PHP Dev Cloud Hosting

Ricuh di Dogiyai; 1 tewas, 3 pemuda tertembak, 2 Paskhas terluka, sejumlah rumah dan kios warga dibakar

  • Bagikan

 

Jayapura, [WAGADEI] – Konflik di Dogiyai yang terjadi pada Kamis,[15/7/2021] itu telah menewaskan satu orang warga sipil sementara tiga pemuda tertembak, 2 anggota TNI Paskhas dari Yonko 463/Trisula terluka dan beberapa rumah milik warga dan kios kaum migran di Mowanemani, Dogiyai ikut dibakar.

Agustinus Tebai, Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah [DPRD] Dogiyai menjelaskan, kronologi insiden tersebut bermula dari beberapa pemuda yang melakukan pesta minuman keras [miras] di area runway Bandar Udara Moanemani lalu ditegur oleh anggota Satgas Paskhas dan terjadilah saling serang.

Akibat saling serang, Seorang warga meninggal terbakar di dalam kios bernama Hendrik Simatupang (40). Ia diduga tak bisa menyelamatkan diri, karena sedang sakit.

Ada pun korban luka-luka diantaranya dua anggota paskhas [Didik Prayudi, Atok Tri Utomo] terkena luka bacot , 3 pemuda orang asli Papua [Oktovianus Gane,Elias Edowai,Yuli Goo] tertembak tima panas, dan beberapa kios dan rumah warga di bakar.

Tebai menjelaskan, Pemerintah Daerah (Pemda) Dogiyai yang diwakili Wakil Bupati Oskar Makai bersama Ketua DPRD Dogiyai Elias Anouw beserta anggotanya, beberapa Kepala Distrik, korban dan pelaku sudah bertemu dengan Wakapolres Nabire dan Dandim di Polsek Moanemani untuk membahas insiden Dogiyai.

“Bersama Wakil Bupati, DPRD, beberapa Kepala distrik, korban juga pelaku sudah ketemu Wakapolres Nabire dan Dandim. Kami sudah sepakati beberapa, diantaranya berdamai dan jangan lagi ada penyisiran yang meresahkan warga, tiga korban pemuda dirawat dan didampingi Pemda, kerugian material ditanggung Pemda, dan jenasah yang terbakar juga dibantu Pemda untuk pemakaman dan duka,” kata Tebai kepada wagadei.com melalui keterangannya, Sabtu, [17/7/2021].

 

Demi jaga situasi di Dogiyai yang aman dan damai menurut dia, aparat keamanan gabungan di Dogiyai tidak boleh seenaknya ambil tindakan untuk menembak warga.

“Tegur boleh, tapi jangan lagi memakai senjata untuk menembak. Situasi akan semakin parah kalau itu dilakukan,” tegasnya.

Ia berharap, kedepan perlu evaluasi kembali dalam tugasnya sebagai menjaga keamanan daerah supaya masyarakat jangan jadi korban lagi.

Mantan Ketua BEM Uswim Nabire ini mengatakan, untuk miras pihaknya sudah buat peraturan daerah [Perda] No.08 tahun 2018 tapi sampai hari ini belum keluar nomor registrasi di tingkat Provinsi Papua.

“Pelarangan Miras kami sudah buat Perda. Masyarakat juga pada saat demo sudah menyerahkan aspirasi rakyat kepada Pemda. Sehingga Pemda bersama masyarakat harus bentuk satgas pengamanan miras supaya daerah kita Dogiyai aman dari permasalahan dan kasus-kasus yang disebabkan karena Miras,” tuturnya.

Reporter: Theresia F.F. Tekege
Editor: Aweidabii Bazil

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *