Melawan lupa, IPPMMEE Jayapura peringati tragedi Oneibo – Deiyai berdarah

  • Bagikan

Jayapura, [WAGADEI] – Ikatan Pemuda, Pelajar dan Mahasiswa Mee [IPPMMEE] se kota Jayapura, Papua memperingati tragedi Oneibo, Kabupaten Deiyai berdarah yang terjadi pada 1 Agustus 2017 lalu.

Dalam acara ini pengurus IPPMMEE melibatkan pihak keluarga korban yang kebetulan sedang berada di Jayapura. Acara dilangsungkan di asrama Tunas Harapan (Yameewa) Padang Bulan, Abepura, Kota Jayapura, Papua.

“Sekarang sudah empat tahun tanpa ada penyelesaian. Maka kami sebagai mahasiswa, dan pemuda Meepago di Jayapura meperingati dan agar kita tidak boleh lupa atas tragedi Oneibo berdarta. Karena kasus ini sudah menjadi luka yang tidak akan sembuh di tubuh kami,” kata Ketua IPPMMEE Jayapura, Apinel Doo dalam seruannya.

Dalam kejadian itu, salah satu tokoh pemuda bernama Yulianius pyigai menjadi korban meninggal dunia akibat ditembak oleh Satuan Brimob dibantu TNI Dmdi kampung Oneibo, Distrik Tigi. Sebagian lainnya mengalami luka-luka berat maupun ringan.

Ia berharap kasus seperti ini seharusnya selesaikan secara terbuka,  karena diduga mengandung unsur pelanggaran hak asasi manusia yang berat.

“Namun waktu itu hanya minta maaf kepada warga masyarakat Deiyai, terutama pihak korban. Jadi bagi kami Undang-undang Negara Indonesia hanya berlaku di Jawa, tidak dengan bangsa Papua,” katanya tegas.

Bagi mahasiswa kata dia, hanya ungkapkan meminta maaf tidak ada artinya. “Karena itu nilai kemanusiaan,” ucapnya.

“Jadi segara selesaikan semua kasus di Papua, terutama Oneibo berdarah itu. Kami tidak  mau masalah ini tunggu tuntas sampai kami mati. Berikan apa yang rakyat Papua minta, karena mau rakyat mau hidup dengan aman tanpa kekerasan dari negara,” tegasnya.

Engelbertus Pakage mewakili pihak keluarga korban, mengatakan pihaky sangat merasa kehilangan atas nama Yulianus Pigai yang mati sia-sia di ujung moncong senjata.

“Kami sangat merasa kehilangan, karena tragedinya sangat tidak bermanusia. Itu seakan-akan macam seekor tikus padi yang dibunuh dan dibuang begitu saja. Maka kami sangat sangat sedih dan merasa kehilangan saudara kami Yulianus Pigai,” ujar Pakage.

Ia mengaku, pihaknya merasa dihukum oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia karena tak pernah ada tindaklanjut dari institusi terkait.

“Dengan itu kami pihak keluarga minta  segera selesaikan secara terbuka masalah ini. Karena  masalah ini Pelanggaran HAM, hak asasi manusia, di tanah Papua,” ujarnya. [*]

Reporter: Yulianus Magai
Editor: Aweidabii Bazil

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *