Warga Distrik Yamor, Kabupaten Kaimana rindu hadirnya Pemerintah, Pendidikan dan Kesehatan

  • Bagikan

Kaimana, [WAGADEI] – Warga Distrik Yamor di Kabupaten Kaimana, Papua Barat mengakui hingga saat belum pernah mengenal Pemerintah. Sekalipun daerah itu telah ada kantor Distrik namun sentuhan pelayanan tak pernah dirasakan pihaknya. Bahkan itu terjadi bertahun-tahun belakangan ini.

Hal itu disampaikan Kepala Suku Yamor, Obet Maniba kepada wartawan wagadei.com yang berkesempatan memantau perkembangan daerah itu pada Jumat, (16/7/2021) lalu. Kesempatan itu pantauan wartawan wagadei.com di kantor Distrik Yamor tidak ada Kepala Distrik serta staf.

Menurut Obet Maniba selain adanya pelayanan pemerintahan, juga belum merasakan pendidikan dan kesehatan yang layak.

“Hidup kami begini sudah, hidup kami memang tidak pernah mengenal pemerintah, walau sudah lama ada pemerintah,” ujar Obet Maniba menceritakan.

Kabupaten Kaimana adalah salah satu kabupaten di Provinsi Papua Barat, Indonesia. Kabupaten Kaimana berdiri berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Sarmi, Kabupaten Keerom, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Waropen, Kabupaten Kaimana, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Mappi, Kabupaten Asmat, Kabupaten Teluk Bintuni, Kabupaten Wondama di Provinsi Papua (Lembaran Negara Tahun 2002 Nomor 124, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4245).

Ia juga menceritakan pihaknya tak pernah merasakan pelayanan kesehatan yang layak maupun pendidikan yang memadai padahal Indonesia telah merdeka puluhan tahun silam.

‘Sebenarnya, di sini kami rindukan adanya pelayanan Puskesmas yang layak, sekolah dan guru yang menetap” ungkapnya.

Selain itu pihaknya juga ingin tata wajah kota, jalan darat harus beraspal dan bantuan permukiman.

Potensi pariwisata di Kaimana tergolong sangat baik dan layak untuk dipromosikan. Objek wisata yang dimaksud antara lain Pulau Venu berpotensi pantai, diving, sunset, melihat langsung penyu bertelur, sedangkan Pulau Kilimala ada pantai, dan diving, Pulau Karawatu (spot diving), Tanjung Kinara (bird watching, sunset view, diving), Pulau Adi (agrowisata), Teluk Triton (best spot diving), Tanjung Bicari (lukisan kuno di tebing, wisata Hiu Paus), Jembatan KM 14 (bird watching), Pantai Bantemi (sunset view), Air Terjun Kiti-kiti, Air Terjun Karawawi, Air Terjun Werifi, Jembatan Usaha Mina (pancing mania, sunset view), suasana hari Raya Lebaran (hadrat pesta rebana), dan lainnya.

Ia juga berbicara bahwa ketika musim politik seperti Pilkada maupun Pileg tiba, banyak orang datang dengan membawa “gula-gula” politik yang manis namun realisasinya tak pernah kunjung tiba. Seperti DPRD daerah pemilihan distrik tersebut, tak pernah ada kontribusi yang diberikan ketika duduk di kursi empuk.

“Kami tuntut sama DPRD Kaimana yang diangkat dari suara masyarakat Distrik Yamor bahwa jangan tinggal bingung di tempat, harus menuntut keras kepada Bupati atau dinas terkait supaya ada perubahan dusun kami,” ujarnya tegas.

Kesempatan itu ia mengaku tak pernah ada kunjungan kerja dari Bupati hingga DPRD. “Harusnya sekali-kali harus turun ke daerah terpencil untuk mendengarkan keluhan-keluhan masyarakat,” ujarnya.

Pihaknya beruntung tak pernah ada kendala apapun. Kehidupan masyarakat distrik Yamor aman-aman saja, tidak pernah dilanda musibah atau penyakit bersifat menular seperti malaria, frambusia dan lainnya. Sejauh ini tidak pernah jalankan pelayanan pengobatan, padahal pengobatan esensial kepada masyarakat terpencil ada.

Salah warga setempat, Alfridus Maniba menyatakan masalah demografi, geografi, SDM negeri Kaimana kedepan sehingga diharapkan kepada Pemerintah agar diperhatikan serius.

“Bila perlu Pemda melindungi agar tidak kemunduran dan kemiskinan bertambah jauh,” ujarnya.

Ia mengaku, sudah cukup lama Pemda setempat telah mekarkan distrik tetapi kehidupan masyarakat seperti primitif maka perlu kontrol atau menegur kepala Distrik agar menjalankan roda pemerintahan yang benar.

“Jadi, masyarakat kota maupun di daerah terpencil sama-sama merasakan apa itu kata pemerintah, harus seimbang tidak boleh satu turun-satu naik,” pungkasnya. [*]

Reporter: Norbertus Douw
Editor: Aweidabii Bazil

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *