Menulis untuk melawan lupa, FK-PMLHK Jayapura gelar Seminar sehari

  • Bagikan

Jayapura, [WAGADEI] – Menggali minat menulis dalam rangka melawan lupa, Forum Komunikasi Pelajar Mahasiswa Lembah Hijau Kamu (FK-PMLHK) kabupaten Dogiyai di Jayapura gelar seminar sehari, bertempat di asrama Servia Kamu, Perumnas I, Waena, Kamis (15/7/2021).

Seminar dengan jumlah peserta 69 mahasiswa itu menghadirkan dua pemateri, Philemon Keiya, mantan wartawan Tabloid Jubi, membawakan materi cara menulis berita dan Benediktus Agapa, wartawan aktif Suara Meepago, membawakan materi tentang panduan menulis berita.

Kegiatan ini sendiri diselenggarakan oleh FK-PMLHK bagian seksi Sumber Daya Manusia (SDM).

“Tujuan kegiatan ini digelar untuk mahasiswa supaya melawan lupa akan semua peristiwa yang terjadi di alami oleh orang Papua. Contohnya, kasus Paniai berdarah dan seterusnya,” ujar Melkianus Tebai, kordinator atau ketua seksi SDM FK-PMLHK kepada wagadei.com disela-sela kegiatan.

Cara melawan lupa, dikatakan, yakni dengan kembali menulis peristiwa-peristiwa itu dan juga agar dapat menulis peristiwa-peristiwa yang akan terjadi dirasakan sendiri maupun orang lain, khususnya tentang orang Papua.

“Jadi ini salah satunya. Banyak kegiatan lain  sudah kami buat juga dalam rangka melawan lupa ini. Bikin pelatihan-pelatihan, terus diskusi-diskusi tiap minggu. Kedepan pun kami akan buat terus,” tuturnya.

Philemon Keiya, usai menyampaikan materi, meminta peserta kegiatan harus bisa untuk memulai belajar menulis tentang apa saja yang menjadi kegelisahan agar disampaikan dalam bentuk tulisan.

“Menulis itu salah satu bentuk demo yang paling terbaik. Tidak merugikan orang lain dan juga diri kita sendiri. Menulis juga merupakan aksi paling bermartabat, dimana maksud kita yang kita sampaikan melalui tulisan dapat didengar dimana-mana. Maka saya harap kalian harus mulai belajar untuk menulis,” ujar Keiya.

Apalagi, menurutnya, realita hari ini di Papua sarat persoalan, baik di bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya yang telah didominasi atau dikuasi non Papua.

“Hal seperti ini harus ditulis sebagai bentuk aspirasi yang kita sampaikan lewat tulisan. Juga penting adalah persoalan pelanggaran HAM yang sampai sekarang tidak pernah ada titik penyelesaian,” imbuhnya.

Ia pun menekankan agar ketika menulis, tidak minder alias malu dengan hasil tulisan karena itu merupakan proses yang harus dijalani. Lanjut Keiya menerangkan, untuk menulis tidak harus menjadi wartawan.

“Menulis tidak harus jadi wartawan. Banyak cara kita bisa tulis, tulis opini, artikel dan apa saja. Tapi untuk memulai tulis tidak usah langsung hal-hal besar, mulailah dari hal-hal kecil. Tulis kegiatan sehari-hari kalian, misal seperti itu,” pesannya seraya berharap apa yang disampaikan dapat dipraktekkan sesuai ilmu diberi.

Dikesempatan itu, Natan, wakil ketua FK-PMLHK mengaku sangat senang kegiatan berjalan lancar.

“Luar biasa panitia yang sudah bikin kegiatan ini. Kami harap kedepan kegiatan seperti begini dapat digelar lagi. Dan kepada peserta, kami minta materi-materi serta pesan yang sudah disampaikan dua pemateri bisa di praktekkan. Ini yang penting. Dan terakhir kepada kedua pemateri terimakasih sudah luangkan waktu untuk berbagai ilmu dengan kami,” bebernya. [*]

Reporter: Yulianus Magai

Editor: Glow

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *