Akselerasi Kelulusan Mahasiswa Kedokteran: Solusi Hadapi Covid-19 di Papua

  • Bagikan
Dokter Benyamin Lagowan - ist

Oleh: Benyamin Lagowan

Martin, 26, mengharapkan untuk memulai residensi kedokteran keluarga di University of Massachusetts Medical Center musim panas ini, setelah lulus dari University of Massachusetts Medical School (UMMS). Tetapi dengan lonjakan kasus COVID-19 yang diperkirakan akan melanda negara bagian dalam beberapa minggu mendatang, sekolah mengizinkan Martin dan teman-teman sekelasnya untuk lulus pada 31 Maret, sehingga mereka dapat mulai bekerja sebagai penghuni tahun pertama di sistem rumah sakit UMass.

Begitulah cara Martin pada 8 April mengenakan jas putih, menelepon ke kamar pasien virus corona dan mencoba nama baru untuk pertama kalinya [1].
Demikian juga dialami oleh Robert Casals seorang mahasiswa tahun terakhir kedokteran di New York. “Saya katakan padanya, Mijo , Anda adalah seorang prajurit berseragam putih. Ini seperti perang biologis, dan Anda semua seperti tentara di garis depan ini,” kata Wilfredo ayah Casals dalam bahasa Spanyol. “Sekarang dia akan menjadi dokter sejati yang benar-benar dapat membantu orang lain…” [1].

Martin dan Casals adalah mahasiswa kedokteran semester akhir masing-masing di University of Massachusetts Medical Center dan Vagelos College of Physicians and Surgeons Universitas Columbia. Mereka mengikuti kebijakan lulus lebih awal dari kampusnya untuk terlibat dalam penanganan pandemi Covid 19.

Prediksi dan perhitungan para pakar menjadi pedoman bagi tiap institusi pendidikan kedokteran Amerika meluluskan lebih awal mahasiswa kedokteran tingkat akhir. Mereka memahami bahwa pandemi Covid 19 adalah perang biologis yang harus dilawan secara serentak dengan kekuatan yang besar, dan itulah yang mendorong partisipasi semua pihak di negeri tersebut.

Di Amerika, berdasarkan catatan American Association Of Medical College (AAMC) 2021, terdapat 13 kampus kedokteran yang telah menerapkan sistem kebijakan tersebut. Sementara secara global kebijakan lulus lebih awal juga telah diterapkan di Kanada, Denmark, Jerman, Irlandia, Italia, Iran, dan Inggris untuk melayani dalam situasi pandemi ini [1].

Di Italia, 10.000 calon dokter dibebaskan dari ujian kompetensi dan diterjunkan langsung kepada fasilitas layanan kesehatan guna membantu menangani pasien Covid 19 yang sedang meningkat pesat [2]. Di Inggris sekolah kedokteran telah diberi wewenang oleh kementerian kesehatan untuk dapat meluluskan mahasiswa tahun terakhir untuk melawan Covid 19. Ada 5.000 mahasiswa kedokteran telah ikut ambil bagian di dalamnya [3].

Awal bulan ini Anthony Javed Machikan sedang belajar keras untuk ujian medis tahun terakhirnya yang berlangsung pada bulan Mei. Kemudian Royal College of Surgeons in Ireland (RCSI) mengumumkan bahwa mereka mempercepat ujian karena ancaman virus corona, memangkas waktu belajar dari tujuh minggu menjadi hanya tujuh hari.

“Itu adalah stres yang luar biasa,” kata Machikan. “Itu adalah kasus belajar selama 16 jam setiap hari…alhamdulillah saya lulus. Faktanya, sebagian besar dari kita melakukannya.” Di Irlandia ini, 1.300 mahasiswa Kedokteran telah diterjunkan segera sesaat setelah pandemi Covid 19 mengemuka. Mereka berasal dari 6 fakultas kedokteran di negeri itu [4].

Di Indonesia, wacana dan gagasan meluluskan mahasiswa kedokteran lebih awal pun mengemuka, meski cenderung “polisi bombay” alias lamban. Wacana dan aksi perekrutan relawan sudah mulai didengungkan sejak awal 2020 ketika Covid19 mulai masuk dan menunjukkan trend meningkat di Indonesia. Tetapi masih tidak terfokus pada upaya pelulusan mahasiswa kedokteran, masih bias diarahkan pula pada tenaga non medis. Upaya benar-benar dan serius baru terlihat pada penghujung bulan Juni 2021 ketika berbagai data memaparkan kenaikan signifikan kasus kematian akibat varian mutasi Covid 19 menimpa masyarakat maupun tenaga medis.

Data menunjukkan hingga 16 Juli 2021 kemarin terdapat 1.299 tenaga kesehatan telah meninggal akibat terpapar varian baru Covid 19. Mereka terdiri dari 491 dokter; 223 bidan; 11 Apoteker; 410 perawat; 5 sanitarian; 3 tenaga farmasi; 46 dokter gigi; 3 petugas ambulan; 8 rekam radiologi; 3 terapis gigi; 2 epidemiolog; 1 fisikawan medik; 1 entomolog; 34 ahli teknologi laboratorium medis; 3 elektromedik; dan 55 Lain-lain [5].

Setelah menyaksikan angka kematian ini barulah pemerintah Indonesia lewat Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Kementerian Kesehatan dll mulai menyuarakan wacana pelulusan mahasiswa melalui akselerasi atau lulus lebih awal. Sempat pula terdengar salah seorang anggota DPR ri yang menyatakan agar masyarakat awam pun dlibatkan dalam penanggulangan Covid 19.

“Mereka yang sudah di tingkat akhir dan tinggal menyelesaikan kewajiban akademis yang sifatnya administratif segera saja diluluskan. Mereka bisa segera ditugaskan untuk memperkuat ketersediaan tenaga kesehatan dalam menghadapi pandemi Covid-19 di Tanah Air,” ujar Syaiful Huda anggota komisi X DPR RI. Dia menyatakan, lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi saat ini tidak bisa dianggap enteng. Dia mengatakan beban tenaga kesehatan (nakes) terus meningkat seiring melonjaknya jumlah pasien Covid-19 [6] [7] [8].

Menanggapi permintaan DPR itu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pusat akhirnya angkat suara. Melihat Kasus aktif Covid-19 yang meningkat drastis dalam beberapa pekan belakangan membuat pemerintah kewalahan. Rumah sakit penuh dan ini berdampak pada kekurangan sumber daya manusia (SDM) tenaga kesehatan, khususnya dokter. Oleh karena itu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mendesak pemerintah segera penuhi kekurangan SDM dokter dengan mempercepat kelulusan mahasiswa kedokteran yang belum lulus uji kompetensi mahasiswa program profesi dokter (UKMPPD) [9].

“Jadi mahasiswa ini sebenarnya sudah lulus Fakultas Kedokteran tapi belum lulus secara UKMPPD. Ini segera diluluskan,” kata Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Slamet Budiarto, pada Rapat Dengar Pendapat Umum bersama DPR Komisi IX serta Kementerian dan Lembaga (K/L), Senin (5/7/2021).

Ia menyebutkan, mempercepat kelulusan UKMPPD ini diusulkan karena telah ada kesepakatan bersama antara Menko Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Menteri Kesehatan (Menkes), IDI, Konsil Kedokteran Indonesia, dan Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek). “Itu sudah sepakat untuk segera meluluskan dan diterjunkan untuk pelayanan,” kata Slamet [9].

Namun, demikian upaya untuk membantu kelulusan mahasiswa kedokteran ini masih terganjal di Dirjen Pendidikan Tinggi dan Riset Teknologi, yang mempertahankan ujian kompetensi sebagai syarat mutlak untuk menjaga mutu dan kompetensi lulusan.

Pemerintah khususnya kementerian pendidikan dan kebudayan melalui Dirjen Pendidikan Tinggi masih menganggap meluluskan mahasiswa calon dokter yang kini berjumlah hampir 3.500 yang menunggu ujian kompetensi sebagai bentuk melepas tanggung jawab. Padahal situasi pandemi ini sedang menjadi pembunuh berdarah panas di depan mata. Perang saat ini adalah perang tenaga kesehatan melawan virus Corona. Jika diperhatikan mestinya ini lah momentum yang sama dengan wajib militernya paramedis atau calon nakes dewasa ini sebagaimana wajib militer perang fisik konvensional di militer.

Apalagi Indonesia per hari ini, 22 Juli 2021 menjadi negara dengan angka kematian tertinggi nomor satu di dunia. Sebagaimana dilansir cnn. com hingga saat ini total kasus kematian Covid-19 tembus angka 77.583 orang. Angka positif menjadi 2.983.830 meskipun angka kesembuhan pun mengekor sebanyak 2.356.563 [10].

Di Papua, invasi Covid 19 cukup tinggi sejak periode pertama April 2020 lalu. Angka kematian dan kesakitan sempat mengalami lonjakan, meski kemudian dapat dinormalisasi setelah pemberlakuan “new normal” oleh otoritas pemerintah. Tetapi kasus terbaru akibat invasi varian baru SarCov 19 varian delta yang mutagenik pun sudah ditemukan di Papua. Lagi-lagi kasus pertama ditemukan di Merauke yang berarti varian ini masuk melalui Kabupaten tersebut. Kasus penemuan itu berawal dari 10 orang yang dinyatakan positif terkonfirmasi dari 12 orang yang dites [11].

Sampai dengan saat ini pemerintah daerah mulai kerepotan menghadapi varian virus hasil mutasi ini. Dalam sehari, banyak nyawa telah melayang. Banyak pula tenaga kesehatan terpapar. Berdasarkan data laman resmi situs covid 19.papua.go.id, angka pasien positif mencapai 29.047, angka kesembuhan sebanyak 23.743, sementara di rawat sebanyak 4.711 dan angka meninggal dunia sebanyak 578 orang [12]. Angka-angka di atas meningkat tajam dan signifikan di periode kedua invasi Covid mutasi saat ini. Trend peningkatan pun tidak menutup kemungkinan makin tak terkendali di masa depan. Apalagi melihat minimnya kesadaran mematuhi prokes, rendahnya cakupan vaksinasi, rendahnya fasilitas kesehatan dan alkes, semakin membuka lebar pintu ancaman paparan dan kematian yang meluas.

Rumah sakit mengalami kewalahan bukan saja soal ketersediaan vaksin, APD, infrastruktur kesehatan dan alat kesehatan tetapi juga tenaga kesehatan kompeten. Kita memaklumi, bahwa Papua bukan Jakarta, Papua bukanlah Wuhan, atau Papua bukanlah Provinsi Kelara di India, yang dari sisi sarana prasarana penunjang dan sistem kesehatannya sudah cukup memadai untuk menanggulangi pandemi berbahaya ini. Puluhan hingga ratusan tenaga kesehatan telah terpapar Covid 19 di RS Dok 2 yang merupakan RS terkemuka dan terbaik milik Pemprov Papua. Mereka akhirnya harus menjalani perawatan dengan Isolasi mandiri (ISOMAN) setelah beberapa orang diantaranya meninggal dunia. Sementara secara keseluruhan dikonfirmasi bahwa dalam rentang 1 bulan 158 Nakes di kota Jayapura telah terinfeksi Covid 19 [13].

Lantas apa solusi yang dapat diambil oleh institusi dan pemerintah daerah? Tentu pilihannya adalah penambahan anggaran, perbaikan fasilitas dan percepatan kelulusan mahasiswa kedokteran baik di jenjang profesi maupun di sarjana. Hal ini penting dan mendesak sebagaimana strategi yang sudah diakukan oleh beberapa negara di dunia di atas sejak tahun 2020 lalu.
Untuk upaya pelulusan mahasiswa lebih awal, jelas menunjukkan pentingnya kebijakan institusi pendidikan kedokteran setempat. Misalnya FK Uncen dan UnIpa. Ini kebijakan strategis simple yang dapat diambil tidak harus yang besar dan kompleks. Cukup membantu membuat akselerasi dan menjaga kelancaran rotasi kepaniteraan serta pengurusan administrasi di kampus tanpa menunjukkan embel—embel. Misalnya, langkah konkret yang bisa diambil adalah berupaya membantu mahasiswa klinik dan praklinik yang sudah sisa tahap akhir dengan memperpendek waktu kuliah maupun kepaniteraan klinik. Sementara pada ranah pemerintah daerah maupun pusat tetap mengupayakan menyuarakan penghapusan/ penangguhan sistem ujian UKMPPD mulai tahun ini hingga situasi pandemi teratasi.

Dalam mengupayakan strategi tersebut di atas, para mahasiswa dapat dibantu dengan tanpa menyuruh mengulangi siklus kepaniteraan yang terputus saat ditarik keluar untuk mengikuti sistem daring; mengurangi waktu dan memepetkan materi yang ada. Selain itu juga mahasiswa dibantu dengan metode tertentu yang lebih sederhana untuk segera menyelesaikan sisa stase/ residensi/ kepaniteraan dan sisa mata kuliah yang ada. Secara teknis dapat dipikirkan oleh lembaga dan komite yang terkait.

Selain itu, dalam kerangka penyediaan sarana yang memadai dalam upaya intensifikasi penanggulangan pandemi mematikan ini, pemerintah daerah Papua perlu memusatkan anggaran pada pengendalian dan penanganan wabah ini. Oleh karenanya wacana dan rencana pembangunan kantor pemerintah yang menelan biaya hingga ratusan milyar patut dipertimbangkan. Demikian pula pergelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua ke XX yang masih terus dipaksakan ditengah eksaserbasi pandemi Covid 19 adalah tindakan bunuh diri. Oleh karena itu harus dibatalkan demi kemanusiaan dan keselamatan seluruh elemen rakyat Papua.*

Referensi:
1. https://time.com/5820046/medical-students-covid-19/ (Diakses pada 19 Juli 2021).
2. https://www.newsweek.com/italy-coronavirus-covid-19-medical-students-1492996 (Diakses pada 20 Juli 2021).
3. https://www.bmj.com/content/368/bmj.m1227 (Diakses pada 21.Juli 2021).
4. https://www.irishtimes.com/news/education/coronavirus-hundreds-of-medicine-students-fast-tracked-into-fight-against-covid-19-1.4205676 (Diakses pada 21 Juli 2021).
5. https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/kematian-nakes-akibat-covid-19-melonjak-pada-juli-2021-ghPa (Diakses pada 21 Juli 2021).
6. https://www.google.com/amp/s/www.cnnindonesia.com/nasional/20210625190256-20-659566/dpr-bantu-nakes-percepat-kelulusan-mahasiswa-kedokteran/amp (Diakses pada 22 Juli 2021).
7. https://www.google.com/amp/s/kabartegal.pikiran-rakyat.com/news/amp/pr-932121877/covid-19-meledak-dpr-usulkan-langkah-darurat-segera-luluskan-mahasiswa-kedokteran (Diakses pada 22 Juli 2021).
8. https://www.google.com/search?q=dpr+luluskan+mahasiswa+kedokteran&sxsrf= (Diakses pada 22 Juli 2021).
9. https://www.google.com/amp/s/www.beritasatu.com/amp/kesehatan/796479/kekurangan-dokter-idi-desak-mahasiswa-kedokteran-segera-diluluskan (Diakses pada 22 Juli 2021).
10. https://www.google.com/amp/s/www.cnnindonesia.com/internasional/20210722065434-106-670612/kematian-covid-19-di-ri-kemarin-kembali-ke-posisi-1-dunia/amp (Diaskes pada 22 Juli 2021).
11. https://www.kompas.id/baca/nusantara/2021/07/20/varian-delta-terkonfirmasi-akses-masuk-ke-papua-akan-ditutup (Diakses pada 22 Juli 2021).
12. https://covid19.papua.go.id/ (Diakses pada 22 Juli 2021).
13. https://www.kompas.id/baca/nusantara/2021/07/22/dalam-sebulan-158-tenaga-kesehatan-di-jayapura-terpapar-covid-19 ( Diakses pada 22 Juli 2021).

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *