Data terbaru, ratusan pemuka Agama Islam dan Kristen meninggal akibat Covid-19

  • Bagikan

Jayapura, [WAGADEI] – Beberapa hari lalu ABC Indonesia mengumpulkan data terkait angka atau jumlah tokoh agama yang meninggal di masa pandemi Covid-19 di Indonesia.

Berdasarkan perolehan data yang diperoleh dari berbagai kalangan seperti Islam, Katolik dan Protestan ditemukan angka yang cukup mencengangkan untuk diabaikan begitu saja.

Melansir Kantor Berita Tempo, dari sekitar 84 ribu orang lebih warga Indonesia yang meninggal karena Covid-19, Panser Nadhlatul Ulama (NU) Data melaporkan ada setidaknya 732 ulama yang meninggal sejak bulan Februari 2020.

Selain NU, Pendeta Ronald Rischardt, S. Th yang menjadi koordinator Divisi Relawan Gereja Melawan Covid-19/GMC-19 di PGI, menyebutkan sudah ada setidaknya lebih dari 200 pekerja gereja yang meninggal karena Covid-19 di seluruh Indonesia.

Adapun Pater Otto Gusti, dosen dan Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) di Ledalero, Flores di provinsi Nusa Tenggara Timur, yang sebagian besar penduduknya beragama Katolik, virus COVID-19 juga memakan korban di kalangan pekerja gereja.

Angka kematian di Flores menurut Pater Otto meningkat drastis selama dua bulan terakhir. Sementara jumlah imam Katolik yang meninggal di Flores dan Lembata ada sekitar lima orang dan 100 orang umat.

Provinsial Ordo Jesuit Indonesia juga merilis data bahwa pada tahun 2020, ada dua orang meninggal karena Covid-19, mereka terdiri dari satu orang pastor dan satu bruder.

Masalah yang Dihadapi

Jumlah data yang dirilis tersebut tentu selalu memiliki latar belakang dan sering kali terjadi karena beberapa alasan. Salah satunya ketidakpatuhan terhadap protokol kesehatan baik di Pesantren, Gereja atau tempat ibadah lainnya.

Kebanyakan semua pihak yang terkait pada mulanya tidak menganggap Covid-19 merupakan persoalan cukup serius sehingga beberapa aturan masih dilonggarkan.

Pondok Pesantren Krapyak di Yogyakarta yang dikelola oleh Yayasan Ali Maksum misalnya. Pondok pesantren tersebut sekarang dikelola oleh generasi keempat dari keluarga Ali Maksum.

Maya Fitria adalah salah seorang dari generasi keempat tersebut, yang sekarang menjadi Sekretaris Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta.

Menurut Maya, sama seperti sebagian masyarakat Indonesia lainya, pada awalnya kalangan di pondok pesantren tidak menganggap pandemi COVID-19 sebagai hal yang serius.

Menurut Maya, titik balik dari kesadaran para pengasuh pondok adalah ketika ibu Maya sendiri, Nyai Hanifah Ali meninggal dunia bulan November lalu karena Covid-19.

“Sebelumnya memang para kyai di sini masih kurang mematuhi protokol kesehatan, setelah ibu saya meninggal, baru semua lebih serius mengikuti aturan yang kita terapkan di pondok,” kata Maya.

Banyak orang kehilangan rujukan

Maya mengatakan di tiga pondok pesantren di Krapyak ada empat tokoh senior yang meninggal selama pandemi dan dua di antaranya positif Covid.

“Dua pengasuh utama Pondok yang meninggal adalah KH Attabik Ali [Pesantren Ali Maksum] karena COVID, dan KH. Najib Abdul Qodir [Pesantren Al Munawir] bukan karena Covid-19,” kata Maya Fitria dilansir ABC Indonesia.

Sebagai Satgas di pondok pesantren milik Yayasan Ali Maksum yang memiliki sekitar 4.500 santri tersebut, Maya juga mengatakan untuk memudahkan penanganan COVID-19, termasuk ajakan untuk divaksinasi, adalah keseriusan para guru dalam memahami pandemi.

“Seperti soal vaksin, pada awalnya banyak yang enggan. Namun sekarang dari 400 tenaga pengajar, sekitar 90 persen sudah divaksinasi dosis pertama.”

“Kita masih menunggu vaksin kedua bulan depan,” ujarnya.

Mengenai dampak meninggalnya para pengasuh utama terhadap keberlangsungan pondok, Maya mengatakan walau para kyai sepuh bisa digantikan oleh mereka yang muda, pondok pesantren seperti yang dikelola Yayasan Ali Maksum tetap sangat kehilangan mereka.

“Beliau yang meninggal kan aset. Kita sangat kehilangan mereka. Kyai itu kan simbol bagi pesantren,” ucapnya.

KH Atabik Ali misalnya sudah menjadi guru bagi banyak murid, murid-muridnya sudah sangat banyak yang kemudian berada di berbagai pesantren.

“Para kyai ini menjadi rujukan bagi banyak pondok,” ujarnya.

Mencoba mempertahankan jemaat

Kepada ABC Indonesia, Pendeta Ronald mengatakan sejauh ini dari informasi yang mereka kumpulkan, sudah ada lebih dari 200 pekerja gereja yang meninggal karena COVID di seluruh Indonesia.

“Yang kita maksudkan sebagai pekerja gereja adalah termasuk pendeta, penginjil, penatua di gereja,” jelasnya.

“Kebanyakan memang juga memiliki penyakit bawaan dan juga meninggal karena keterbatasan fasilitas dan keadaan di tempat masing-masing,” katanya.

Di Indonesia, PGI membawahi 91 sinode atau majelis gereja yang berbeda.

“Setiap sinode (gereja) memiliki umat minimal 10 ribu orang. Jadi dampak dari pandemi ini juga sangat terasa bagi gereja, tidak saja berkaitan dengan pekerja yang meninggal,” kata Pendeta Ronald.

Menurutnya yang paling terasa adalah gereja yang selama ini menggantungkan diri pada kehadiran jemaat di gereja untuk memberikan sumbangan bagi kelangsungan kehidupan gereja.

“Kalau gereja-gereja utama seperti misalnya HKBP, GPI, Gereja Pantekosta dan yang lain, para pendeta mendapat gaji bulanan.”

“Gereja ini juga menyumbangkan iuran bulanan ke PGI, kita sekarang melihat juga mereka mulai mengalami kesulitan,” kata Pendeta Ronald.

Dengan tidak adanya kegiatan kebaktian langsung di gereja, menurut Pendeta Ronald banyak gereja yang harus kreatif menyelenggarakan kebaktian virtual.

“Karena virtual, jemaat yang biasanya ke gereja A, bisa saja sekarang mengikuti kegiatan di gereja lain. Jadi para pendeta harus kreatif untuk menyelenggarakan kegiatan karena kan bersaing juga dengan gereja lain untuk mempertahankan jemaat dan mencari yang baru,” kata Ronald lagi.[*]

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *