gobay-You-Yeimo-Pigay….dst..dst..dst….???”

Gereja di Papua adalah gereja yang amat asing terhadap umatnya. Gereja ini sangat ‘out of touch.’ Inilah gereja para penguasa dan penindas. Tidak sedikitpun dia bicara tentang umatnya. Dia lebih sering hadir di acara-acara Kodam, Polda atau Korem ketimbang di rumah-rumah umatnya yang miskin.

Apakah gereja pernah menengok anak-anak mudanya di Kamp Vietnam — yang menjadi markas KNPB? Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa bahwa berpikir untuk bicara dengan anak-anak muda ini pun tidak pernah terlintas di pikiran gereja penguasa ini. Ia tidak pernah terpikirkan karena memang Gereja tidak merasa menjadi bagian dari penderitaan dan perjuangan orang Papua.

Rakyat Papua adalah bangsa piatu. Mereka ditinggal tanpa pembela. Bahkan gereja yang seharusnya menjadi ‘rumah singgah’ untuk mendapat penghiburan pun menampik mereka. Rakyat Papua adalah rakyat yang terlunta. Dia ditolak persis seperti Yesus sendiri ditolak oleh pemuka-pemuka agama dijamannya.

Salah seorang kawan Papua, ketika menanggapi soal lilin untuk Ahok ini, berkata pada saya, “Sa pu lilin akan sa simpan saja karena listrik PLN sering mati!”

Gereja ini telah membiarkan anak-anaknya menjadi piatu!

*] Made Supriatma adalah seorang peneliti dan sering mengungkapkan keterlibatan para jenderal berbintang, juga korelasi dengan agama-agama guna merebut wilayah, mempertahankan kekuasaan dan memperkokoh kedaulatan di samping aktif menjalankan pendudukan.

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *