Philemon Keiya: Tubuh kita akan berakhir tapi karya kita tetap abadi 

  • Bagikan

Jayapura, [WAGADEI] – Untuk memotivasi generasi muda Papua agar mencintai dunia baca dan tulis [literasi], seorang pegiat sastra di Papua bekerja sama dengan Komunitas Aksara Lembah hHjau Kamuu dibawah asuhan Forum Komunikasi Pelajar Mahasiswa Lembah hijau Kamuu [FK-PMLHK] se Jayapura menggelar pelatihan menulis cerita pendek [Cerpen]. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Asrama Serviam Kamuu, Perumnas I Waena, Kota Jayapura, Sabtu,[24/7/2021].

Philemon Keiya, Cerpenis Papua menjelaskan, tanah Papua sedang berhadapan dengan berbagai masalah, mulai dari masalah ekonomi, pelanggaran hak asasi manusia, politik, sosial dan lain-lain sehingga dengan melihat banyak masalah ini anak mudah Papua harus punya kontribusi untuk tanah Papua dengan menulis.

“Papua saat ini banyak masalah, ada masalah ekonomi,pelanggaran HAM, sosial, dan-lain. Dengan melihat semua itu setidaknya anak-anak Papua bisa menulis menceritakan suka cita orang Papua hari ini kepada dunia luar. Tidak usah dengan menulis artikel yang agak berat, Cukup kita tulis cerpen yang ringan saja orang akan tau situasi dan kondisi kita hari ini di Papua,” tuturnya.

 

Lanjutnya, memang awal sebagai pemula akan susah tapi jangan berhenti di situ. Belajar menulis terus,baca buku terus, ulang terus hingga karya yang kita hasilkan lebih menarik.

 

Keiya berharap, dengan adanya pelatihan ini akan lahir pula Cepenis-cepenis Papua yang menulis sambil baca buku dengan memegang teguh motivasi, ” Jika saya menulis saya akan hidup selamanya,walau tubuh ini akan kembali kepada Tuhan yang empunya”.

 

Di tempat yang sama, Benediktus Pigai, Ketua Pena Aksara Lehim mengaku pihaknya bangga karena isi materinya sesuai dengan apa yang diinginkan.

“Bangga ya. Karena bukan hanya teori yang kaka Philemon bagi, tapi juga kami memiliki waktu untuk praktek,” katanya.

Pigai berharap, semoga dengan materi cerpen, kita mampu menghidupkan dan terus lestarikan budaya dan identitas orang Papua melalui menulis. Karena saya pikir demo paling terbaik adalah menulis

“Kita harus menulis, karena ada pepatah yang bilang, ketika ruang demokrasi dibungkam, sastra harus bicara,” ucapnya. [*]

 

 

Reporter   : Yulianus Magai 

Editor        : TFFT

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *