Massa aksi PRP di Abepura dibubarkan polisi dengan water Canon 

  • Bagikan

Jayapura,[WAGADEI] – Massa aksi petisi rakyat Papua [PRP] peringati hari rasisme 16 Agustus 2019-16 Agustus 2021, sekaligus menuntut Polda Papua bebaskan tahanan rasis Victor Yeimo,Frans waisini dan 6 tahanan lainnya di Sorong Papua barat di bubarkan paksa aparat keamanan menggunakan water Canon.

 

Ketika di konfirmasi media ini, Senin,[16/8/2021] di halaman asrama Nimborang, Benny Murib, Koordinator aksi lapangan menjelaskan, Aksi ini murni untuk peringati hari  ucaran rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya,malang dan Semarang pada 16 Agustus 2019 sekaligus untuk menuntut Pemerintah Indonesia bebaskan Victor Yeimo dan kawan-kawan tahanan rasis lainnya.

 

” Aksi kami murni peringati hari rasisme sekaligus,menuntut Polda bebaskan Victor Yeimo dan kawan-kawan tahanan rasis lainnya. Tapi kami sangat sayangkan sikap arogansi aparat keamanan yang bertindak berlebihan dalam menangani massa aksi hari ini di Jayapura,” ujarnya.

 

” Kami juga bukan hanya dipukul tetapi massa aksi kami di bubarkan dengan water canon. ini sudah melanggar undang-undang yang mengatur kebebasan berpendapat,” tuturnya.

 

Aris Howay, Kuasa hukum PRP yang mendampingi massa aksi di perumnas III mengingatkan bahwa, Undang Undang melarang siapapun membubarkan demonstrasi secara paksa, sebagaimana diatur Pasal 18 ayat (1) dan (2) UU N 09/1998 tentang Kemerdekaan menyampaikan pendapat Di muka umum.

 

” Pasal tersebut mengancam pidana satu tahun penjara kepada siapapun yang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, menghalang-halangi hak warga negara menyampaikan pendapat di muka umum yang telah memenuhi ketentuan undang-undang,” tuturnya.

 

Lanjutnya, Pembubaran paksa oleh aparat juga disebut Howay telah melanggar SOP pengendalian aksi masa damai (Hijau) sebagaimana diatur dalam Pasal 8 Peraturan Kapolri No 16 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengendalian Masa aksi.

 

“Aksi mahasiswa ini masih dalam situasi tertib atau damai (hijau) yang mestinya dalam penanganan polisi tidak melakukan pembubaran paksa, pemukulan dan penembakan,” ucap Howay.

 

” Tindakan yang dilakukan oleh kepolisian adalah melakukan pengawalan dan pengawalan, melakukan negosiasi dan perundingan, sebagaimana diatur dalam huruf a sampai m pasal 8. Sebaliknya bukan polisi melakukan pembubaran paksa dan penembakan seperti yang terjadi dalam kasus ini,” imbuhnya.

 

Reporter  : Theresia F.F Tekege

 

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *