Sikapi Kasus diskriminasi di Merauke, Mahasiswa USTJ berunjuk rasa

  • Bagikan

Jayapura,[WAGADEI] – Mahasiswa-mahasiswi Universitas Sains dan Teknologi Jayapura [USTJ], berunjuk rasa menyikapi persoalan kekerasan dua oknum anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara [TNI UD] terhadap salah satu pemuda Papua yang bisu di Jln.Mandala Merauke,Papua,Senin 26/7/2021.

 

Aksi unjuk rasa berlansung tidak lama di halaman Kampus USTJ,Jumat,[30/7/2021], karena aparat keamanan memasuki kampus dan membubarkan massa aksi.

 

Koordinator Lapangan (Koorlap), Semi Gobai menyatakan, aksi unjuk rasa ini merupakan bentuk sikap protes mahasiswa USTJ terhadap kekerasaan diskriminasi yang diterima pemuda di Merauke yang oknumnya merupakan anggota militer angkatan Udara yang bertugas di Merauke.

 

” Kami Mahasiswa USTJ memilih tidak turun jalan, dan hanya melakukan mimbar bebas di kampus karena kampus memiliki kekuatan Hukum yang legal dan dilindungi UU No 12 tahun 2012 tentang Perguruan Tinggi,” tuturnya.

 

Lanjut Gobai, Sikap kami jelas, Negara melalu Aparat keamanan stop bertindak rasis terharap OAP. video kekerasaan fisik hingga mencekik leher pemuda dan menginjak kepala leher pemuda di merauke sebagai simbol kekerasan untuk injak harkat dan martabat orang asli Papua. Ini sikap yang tidak manusiawi.

 

Menurut Gobai, masyarakat Papua selalu dihadapkan dengan tindakan rasisme. mulai dari kerajaaan Majahpahit, Siriwijaya, Tidore hingga pada Indonesia, budaya rasis tumbuh subur di tanah Papua. Bahkan Undang-Undang penghapusan Rasial pun tidak bisa menghentikan budaya rasisme.

” Undang-undang sendiri lemah dalam menciptakaan keragaman dan menghargai sesama manusia yang adalah Ciptaan Tuhan,” tuturnya.

 

Untuk itu, Gobai berharap, tindakan aparat TNI AU itu segera ditindak tegas dan dipecat secara hukum.

 

Ia juga meminta, Gububernur Papua, DPRP dan MRP segera mendeklarasikan Stop Rasisme dan membuat Perdasus tentang Rasisme di tanah Papua. sebagai bentuk sikap Orang Papua, ketika terjadi tindakan Rasisme, harus ditindak tegas.

 

Sementara itu, Mentri Pengembangan Sumber Daya dan Organisasi Kampus BEM PT USTJ, Hepron Tabuni meminta agar Negara dengan sungguh-sungguh mendidik orang Papua dengan cara-cara yang manusiawi.

“Kami manusia Papua sudah sangat menghargai suku-suku lain. Maka, jangan bikin gerakan tambahan, apalagi membuat gerakan dan tindakan rasisme, itu tidak boleh,” Kata dia.

 

Di tempat yang sama, Mantan Ketua BEM USTJ, Alexander Gobai menilai, kekerasaan yang terjadi di merauke adalah tindakan Negara yang sedang memainkan isu. Dan tindakan itu adalah lagu lama.

” Rasisme sejak 2019 sangat bertumbuh subur. Rakyat Papua sedang menonton dan menaham emosi atas setiap tindakan Negara ini. Berharap, jangan sampai bom waktu menyalah di Papua,” Ujar Gobai yang juga merupakan eks Tapol Rasisme.

 

Lanjut Gobai, Kami minta Pemerintah provinsi [Pemprov] Papua,segera mendeklaraikan Stop Rasisme terhadap orang asli Papua. Pemprov harus membuat Perda khusus yang mengatur rasisme. agar jelas penanganannya kedepan.

 

Reporter      : Theresia F.F.Tekege

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *