Mahasiswa Eksodus: Polda Papua jangan Pancing amarah rakyat papua

  • Bagikan

Jayapura,[WAGADEI] – Mahasiswa Eksodus korban rasisme di Surabaya 16 Agustus 2019 tegaskan,Kepolisian daerah Papua [Polda Papua], Jangan memancing amarah rakyat Papua dan segera bebaskan Victor Yeimo tanpa syarat. massa penangkapan serta prosesnya sudah lebih dari 60 hari, Sejak 09 Mei 2021- Hingga 11 Agustus 2021 hari ini.masalah rasis yang jadi alasan penangkapan pun sudah dibayar lunas oleh 7 tahanan politik lainnya di Polda Kalimantan timur.

Hal ini disampaikan ketua Mahasiswa Eksodus Papua, Yusni F.Iyowau dalam keterangan tertulisnya kepada wagadei.com,rabu,[11/8/2021].

” Kapolda Papua dan Jajarannya, Stop memancing amarah rakyat Papua. Kenapa Victor masih Ditahan sampai hari ini?. Sedangkan beberapa hari lalu kata Gobay,Koalisi Penegak Hukum dan HAM Papua sebagai Kuasa Hukum Victor Yeimo sudah mengatakan Kapolri segera memerintahkan Kapolda Papua untuk memindahkan/membebaskan Victor Yeimo demi hukum. Karena dalam Pasal 160 KUHP dan Pasal 179 ayat (1) KUHP tidak merekomendasikan Penyelidikan Lebih dari 60 hari. Ini sudah melanggar hukum yang ada,” tuturnya.

Lanjutnya, Dengan melihat Kondisi fisiknya sejak ia ditangkap hingga hari ini, kondisi Kesehatannya semakin memprihatinkan. Sedangkan fakta yang terjadi, k deluarga yang mau jenguk pun dipersulit,Hak Tersangka dikemanakan?.

Mahasiswa Eksodus dan masyarakat Papua pada umumnya sudah mengubur masalah rasis dan tanggal 16 Agustus nanti akan diperingati sebagai hari lahirnya rasisme di Indonesia. Pemerintah Indonesia Stop pancing amarah rakyat Papua lagi.

” Jika Polda Papua terus bersih keras menahan Victor Yeimo dalam keadaan sakit seperti ini, maka kita siap bergabung bersama rakyat lumpuhkan Tanah Papua,” tegasnya.

Di tempat yang berbeda, Awi Chrys Pahabol,salah satu mahasiswa korban rasis di Surabaya, turut menyayangkan penangkapan Victor Yeimo dengan pasal makar yang represif (seperti Pasal 106 dan 110 dari KUHP), terhadap Jubir Internasional KNPB yang merupakan pelanggaran terhadap kebebasan berekspresi dan juga menjadi penghalang besar dari suatu solusi damai politik masalah Papua yang terus memburuk belakangan ini.

Pahabol berharap, Pemerintah Indonesia harus tahu kewajiban hak asasi manusia (HAM) untuk bisa membedakan ancaman kekerasan dari kelompok pro-kemerdekaan bersenjata, yang bisa direspon dengan pemidanaan, dengan ekspresi politik damai yang dilindungi oleh norma dan standar hukum HAM internasional yang telah diakui oleh Indonesia sendiri, khususnya ketika meratifkasi Kovenan International Hak-Hak Sipil dan Politik.

” Saya menganggap pemidanaan terhadap Victor Yeimo dilandaskan pada motivasi politik pemerintah yang terus gagal menyelesaikan akar masalah konflik di Papua. seperti salah satunya menuntaskan praktek rasisme terhadap rakyat Papua baik yang dilakukan oleh aparat negara maupun warga lain yang intoleran,” pungkasnya.

Pihaknya mendesak Kepolisian Daerah Papua untuk memastikan tidak ada praktek penyiksaan atau perlakuan buruk lainnya terhadap Victor Yeimo dan menjamin kesehatan mental dan raganya tetap utuh di masa masih berlangsungnya Pandemi COVID-19.

Pahabol juga menegaskan, Sudah berulang kali Pemerintah Indonesia diperingatkan oleh komunitas dan organisasi HAM internasional untuk buka ruang demokrasi namun NKRI tidak memberikan ruang hak hidup bahkan Kesehatan bagi Victor Yeimo.

” Ini sudah lebih dari keterlaluan.Polda harus berikan akses kesehatan bagi Victor yeimo,” tuturnya.

Gideon Adii juga mengaku kecewa dengan perlakuan negara melalui aparat keamanan terhadap Victor Yeimo, yang tidak menjamin keselamatan kesehatan selama Victor berada didalam tahanan. sehingga mengakibatkan tubuh victor mengurus karena tidak diurus kesehatannya.

” Sayang sekali. Negara tidak melakukan kewajibannya menangani tahanan. Kalau tidak bisa beri perhatian khusus terhadap kesehatannya, Bebaskan saja untuk diurus oleh Keluarga,” pungkasnya.

Reporter : Theresia F.F Tekege

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *