Dana Desa habis di Hotel Jepara

  • Bagikan

 

PUKUL 16.00 WP sore depan hotel Jepara manusia lebih banyak beraktivitas, ada yang menggunakan transportasi beroda dua maupun empat, ada yang pakai helm untuk keselamatan kepala dan ada yang pake helm karena Polisi, lebih banyak tidak mengenakan helm. Jam empat sudah lewat dua puluh seperti jam enam, gelap mendung, sedikit lagi mungkin hujan. Gumpalan awan menutupi panas kota Nabire yang suka menggigit kulit ketika tiba terik matahari.

Tepat pukul 17.00 WP, hujan kecil turun, situasi berubah mendadak, seperti mereka yang tiba-tiba rindu pada cahaya yang telah pergi ketika momen tertentu. Waktu semakin larut dan semakin gelap. Mungkin sebentar lagi hujan besar dan kembali hujan kecil, berhenti lagi.

Kata orang Nabire; ”hujan kepala batu,”. Hujan kecil yang seringkali lama berhenti, kadang membawah rindu pada sebuah rasa atau kesal pagi mereka sedang berteduh pinggir jalan, menunggu hujan pergi.

Nabire sudah menjadi kota yang suka hujan, jika sudah sore. Tatkala awan bergumpal air menutupi cahaya matahari, malam hujan, seperti malam ini telah hujan, butiran air kecil jatuh ketanah. Pukul 19.00 WP, tinggal hanya hujan kecil seperti tadi, masih belum pergi, jalan aspal depan hotel Jepara telah basah tadi, sedikit aktivitas dari manusia yang tidak ingin kalah dari air hujan, lebih banyak ruang kesunyian, kendaraan hanya satu-satu. Tapi di lain ruang, ada cerita yang cukup menarik.

Kini sudah jam 10 malam, mobil Fortuner putih plat DS 2104 BT parkir depan hotel Jepara, terlihat becek di bagian ban dan bodi mobil, ternyata mereka baru sampai dari pedalaman. Seorang bapak, berusia 45 tahun turun dari mobil yang baru diparkir. Ia menggenggam HP Samsung J7, juga gantung noken Anggrek sebelah kanan bahu.

”Malam pak, ada kamar yang kosongkah?,” tanya bapak itu usai turun dari mobil kepada petugas hotel setelah sampai di reception.

”Ada pak,” jawab petugas hotel sambil senyum tipis, anak muda Papua yang sudah mahir melayani setiap pelanggan yang datang.

”Okey, berapa harga satu malam?,” tanya bapak yang menggendong noken Anggrek berbaju putih itu.

”Tiga Ratus Lima Puluh Ribu (Rp. 350.000) yang tempat tidurnya satu badan dan Empat Ratus Ribu (Rp. 400.000) yang tempat tidurnya dua badan,” jelas petugas hotel dengan bernada halus.

“Oke, kasih dua kamar yang harga Empat Ratus Ribu, tapi tolong kamarnya paling pojok ya?,” Pesan Bapak sambil tangannya membuka noken Anggrek, dalam plastik hitam ia menggambil satu ban berwarna merah, Rp. 10 juta.

Transaksi selesai, petugas mengantarnya ke kamar di lantai dua, nomor 105 dan 106, kamarnya paling belakang dari beberapa kamar yang berbaris.

Bapak sudah dalam kamar hotel, nomor 105. Petugas hotel, anak muda Papua itu kembali ke meja reception. Lima menit kemudian, Bapak tadi keluar dan menghampiri mobil yang ia keluar tadi.

“Ayo turun, kamar sudah ada,” ajak Bapak itu kepada orang yang ada dalam mobil itu.

Memegang plastik hitam turunlah dua wanita; montok dan cantik. Yang satu kurus tinggi berkukit terang, dua-duanya muda dan cantik berambut licin berwarna orange dan hitam, satu Bapak berusia hampir sama dengan Bapak tadi yang memesan kamar hotel. Nampak bercelana panjang rapi, bertopi koboy hitam, ya rapi. Dua wanita muda, melewati wajah reception dengan reaksi membuang wajah. Mereka malu-malu menghampiri tempat reception dan naik ke lantai dua, menuju kamar 105 dan 106.

“Ade, ini beli rokok,” jelas Bapak yang memesan kamar tadi sambil ulur tangannya mengikuti dua wanita dan temannya dari belakang. Dia memberikan dua ratus ribu kepada anak muda Papua yang sedang bertugas malam.

Pasangan tua dan muda sudah diam dalam kamar nomor 105 dan kamar 106, tempat tidur besar, dua badan, ruang ber-AC. Sopir asal timur turun dari mobil; dengan perlahan mendekati meja reception, mereka dua saling sapa dan diskusi. Om sopir orang timur, tapi ia lahir dan besar di Papua.

”Sobat, nginap satu malam berapa,” tanya sopir Timur yang membawah Bapak dua dan dua anak muda tadi, ia hanya ingin bertanya.

“Tiga ratus ribu yang tempat tidurnya satu badan dan dua badan Empat Ratus Ribu,” balas anak muda Papua kepada om sopir itu.

“Oh, baru tadi Bapak dong pake kamar yang berapa?,” om Sopir balas tanya.

“Yang empat ratus om,” balas anak muda yang sudah lama menjadi karyawan.

“Om, baru tadi mereka dari mana itu,” tanya anak muda Papua.

“Bapak dua itu dari pedalaman, dong dua pake sa pu mobil bayar Lima Juta Rupiah,” balas om sopir.

”Oh, paitua tadi itu dia isi uang banyak di tasnya (noken Anggrek) tu,” heran anak muda Papua melihat uang tadi.

”Mereka punya dana desa baru cair,” balas om sopir.

“Bapak tadi itu Kepada Desa kah apa?, ” balas kaget anak muda sambil ia merokok santai, bercerita dengan om sopir, tiba-tiba akrab.

“Iyo, keduanya Kepala Desa itu,” balas santai om Sopir Timur sambil duduk di kursi kulit sebelah kiri dari posisi duduk petugas hotel Jepara.

“Baru wanita muda dua itu dari mana?,” Tmtanya penasaran dari anak muda yang jaga reception hotel merasa kalah dari dua Bapak tadi.

”Tadi paitua itu telefon kenalannya, baru kami jemput di pangkalan ojek,” balas om Sopir menjelaskan perjalanan mereka tadi.

“Kayaknya masih sekolah itu,” jelas karyawan hotel memastikan status dua perempuan yang masuk tadi.

“Yang agak tinggi itu baru selesai SMA, tidak ada biaya kuliah jadi belum lanjut kuliah. Terus, yang agak pendek itu, baru SMA kelas III, tapi sudah putus sekolah karena kedua orang tuanya di kampung meninggal. Katanya begitu tadi mereka dua cerita, saya tanya tadi waktu paitua satu Dmdia cek kamar itu,” jelas om Sopir sambil merokok, sedikit ngantuk.

Kini sudah jam sebelas lebih tiga puluh, tengah malam. Cukup lama duduk bercerita, karyawan hotel Jepara, anak muda Papua dan om Sopir asli Timur yang suka lintas pedalaman Papua inj. Handphonenya berdering, ternyata dari Bapaknya kamar 105. Bapak itu bilang Sopir harus pulang dulu, besok pagi kembali jemput.

“Ade, kaka pamit ke rumah, dong di atas bilang pagi baru datang jemput,” pamit om Sopir kepada piket malam di hotel Jepara.

“Baik om, hati-hati, selamat malam,” balas santung ala seorang karyawan hotel yang memang sudah latih.

***

Hujan rintik sudah berhenti beberapa menit lalu, sedikit lagi jam dua belas malam. Nabire tidak seperti kota lain, biasanya jam sembilan sudah sunyi, apalagi hujan, cepat sekali sunyi dihadirkan orang-orang Nabire. Basah masih terlihat di atas kulit aspal; sejumlah ruas jalan Nabire, dari arah jalan Bumi Wonerejo [BMW] menuju wilayah Pasar Karang Tumaritis nampak sunyi sepi. Sebelum SMP Negeri II, sebelah kiri terlihat beberapa orang sedang menjual Pinang sambil mengunya pinang, komar kamir, sebelahnya lebih dari lima orang berdiri, masuk dalam rumah seng, ada tempelkan angka-angka; ya markas togel!.

Sampai wilayah pasar Karang Tumaritis, tubuh yang kosong, hitam, melipat tangan di antara kedua kaki, ia berbaring Pistol depan toko Sumber Abadi, samping pertigaan pasar Karang Tumaritis, biasanya warga Nabire menyebut Iyai, nama seorang pria suku Mee asal Dogiyai yang terkenal karena sakit jiwa, sering ia berjalan tanpa busana. Semua terlihat, kadang ia menjadi bahan ketawa dan bahan menyedihkan.

“Kasihan, kenapa harus ada orang yang sakit jiwa? Kenapa orang-orang punya uang tidak peduli dia? Kasihan,” pikir om Sopir Timur sambil mengemudi mobilnya pulang ke rumahnya. Rumahnya di terletak di jalan Boduda, Auri, Karang Timur.

Keesokan paginya, om Sopir sudah bangun jam 05.30 WP, ia putar teh sambil makan roti kering buatan istrinya di rumah. Anak mereka baru satu, pria kecil. Om Sopir sudah bersiap untuk kembali menunggu Bapak berdua dan wanita muda itu di depan hotel Jepara.

Mesin mobil sudah panas, nyala selama 30 menit lebih lamanya. Waktu sudah pukul 06.25 WP, ia tarik gas menuju hotel Jepara.

“Pagi ade bos,” sapa om Sopir setelah parkir mobil di tempat semula. Sopir itu sudah siap depan hotel pukul 06.30 WP.

”Pagi om, sudah ke sinikah, ada panggilankah?, balas sapa petugas hotel, anak muda Papua itu. Walaupun capek, ia masih tersenyum, ia mencintai pekerjaannya menjadi karyawan hotel.

”Kepala Desa dua dalam telefon pagi-pagi, katanya datang antar ade dua yang tadi malam itu pulang jadi saya kemari lagi,” balas om Sopir dengan nada bisik, dua pemuda non Papua; karyawan hotel sedang menyapu depan hotel hingga dalam, dekat reception.

“Baik om,” balas petugas hotel yang sedikit lagi pulang. Sudah ngantuk dan sedikit lagi tidur, biasanya pukul 07.00 WP gantian karyawan, ceritanya.

Waktu telah pagi, benar-benar cerah. Handphone om Sopir berdering lagi, ternyata panggilan telefon dari Bapak dari dalam hotel kamar 105.

“Di mana aopir?,” tanya bapak dari dalam kamar hotel di balik selulernya.

“Saya di depan hotel pak,” balas Sopir.

Dua wanita muda yang kemarin keluar dari hotel kamar 105 dan kamar 106. Sopir sementara cerita dengan petugas hotel, datanglah wanita muda yang agak montok menunggu temannya yang agak kurus, cantik berlambut hitam. Ia duduk di kursi reception sebelah om Sopir, menunggu temannya yang sebentar lagi akan keluar.

”Baru teman, ko bagaimana?,” tanya om Sopir kepada wanita gode bercelana jean ketat pada kulit bokong, berbaju merah berleher krak.

”Sa ada telefon, sedikit lagi dia datang om,” balas wanita muda dengan wajah pucat kuning, akibat belum istirahat malam.

Bunyi langkah sendal jepit terdengar keluar, tanda ia sedang turun dari tangga-tangga kayu. Hmmm, wanita kurus, berkulit terang wajah muda padat itu datang, lalu mereka akan pergi.

“Sobat pamit jalan dulu,” sapa om Sopir kepada petugas hotel yang penuh semangat kerja.

”Ok baik, sampai jumpa lagi om,” balas petugas hotel yang sudah bercerita banyak soal operasional hotel Jepara dan tamu-tamunya.

Om Timur, sopir lintas putar setir mobilnya melaju arah kota, melalui wilayah Kali Bobo. Dalam perjalanan, cerita bisik dan tawapun terdengar di antara kedua wanita dibalik om Sopir, di kursi tengah itu.

”Kamu dua cerita apa,” tegur om Sopir, sambil senyum tipis.

”Trada om, hanya ketawa paitua dua tadi malam. Hahahahaa,” jawab wanita berpipi tebal, montok sambil tersenyum, suka berkata dan sedikit cerewet.

”Oh, emang mereka dua kenapa jadi?, tanya om Sopir semakin penasaran.

”Trada om, biasa permainan kampung dan kota bertemu, kwkwwkwkw,” balas wanita montok itu, ketawa berbahak-bahak, diikuti temannya dengan ketawa kecil.

“Baru tadi malam, paitua desa dua itu kasih kamu dua berapa-berapa?, tanya om Sopir, matanya fokus di kaca spion dalam mobil.

”Paitua dong dua kasih sepuluh juta (Rp. 10 juta) satu orang om,” balas santai wanita muda berbaju merah berleher krak itu agak cerewet, teman kurusnya suka diam, hanya ketawa dan senyum-senyum malu.

”Wissshhh…. Lumayang itu,” kaget respon om Sopir melempar senyum lewat kaca spion penumpang.

“Baru ade dua mau turun di mana,” tanya om Sopir setelah usai bertanya-tanya.

”Tempat yang kemarin saja om, tempat om mereka jemput tu,” balas wanita muda itu dengan singkat sambil ia merapikan rambut orangenya.

“Ok baik,” balas singkat om Sopir. Lama ia narik menjadi sopir lintas Nabire ke Paniai dan sebaliknya.

Ia kembali ke hotel Jepara setelah antar, anak muda Papua yang bersemangat itu sudah pulang rumah, mungkin sudah tidur. Matahari sudah naik sebelah kepala. Waktu sudah pukul 08.30 pagi. Bapak dua sudah menunggu depan hotel, mereka sudah rapih menggendong masing-masing tas.

Sopir Timur mengantarnya ke rumah masing-masing; rumahnya agak jauh dari pusat kota, kurang lebih lima kilometer. Sesampainya di rumah, anak dan istrinya menjemput dengan senang dan sukaria.

“Bapak baru tiba dari luar Papua,” jelas bapaknya kepada anak-anak dan istrinya setelah satu minggu lebih tidak pulang rumah.

“Uuuhhhh…….,” Mendengarnya, sopir timur itu hanya menarik napas dalam dada di atas mobil, lepas melalui hidungnya karena heran atas pembohongan itu.

Ia berpulang ke rumah. Piiipppp…. Bunyi klakson mobil, tanda pamit pulang!!

Cerita ini hanya fiksi yang ditulis oleh Nomensen Douw, wartawan wagadei.com. Jika ada kesamaan nama tokoh, lokasi dan lainnya jangan ditanggapi serius.

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *